Digerus Bahasa Banjar, Penutur Bahasa Berangas yang Kian Langka

DULUNYA bahasa Berangas menjadi bahasa ibu bagi para pemukim di daerah aliran Sungai Alalak, Banjarmasin dan Barito Kuala (Batola), hingga menyebar ke Kalimantan Tengah. Sayang, kini, penutur bahasa subetnis Dayak Ngaju versi sejarawan Dayak, Tjilik Riwut, kian tergerus hingga terbilang langka.

BANYAK peneliti bahasa menyakini bahasa Berangas berasal dari Belandean atau Ujung Panti, saat erat dengan cikal bakal Kesultanan Banjar di Muara Kuin, Banjarmasin. Termasuk, Balai Bahasa Provinsi Kalsel pun mencatat bahasa Berangas termasuk bahasa daerah yang terancam punah.

Dari akar budaya dan kosakata, bahasa Berangas sangat dekat dan satu rumpun dengan bahasa Banjar dan bahasa Kahayan (Dayak Ngaju) dan Bakumpai. Berawal dari wilayah yang dulu di era kolonial Belanda disebut Alalak Besar, mencakup Muara Anjir, Berangas, Alalak hingga ke Tabunganen, merupakan wilayah penutur bahasa Berangas. Hingga para penutur bahasa Berangas menyebar ke Kota Sampit, Kotawaringin Timur, Kalimantan Tengah, terutama di daerah Baamang, Samuda, dan lainnya. Lalu, ada pula penutur di Mendawai, Arut Selatan (Kotawaringin Timur) hingga ke Surabaya, Jawa Timur.

BACA : Bahasa Dayak Ngaju Berakar Sama dengan Melayu

Salmi Misbah, salah satu tokoh masyarakat Alalak Utara, Banjarmasin meyakini para penutur bahasa Berangas sangat erat dengan peran enam tokoh, yang merupakan Datu Isran, datuknya orang Alalak. Yakni, Datu Dima, Datu Jamai, Datu Huting, Datu Marhaban, Datu Jawa, dan Datu Rangas. Mereka ini yang menyebar, dan keturunannya menjadi penutur bahasa Berangas.

“Dari enam datu itu, hanya Datu Marhaban yang menjadi pendakwah Islam. Sedangkan, Datu Jawa yang tak diketahui nama aslinya itu memilih merantau ke Pulau Jawa untuk berdagang. Makanya, diberi gelar Datu Jawa. Bukan berarti berasal dari Jawa,” tutur Salmi Misba kepada jejakrekam.com, belum lama tadi.

Pengasuh Ponpes Sirathol Tholibin Alalak Utara, Ustadz Jailani mengaitkan jika enam Datu Alalak ini masih terkait dengan seorang petinggi Kerajaan Negara Dipa, Pangeran Surya Merpati. Baik Salmi maupun Ustadz Jailani tak memungkiri jika bahasa Berangas terus tergerus, akibat amalgamasi hingga berganti para penuturnya dengan bahasa Banjar Kuala.

BACA JUGA : Hikayat Sang Penyusun Kamus Bahasa Banjar, Prof Djebar Hapip

Menurut Salmi, kedekatan kosakata bahasa Berangas dengan Banjar, memang memudahkan para penunturnya dalam berkomunikasi. Padahal, beber Salmi, bahasa Berangas memiliki kosakata yang variatif untuk menyebut satu benda.

Dia mencontohkan sebutan kata benda botol, dalam bahasa Berangas kuno disebut bakam, lalu ketel (teko) dan cirat, sama dengan bahasa Banjar. Begitupula, dalam penyebutan arah, tidak menggunakan istilah mata angin barat, timur, selatan dan utara. Namun, sama dengan bahasa Banjar dan Bakumpai, mengenal arah sungai. Jika hulu sungai disebut dengan da’i, dan hilir bersinomim dengan laut.

“Ya, perubahan hingga makin berkurangnya penutur bahasa Berangas itu terjadi sekitar tahun 1980-an. Padahal, sewaktu banyak sekolah di wilayah Alalak Besar, baik era kolonial Belanda maupun kemerdekaan, bahasa Berangas masih menjadi bahasa keseharian dalam percakapan di sekolah. Kini, para penuturnya bisa dihitung jari,” tutur Salmi.

Padahal, dalam bahasa Berangas juga dikenal strata untuk lawan bicara. Jika berbicara dengan orang yang lebih tua, digunakan kata ulun (saya) dan pian (kamu) sama dengan bahasa Banjar. Sedangkan, bagi lawan bicara setara, cukup menggunakan kata yaku (aku) dan ikau (kamu). Untuk jamak, kata kalian dalam bahasa Berangas sama dengan bahasa Dayak Ngaju, menjadi ketoh, atau kita (itah) atau alen untuk penyembutan satu kelompok atau komunitas.

BACA LAGI : Walau Tak Punya Aksara, Bahasa Banjar Kaya dengan Karya Sastra

Ustadz Jailani mengakui para penutur bahasa Berangas makin langka, akibat kurangnya kebanggaan dengan identitas diri sebagai warga asli Alalak. Ini akibat adanya stereotip, bahasa Berangas telah ketinggalan zaman atau sebagai suku yang terasing atau terpinggirkan di tengah kuatnya dominasi bahasa Banjar. Ini ditambah, warga Alalak dimasukkan dalam kelompok suku Banjar asli di Kalimantan Selatan.

“Jelas, ini memprihatinkan. Apalagi, sekarang para penutur bahasa Berangas itu rata-rata sudah berusia tua. Sedangkan, kalangan mudanya, lebih senang menggunakan bahasa Banjar dalam kesehariannya,” tutur Ustadz Jailani lagi.

Begitupula, Salmi Misba meyakini sebutan uluh masih (orang melayu) yang turut mendirikan Kesultanan Banjar yang diawali Pangeran Samudera atau Sultan Suriansyah, tak terlepas dari peran orang-orang Alalak dengan tokoh Belandean, Patih Balit. “Masih itu bersumber darikata magun dalam bahasa Berangas yang berarti menetap. Ya, karena waktu itu, Muara Kuin banyak ditempati para pedagang asal pulau seberang, terutama Sumatera atau sisa-sisa dari Kerajaan Sriwijaya,” urainya.

“Kebanyakan para pedagang di Pasar Terapung Muara Kuin juga berasal dari orang-orang Alalak. Ini sudah berjalan secara turun temurun sejak awal berdirinya Kesultanan Banjar sampai sekarang. Jadi, interaksi ini juga berpengaruh terhadap kultur orang Alalak,” tutur Salmi.

BACA LAGI : Antropolog UIN Antasari : Salah Kaprah, Justru Masyarakat Dayak Itu Pelestari Hutan

Hingga akhirnya Islam datang ke Tanah Banjar, dan turut menyebar ke pedalaman Sungai Alalak lewat para pedakwah awal era Khatib Dayan, dan diteruskan para pelanjutnya seperti Datu Kayan atau Datu Khayan (Sayyid Abdurrahman Assegaf Al Bukhayyan), turut mempengaruhi kultur orang-orang Alalak atau Berangas.

“Ya, secara budaya orang Alalak asli itu sangat kental dengan kultur Dayak. Seperti orang Bakumpai, dulu juga pengobatan  melalui ritual balian. Namun, begitu Islam datang, ritual semacam itu lambat laun hilang, diganti dengan tradisi baratip bejalan untuk menolak bala diisi pembacaan doa dan membawa Kitab Hadits Sahih Bukhari, salah satu contohnya,” tuturnya.(jejakrekam)

 

Penulis Didi GS
Editor Didi G Sanusi
Subscribe to our newsletter
Sign up here to get the latest news and updates delivered directly to your inbox.
You can unsubscribe at any time