Menguak Tabir Gelap Sejarah Demang Lehman (3-Habis)

Oleh : Mansyur ‘Sammy’

Foto : Koleksi Museum Tropen Belanda

PETI misteri tentang kematian Demang Lehman di tiang gantungan dan pemotongan kepalanya memang terkunci rapat. Walaupun perlahan mulai disibak dengan sederet riset ilmiah, ternyata hanya memberikan potongan potongan puzzle nan samar untuk disusun menjadi rangkaian kisah. Memang sulit karena minimnya sumber. Tetapi paling tidak, puzzle ini menjadi penguak tabir gelap dari sejarah sang syahidin asal Banua, Demang Lehman.

TERDAPAT hal utama yang memberatkan Demang Lehman alias Idis sehingga dihukum mati oleh Pemerintah kolonial Belanda. Solehmah, demikian biasa beliau digelari oleh Pemerintah Hindia Belanda, didakwa melakukan perlawanan bersenjata terhadap penguasa yang sah dengan tujuan menggulingkan kekuasaan. Padahal sebelumnya, panakawan Pangeran Hidayatullah ini dianggap telah mengambil sumpah setia kepada pemerintah.

Setelah bersidang dua hari, Pemerintah Hindia Belanda pun akhirnya menjatuhi terdakwa hukuman mati dengan digantung. Dilaksanakan di Martapura, ibukota Afdeeling Martapoera (Martapura). Akhirnya pada sore hari, tanggal 27 Februari 1864 hukuman mati Demang Lehman dilaksanakan di Alun Alun Martapura oleh Oditur Militer Belanda, De Gelder.

Padahal Demang Lehman, dalam permintaan terakhirnya sebenarnya meminta dieksekusi di Banjarmasin, akan tetapi karena pertimbangan ingin memberikan efek jera bagi perlawanan pribumi, dilaksanakan di Martapura, bekas Ibukota Kesultanan Banjar sebelum dihapuskan sepihak tahun 1860.

BACA : Menguak Tabir Gelap Sejarah Demang Lehman (1)

Banyak pertanyaan yang muncul di khalayak seputar hukuman mati Demang Lehman. Pertanyaan paling mendasar adalah benarkah Demang Lehman alias Idis, dihukum mati? berdasarkan data-data sejarah yang ada, memang benar adanya Demang Lehman dihukum mati. Van Rees dalam  De bandjermasinsche krijg van 1859-1863,menuliskan bahwa setelah Demang Lehman diangkut ke Bandjermasin, lalu dijatuhi hukuman mati oleh Dewan Perang dengan jerat (hukuman gantung). Eksekusi hukuman mati dilaksanakan didepan ribuan penduduk asli (pribumi).

Dalam catatan H.G.J.L. Meyners, bertitel Bijdragen tot de Geschiedenis van het Bandjermasinsche Rijk 1863-1866, dituliskan Demang Lehman dengan tenang naik ke kapal Saijloos yang membawanya pagi buta ke Martapura untuk dieksekusi tanggal 27 Februari.

Demang Lehman saat dieksekusi sedang menjalani puasa. Menurut Meyners, Demang lehman atau Solehmah ditahan beberapa hari,menjalani ibadah puasa. Pada saat buka puasa hanya dengan roti biasa atau roti beras untuk jam-jam tertentu. Demang Lehman dieksekusi pada waktu sore hari, diperkirakan setelah Ashar dimana waktu waktu menjelang berbuka puasa.

Pada waktu Demang Lehman menjalani tahanan, tidak ada seorang pun yang menjenguknya atau sekadar mempertanyakannya. Sebab penduduk sangat takut disangkut pautkan dengan Demang Lehman.Demikian dituliskan wartawan Surat Kabar Sumatra Nieuws en Advertebtie Blad edisi 7 Mei 1864.

BACA JUGA : Menguak Tabir Gelap Sejarah Demang Lehman (2)

Demang Lehman sangat tenang dan tidak kehilangan kendali dirinya dia melangkah ke darat (dari kapal di sungai) dan dengan bangga mengangkat kepalanya melewati tatapan kumpulan warga Martapura yang ada di jalan menujutempat eksekusi (tiang gantungan).

Pada versi lain dituliskan bahwa pejabat-pejabat militer Belanda yang menyaksikan hukuman gantung ini merasa kagum dengan ketabahannya menaiki tiang gantungan tanpa mata ditutup.Urat mukanya tidak berubah menunjukkan ketabahan yang luar biasa.

Hal ini senada dengan pernyataan Meyners yang menuliskan bahwa Demang Lehman menderita hukuman mati dengan ketenangan dan sikap mengagumkan. Setelah meninggal, jenazahnya tanpa dikebumikan (dishalatkan) kemudian dimakamkan setelah dibawa dari Rumah Sakit di Martapura.

Dalam Surat Kabar Sumatra Nieuws en Advertebtie Bladedisi 7 Mei 1864, menuliskan tidak ada satu pun dari penduduk Martapura yang mengklaim bahwa Demang Lehman keluarganya. Kemungkinan hal ini disebabkan karena rasa ketakutan masyarakat saat itu. Demikian juga ditulis Meyners, setelah eksekusi, tiada ada satu keluarganyapun yang menyaksikannya dan tidak ada keluarga yang menyambut mayatnya.

Menjadi tanda tanya besar adalah pernyataan tentang wasiat Demang Lehman yang diberitakan diucapkannya sebelum mati di tiang gantungan, “Dangar-dangar barataan! Banua Banjar lamun kahada lakas dipalas lawan banyu mata darah, marikit dipingkuti Walanda!”

BACA JUGA : Belajar dari Ghana, Keturunan Pangeran Hidayatullah Dukung Pengembalian Tengkorak Demang Lehman

Menurut Anggraini Antemas dalam Orang-Orang Terkemuka Dalam Sejarah Kalimantan (2004), diucapkan Demang Lehman menjelang eksekusi di tiang gantungan di tanah lapang Martapura 27 Februari 1864. Sayangnya, belum didapatkan sumber yang mendukung pernyataan ini. Demikian juga dalam buku ini tidak menuliskan rujukan sehingga masih dipertanyakan apakah pernyataan ini ada atau tidak.

Apakah Demang Lehman dipancung (dipotong kepala) setelah eksekusi? Pada satu sumber dituliskan bahwa setelah selesai digantung dan mati, kepalanya dipotong oleh Belanda dan dibawa oleh Konservator Rijksmuseum van Volkenkunde Leiden.

Kepala Demang Lehman disimpan di Museum Leiden di Negeri Belanda, sehingga mayatnya dimakamkan tanpa kepala. Sayang sumber ini meragukan, walaupun menuliskan rujukan dari Berita Acara Vonis Demang Lehman setelah ditelusuri penulis, agak meragukan karena tidak ada pernyataan tentang masalah pemancungan ini.

Kasus ini memang menjadi misteri karena dalam penelusuran penulis, baik dari catatan Berita Acara Vonis Demang Lehman maupun tulisan tulisan Meyners, tidak ada pernyataan apa pun tentang masalah pemotongan kepala ini.

BACA JUGA : Ratu Zaleha, Demang Lehman & Penghulu Rasyid: Ditangkap Saat Ibadah Shalat

Pada sisi lain, memang terdapat sumber yang menuliskan bahwa segala siasat dan cara telah dilakukan Belanda memikat Pangeran Hidayat dan Demang Lehman agar menghentikan perlawanannya terhadap pemerintah Belanda, tetapi semua itu tidak berhasil. Cara lain yang dilakukan berusaha menangkap kedua tokoh pejuang itu hidup atau mati. Dengan mengeluarkan pengumuman kepada seluruh rakyat agar dapat membantu Belanda menangkap kedua tokoh dengan imbalan menggiurkan.

Imbalan yang dijanjikan adalah lewat pengumuman harga kepala terhadap tokoh pejuang yang melawan Belanda. Harga kepala Pangeran Hidayat adalah sebesar f 10.000,- dan Demang Lehman sebesar  f 2.000,- Nilai uang sebesar itu sangat tinggi dan dapat memikat hati setiap orang yang menginginkan kekayaan.

Dari pernyataan ini bisa diduga bahwa kemungkinan pemotongan kepala dilakukan, untuk tujuan hadiah sebesar  f 2.000. Kalau memang misalnya untuk hadiah, toh Syarif Hamid yang berhasil menangkap Demang Lehman sudah mendapat hadiah sebagai penguasa Batulicin.

Lalu untuk apa memotong kepala? Hal inilah yang akhirnya menjadi misteri untuk pendalaman penelitian dan riset sejarah lebih lanjut oleh para ahli sejarah. Hal yang pasti pemerintah kolonial Belanda menutupi hal ini.

Dimana Demang Lehman dimakamkan? Kalau ditelaah kembali wasiat Demang Lehman sebelum dihukum gantung, kemungkinan besar Demang Lehman dimakamkan di wilayah Martapura dan sekitarnya. Dalam wasiatnya, Demang Lehman mengatakan bahwa Demang Lehman jangan dilarang untuk meninggalkan Borneo (Kalimantan) selamanya, meskipun dia harus mati, dihukum mati dengan cara digantung.

BACA LAGI : Pemprov Kalsel Terus Upayakan Pengembalian Tengkorak Kepala Demang Lehman

Hanya saja dalam penelusuran beberapa arsip kolonial, belum didapatkan data dimana sang syahidin dimakamkan.Karena sesuai data di awal, tiada ada satu keluarganyapun yang menyaksikannya dan tidak ada keluarga yang menyambut mayatnya.Meyners hanya menuliskan setelah meninggal, jenazahnya tanpa dikebumikan (dishalatkan) kemudian dimakamkan setelah dibawa dari Rumah Sakit di Martapura.

Selanjutnya, jika memang setelah hukuman gantung, kepala Demang Lehman dipandung, pada museum mana tengkorak Demang Lehman disimpan? penelusuran sementara banyak versi. Mulai dari Museum Leiden, hingga ke Museum Anatomi Belanda.

Walaupun demikian belum bisa dipastikan. Menurut Pangeran Chepy Isnendar-keturunan keempat Pangeran Hidayatullah, berdasarkan keterangan Donald Tick, pemerhati sejarah dan budaya nusantara yang bermukim di wilayah Vlaardingen Belanda, memang telah lama menelusuri dimana tengkorak Demang Lehman. Akhirnya didapatkan di Museum Anatomi Belanda, melalui katalog online di museum ini. Sayang Donald Tick, tidak sempat melihat tengkorak Demang Lehman yang ada di museum ini.

Pada sumber lain dituliskan bahwa kepala Demang Lehman beberapa tahun kemudian, disimpan di Museum Volkenkunde atau Museum Etnologi Nasional di Leiden, menjadi salah satu diantara koleksi-koleksi yang paling awal. Pada versi lain hanya dituliskan, setelah memenuhi janjinya, mati di garis perjuangan dengan cara digantung, kepalanya lalu dipenggal oleh Belanda, jenazahnya dikubur tanpa kepala. Kepalanya dibawa oleh Konservator Rijksmuseum van Volkenkunde Leiden untuk disimpan di Museum Leiden, Belanda.

BACA LAGI : ‘Menggugat’ Kiprah Pangeran Antasari di Kecamuk Perang Banjar

Kemudian terdapat informasi lain yakni sekitar sepuluh tahun yang lalu tepatnya pada tahun 2009 pertama kali disampaikan mantan Wakil Gubernur, HM Rosehan NB. Dari keterangan persnya yang dilakukan di Aula Abdi Persada Pemprov Kalimantan Selatan, Wakil Gubernur di era periode pertama pemerintahan Gubernur Rudy Ariffin tersebut menyatakan menerima kabar dari salah seorang arkeolog asal Yogyakarta, yang mengatakan bahwa kepala Demang Lehman masih tersimpan di salah satu museum di Belanda.

Cuma yang menjadi tanda tanya, siapakah arkeolog yang memberikan kabar ini dan sampai di mana validitasnya, benarkah itu kepala Demang Lehman serta sederet pertanyaan lainnya.

Hanya dua informasi awal ini yang menjadi data sementara tentang dimana dugaan lokasi keberadaan kepala Demang Lehman di Belanda. Pertanyaan yang mengemuka sehebungan dengan ini adalah, dimana lokasi tepat kepala Demang Lehman disimpan? berdasarkan imformasi dari Pangeran Chevy, sampai saat ini mengenai lokasi memang belum ada kejelasan karena informasi ini terlalu sensitif, sehingga belum saatnya dipublikasikan.

Apabila ditelusuri kembali keterangan Donald Tick, mengatakan bahwa kepala Demang Lehman disimpan di satu lokasi dengan tengkorak kepala raja Badu Bonsu II dari Ghana, Afrika. Sebagai informasi pada tahun 1837, Badu Bonsu II memberontak terhadap pemerintah Belanda, dan membunuh beberapa perwira, termasuk penjabat Gubernur Hendrik Tonneboeijer.

BACA LAGI : Tokoh Sentral Perang Banjar, Pangeran Hidayat dan Tipu Muslihat Belanda

Pada keterangan lain dituliskan Badu Bonsu II, pemimpin kelompok Ahanta, diyakini telah dipenggal sebagai pembalasan atas pembunuhan utusan Belanda. Kini tengkorak kepala Badu Bonsu, dikembalikan ke tanah kelahirannya untuk dimakamkan, kata pihak berwenang di Belanda.

Penulis Belanda Arthur Japin, menemukan kepala Badu Bonsupada tahun 2005, disimpan dalam formaldehyde di Leiden University Medical Center (LUMC). Artinya kemungkinan besar, kelala Demang Lehman disimpan di Leiden University Medical Center (LUMC). Untuk kepastiannya, tentunya harus menunggu bagaimana rilis dari pemerintah Belanda serta meminta keterangan dari wartawan Belanda yang akan datang ke Banjarmasin, Indonesia, direncanakan Bulan Juli ini.

Banyak hal lain yang menjadi misteri yang mungkin belum bisa terjawab dalam tulisan ini. Perlu pendalaman sumber, perbandingan dan penelitian intens dengan metode sejarah (historichal method). Memang banyak versi lain yang berasal dari sumber lisan dalam masyarakat seputar detik detik kematian Demang Lehman maupun setelah kematiannya yang bersifat mistis.

Akan tetapi terlepas dari hal itu, semoga tulisan ini bisa menggugah semangat kebangsaan dan kejuangan. Bahwa betapa mahalnya memperjuangkan kebebasan dan kemerdekaan Banua ini. Banyak pengorbanan yang dilakukan meraih indahnya kebebasan dalam bingkai kemerdekaan hakiki.(jejakrekam)

Penulis adalah Penasihat Komunitas Historia Indonesia Chapter Kalsel

Ketua Lembaga Kajian Sejarah, Sosial dan Budaya (SKS2B) Kalimantan

Dosen Prodi Pendidikan Sejarah FKIP ULM Banjarmasin