Digarap Dua Bulan, Jembatan Pangeran Disentuh Lukisan Mural Sasirangan

USAI Jembatan Merdeka yang dicat bermotif sasirangan dengan gaya airbrush, kini giliran Jembatan Sungai Pangeran disentuh lukisan mural kain khas Banua itu. Penggarapannya ditaksir akan memakan waktu sekitar dua bulan ke depan, hingga nanti saat Hari Jadi Kota Banjarmasin ke-493, pada 24 September 2019 bisa dinikmati.

MODEL motif mural sasirangan yang dipakai pun bernuansa tempo dulu. Dengan model gunung-gunungan dan alur sungai, khas kain sasirangan.

“Ada nilai filosofi yang ingin ditonjolkan dalam mural sasirangan di Jembatan Pangeran ini. Ya, ada model gambar gunung menggambarkan Pegunungan Meratus, serta sungai yang menjadi ciri khas Banua. Sudah empat hari kami melukisnya di  bagian underpass jembatan ini,” ucap Poniman (65 tahun), sang pelukis yang dibantu lima pekerjanya saat menggarap pembuatan mural sasirangan di Jembatan Pangeran kepada jejakrekam.com, Selasa (9/7/2019) malam.

BACA : Lukisan Mural Wajahnya Dicoret, Walikota Ibnu Sina : Itu Hanya Aksi Usil

Di tengah temaran lampu sinter di bawah Jembatan Pangeran, tampak Poniman bersama para pekerja lainnya melulis motif sasirangan yang telah dipilih Pemkot Banjarmasin. Bermodal kuas dan cat tembok, beberapa coretan vandalisme pun ditutup dan diganti dengan gambar motif sasirangan.

Pelukis ototidak yang mengaku belajar dari maestro pelukis Banua, Misbach Tamrin menjelaskan hanya sebagai pekerja borongan, karena setiap meter di Jembatan Pangeran yang dilukis dihargai Rp 30 ribu.

“Sesuai permintaan, sepertinya seluruh bagian dari Jembatan Pangeran ini akan dilukis mural sasirangan secara detail. Tak hanya bernilai seni dan budaya, juga untuk menghilangkan coret-coretan yang ada di Jembatan Pangeran,” tutur Poniman.

BACA JUGA : Ekspresikan Pesan Visual di Tembok KPU Kalsel, Inilah Juara Lomba Mural

Meski berdarah Yogyakarta, pria yang tinggal di Sungai Andai, Banjarmasin Utara ini mengaku mendalami seni lukis dan budaya Banjar dan Dayak secara mendalam. Ini karena sudah puluhan tahun tinggal di Banjarmasin, dan telah mendarah daging seni tradisi khas Banjar.

“Ya, karena penggarapannya harus detail, mungkin baru dua bulan bisa selesai. Kami dituntut menyuguhkan lukisan khas sasirangan yang memiliki nilai seni tinggi dan ada pesan moral di dalamnya,” papar Poniman.

Menurut dia, dari setiap motif sasirangan itu memiliki nilai historis, budaya sekaligus magis, karena dipercaya sebagai kain penyembuhan. “Jadi, jika Jembatan Pangeran ini sudah bercorak sasirangan, tentu bisa mengangkat nilai seni sekaligus promosi kain khas Banjar ini,” tuturnya.

BACA JUGA : Pesan Graffiti di Taman Sari, Sepatutnya Aksi Bomber Diberi Tempat Khusus

Berpengalaman sebagai pemenang lomba perahu hias era Gubernur Kalsel Sjachriel Darhman dan Walikota Sofyan Arpan, dengan model perahu naga kembar Si Rintik dan Si Ribut, saat bertempur di Sungai Tapin, Poniman ingat betul banyak legenda dan nilai luhur yang diajarkan para leluhur pada generasi Banjar.

“Makanya, dalam setiap menggarap sebuah seni, saya harus paham betul apa yang ingin disampaikan. Begitupula, dalam seni mural sasirangan semacam ini. Jadi, bukan asal-asalan,” ucap Poniman.

BACA LAGI : Seniman Grafiti Tagih Janji Walikota Banjarmasin Sediakan Tawing Bomber Khusus

Menurut dia, saat menggarap relief ukiran Dayak di Pintu Gerbang Batas Kalsel dan Kalteng di Anjir Muara Km 13,5, nilai-nilai yang diajarkan dalam seni itu pula yang diaktualisasikan dalam bentuk karya seni.

“Memang, dalam seni lukis, saya tumbuh secara alami saja. Saya pernah belajar dengan Pak Misbach Tamrin, pelukis asli Kandangan yang telah mendunia itu. Dari Pak Misbach, saat menggarap taman relief di belakang Gubernuran Kalsel, pesan-pesan dalam lukisan dinding itu yang harus ditonjolkan,” paparnya.

Poniman pun berharap karya lukis mural di Jembatan Pangeran nantinya bisa menjadi landsmark Banjarmasin yang baru. Apalagi, saat ini, publik sangat membutuhkan model bangunan yang memiliki ciri khas untuk swafoto atau lainnya.(jejakrekam)

Penulis Arpawi
Editor Didi G Sanusi