FKPT Kalsel Kunjungi Kalteng Pos

DITERIMA pimpinan redaksi Kalteng Pos Albert M Soleh, FKPT Kalsel, terdiri dari Mariatul, Fathurrahman, Aliansyah Mahadi, Syauqi Mubarak Seff, Siti Khadijah, Noorhalis Majid, bersama Firmansyah dari kesbangpol dan staf sekretariat FKPT Kalsel, melakukan kunjungan dan dialog dengan jajaran redaksi Kalteng Pos, Sabtu (6/7/2019).

ALBERT mengatakan, dengan diamankannya 34 tersangka teroris, menggambarkan bahwa daerah kecolongan, karena artinya orang sempat masuk. Menurutnya tingkat kerawanan yang tinggi selain Palangkaraya adalah Kabupaten Gunung Mas.

Sabian Utsman, Kabid Pemuda FKPT Kalteng, mengatakan bahwa berbagai kegiatan pencegahan sudah dilakukan, terutama kepada pemuda, tokoh agama dan lain-lain. Tujuannya agar masyarakat tidak ikut terpapar. Tersangka yang ditangkap adalah pendatang dari Aceh, bukan orang lokal. Artinya upaya pencegahan orang terhadap lokal cukup berhasil.

Syauqi Mubarak Seff, Ketua Bidang Penelitian FKPT Kalsel, menanyakan sejauh mana peran media masa menggaungkan pencegahan ancaman radikalisme dan terorisme.

Siti Khadijah, bidang perempuan dan anak, menanyakan peranan perempuan dalam membendung radikalisme. Dalam kasus yang ada, juga terungkap terlibatnya perempuan dan anak. Mereka menjadi korban, menjadi sasaran.

Albert mengatakan, yang dilakukan pers, dalam hal ini Kalteng Pos, menguraikan bahwa intoleransi menjadi radikal. Tidak semua yang radikal menjadi teroris. “Untuk remaja, kami memiliki rubrik khusus, tujaunnya agar mereka tidak suka main gadget Untuk perempuan juga ada ruangnya. Pada 2018 juga ada terduga teroris yang ditangkap, statusnya PNS, terpapar melalui internet,” katanya.

Fathurrahman, bidang media FKPT Kalsel, mengatakan bahwa kecepatan informasi itu memang penting. Apakah Kalteng Pos juga mengamati perkembagan di kampus dan sekolah, karena idiologi ini berkembang di sana. Kearifan rumah betang yang mudah menerima orang, sehingga tidak resisten dengan orang lain, dimanfaatkan utk berlindung.

Noorhalis Majid, Bidang Pemuda FKPT Kalsel, mengatakan bahwa FKPT memang harus belajar dari peristiwa ini, menyiapkan riset yang sudah ada agar bisa membantu media dalam mendapatkan data. Soal kampus dan sekolah, BNPT sudah menyebutkan banyak kampus yang terpapar.

Mariatul, FKPT Kalsel, mengatakan pentingnya counter narasi bahwa ada musuh bersama selain narkoba. Media harus mengambil peran penting dalam counter wacana ini.

Aliansyah Mahadi, Wakil FKPT Kalsel, menyampaikan perlunya kerjasama antara FKPT dengan media. “Kami sepulang ini akan melakukan kerjasama dengan media yang ada di Kalsel,” katanya.

Albert mengatakan, merubah tren mudah, cara dengan melibatkan publik figur dari kalangan ternama seperti artis. Dalam dua tahun ini aktivitas hampir kosong, karena tidak ada dukungan, akhirnya mereka buat kegiatan swadaya.

“Kegiatan di kalangan anak muda itu penting, sehingga berpengaruh positif pada generasi muda. Komunitas nongkrong, ngobrol sekarang berpindah ke kafe kopi. Tempat tersebut menjadi tempat nongkrong komunitas. Maka pendekatan sekarang ini bisa dilakukan melalui komunitas. Kampus mungkin sudah tidak ramai lagi sebagai kegiatan komunitas,” katanya.

Firmansyah, kabid Kewaspadaan Kesbangpol Kalsel, menyampaikan berbagai pembinaan organisasi dan komunitas yang dilakukan kesbangpol. Ia mengakui bahwa koordinasi yang dilakukan, bagian dari upaya mencegah, termasuk dengan tokoh dan ulama.(jejakrekam)

Penulis Andi Oktaviani
Editor Andi Oktaviani