Menjajal Tuah Balangan 1

Oleh: Kadarisman

PILKADA serentak 2020 bakal menyeret Kabupaten Balangan dalam suksesi politik di daerah. Selain Balangan, di Kalsel setidaknya ada 7 kabupaten dan kota yang ambil bagian dalam aruh demokrasi tersebut, plus Pilgub Kalsel.

PILKADA Kabupaten Balangan satu hal menarik yang dicermati selain  Pilgub Kalsel.  Kepemimpinan Drs Ansharuddin yang berpasangan dengan H Syaifullah diwarnai dinamika pelik.  Soliditas, kekompakan, harmoni yang pernah digaungkan seperti buaian mimpi yang serupa jauh panggang dari api. Hal yang tampak justeru pecah kongsi di masa pemerintahan belum seumur jagung.

Terlepas apapun persoalannya, ketidaksolidan pasangan pimpinan daerah tidak semata bisa  berdampak tidak efektifnya program pembangunan, namun juga dapat dijadikan tolok ukur bagi publik bahwa sikap kenegawanan dan tingkat kafasitas manajemen konflik yang dilandasi oleh deal-deal tertentu pada fase sebelumnya telah mengorbankan kepentingan yang lebih besar.

Konflik kepemimpinan dalam politik lumrah terjadi. Tetapi jika konflik itu dilandasi oleh deal-deal kepentingan tertentu di luar kepentingan bernegara akan susah diurai dan susah diislahkan. Karena itu, dipastikan kebersamaan H Ansharuddin – H Syaifullah akan tutup buku dan tidak ada jalan pulang untuk mereka bergandengan tangan.

Dalam pemerintahan sedemikian itu, sejatinya susah menunjuk siapa yang dapat diunggulkan. Siapa kans kandidat paling berpeluang memenangi pilkada 2020 yang akan datang. Namun demikian, petahan bupati selalu diuntungkan melebihi petahana wakilnya. Itu sudah pasti, karena garis komando organisasi ada di tangan bupati bukan wakilnya.

Petahana selalu punya tuah. Selama ini persentase petahana memenangi pilkada 65-70 persen. Banyak hal yang memengaruhi terpilihnya petahana dalam pilkada. Salah satunya adalah oportunity yang menancapkan popularitasnya lebih jauh beberapa langkah dibanding penantang baru. Kewenangannya mengatur anggaran menjadi satu strategi yang dimanfaatkan memasuki masa-masa pilkada juga menguntungkan petahana. Belum lagi penguasaannya atas jaringan komunikasi yang berbasis pada struktur di pemerintahanya hingga ke level RT/RW yang bisa jadi mesin suara menggapai kemenangan.

Belum lagi mesin partai Golkar yang menjadi perahu bagi petahana yang beberapa kali pilkada menunjukkan kedigdayaannya. Ambil contoh terdekat, pilkada HSU dan Tabalong menjadi bukti bagaimana Golkar dapat merebut kekuasaan dengan mesin partai. Apalagi, Golkar Balangan menjadi partai pemenang pemilu legislatif. Sebuah modal politik yang cukup memberikan keyakinan terhadap Ansharuddin untuk melangkah pasti dan percaya diri. Buah kepercayaan diri itu terjawab dengan munculnya nama M Noor Iswan, Wakil Ketua DPRD Balangan sebagai pasangannya.

Namun, setiap kepemimpinan mesti punya kelemahan. Kelemahan itu bila digarap sangat baik oleh penantangnya, bukan tidak mungkin tuah petahana pun bakal “ruah”. Salah satu weakness petahana di Balangan dapat dilihat dari kepemimpinan. Kekisruhan di level leader pada puncak pemerintahan di Balangan telah mematahkan jargon Seiring, Sejalan, Harmonis dan Optimis (Sejati) yang sebelumnya digadang-gadang.

Dari isu tersebut, publik kemudian mencari korelasi, das sollen dan das sein yang berimbas pada program-program yang  terjewantahkan dalam visi misi sebagaimana dijanjikan.

Mewujudkan pembangunan infrastruktur yang berkesinambungan merupakan salah satu visi misi Sehati yang layak untuk dipelototi. Empat tahun masa kepemimpinan Ansharuddin – Syaifullah publik lebih sering dipertontonkan  ketidaksolidan dalam memerintah, sehingga banyak energi terbuang dan tersandera oleh kepentingan yang tidak terkait dengan kemaslahatan rakyatnya.

Sentara wakil bupati existing, Syaifullah, tentu akan berpikir masak untuk maju, walau dia punya peluang untuk maju. Namun dia mengantongi semua kelemahan yang sama dengan Ansharuddin. Bedanya jika Ansharuddin mampu memanfaatkan tongkat komandonya dalam birokrasi, Syaifullah justeru kehilangan banyak kesempatan memanfaatkan posisinya mengumpulkan tabungan sosial politiknya.

Hal lain PDIP Balangan yang jadi tumpuan Syaifullah kalah jauh dalam perebutan kursi di DPRD setempat. Jika pun memutuskan maju, harus mencari sahabat koalisi yang kuat untuk menandingi Golkar, yang tentu tidak akan menjadi single fighter. Sudah adat Golkar, bermain dengan koalisi gemuk.

Jika Syaifullah mesti betul-betul berhitung, maka tidak dengan Abdul Hadi. Abdul Hadi berpeluang kuat sebagai penantang petahana. Ketua DPRD Balangan H Abdul Hadi sekaligus ketua PPP Balangan ini akan jadi penantang berat bagi Ansharuddin. PPP memiliki basis suara yang sebenarnya cukup konsisten di Balangan.

Itu sebab perohan hasil legislatif 2019, PPP tak berbeda jauh dengan Golkar setelah sebelumnya ia pun sudah mengecap kemenangan. Apalagi pilkada Bupati sangat berbeda dengan pileg. PPP akan bisa lebih progresif dan mesin partainya bisa lebih efektif mengelaborasi sisi emosional religiusitas masyarakat Balangan.

Secara kafasitas, Abdul Hadi bukan politisi kemarin sore. Ia paham berhitung politik, selain ia juga mengerti bagaimana kehidupan berpemerintahan harus dijalankan dan digulirkan. Tinggal bagaimana kemudian  mengelaborasi kekuatannya menelorkan solusi-solusi yang ia ambil dari melihat titik lemah lawan.

Jika Ansharuddin telah meminang M Noor Iswan sebagai partnernya, maka sejatinya ini keuntungan bagi Abdul Hadi. Sebagai sesama politisi dan mitranya di DPRD, maka lebih leluasa melakukan kajian kekuatan dan kelemahan calon pendamping Ansharuddin.

Lantas siapakah yang layak nanti mendampingi Abdul Hadi? Tergantung hasil kalkulasi politik itu sendiri. Tapi yang pasti, keputusan Ansharddin memutuskan calon pendampingnya lebih dini justru akan memberikan kesempatan pihak lain mengalahkannya. Dan bagi saya ini sama dengan memberikan kesempatan pada lawan mencari oportunity yang bisa merugikan bagi Ansharuddin. Tinggal dimainkan. Akankah petahana masih bertuah atau ruah? (jejakrekam)

Penulis adalah pemerhati sosial politik dan tinggal di Tanjung, Tabalong