Menguak Tabir Gelap Sejarah Demang Lehman (1)

Oleh : Mansyur 'Sammy'

Foto : Berbagai Sumber

BEBERAPA waktu lalu, santer berita di media online, Pemerintah Negara Belanda tengah melakukan riset. Riset ini sehubungan dengan keingintahuan Pemerintah Belanda tentang bagaimana respon masyarakat Banjar terhadap kemungkinan pengembalian tengkorak kepala Pahlawan Banjar, Demang Lehman. Kabar yang beredar, tengkoraknya kini tersimpan pada salah satu Museum di Negeri Kincir Angin.

RISET tentu saja bukan bermaksud membuka luka lama. Menguak kembali tentang kekejian pemerintah kolonial terhadap “pemberontak” di wilayah koloninya. Pada sisi lain, ini tentunya preseden baik untuk memberikan menghargaan kepada syahidin Demang Lehman dengan pemakaman yang layak. Walaupun hanya tengkorak kepala yang badannya entah dimana kuburnya.

Bagi urang Banua, tentunya memang tidak asing lagi dengan tokoh yang satu ini. Sepak terjangnya di medan laga, hingga prinsipnya yang rela mati demi bangsanya pada tiang gantungan di Alun-Alun Martapura. Suatu pengorbanan tanpa air mata yang akan selalu dikenang.

Terlepas dari hal itu, ternyata banyak tabir gelap dari sejarah tokoh fenomenal Demang Lehman yang belum diketahui khalayak. Pertanyaan yang mengemuka terutama, bagaimana Demang Lehman yang terkenal sakti mandraguna bisa ditangkap dengan begitu mudahnya oleh kolonial Belanda? Bagaimana proses penangkapannya? Serta sederet pertanyaan yang memang masih ada di ranah gelap menunggu secercah cahaya menguak tirai sejarah yang tertutup rapat.

BACA : Semangat Haram Manyarah Demang Lehman Diaktualisasikan dalam Epos Perang Banjar

Dalam Berita Acara Vonis Demang Lehman yang dibuat Pemerintah Hindia Belanda, 155 tahun yang lalu menjadi jawabannya. Berita Acara ini dibukukan dengan titel Verzameling Der Merkwaardigste Vonnissen Gewezen Door De Krijgsraden Te Velde In De Zuid En Ooster-Afdeeling Van Borneo, Gedurende de jaren 1859-1864. Arsip ini merupakan koleksi  tentang vonis paling berkualifikasi yang diberikan oleh Dewan Perang, semacam Mahkamah Militer di wilayah Karesidenan Afdeeling Borneo bagian Selatan dan Timur, selama tahun 1859-1864. Buku ini diterbitkan di Batavia (sekarang Jakarta) oleh Landsdrukkerij, tahun 1865.

Karena sumber Belanda, memang banyak yang meragukan sumber ini. Terutama masalah kesahihan dan banyaknya kepentingan pemerintah kolonial. Akan tetapi tentunya tidak salah apabila menjadi rujukan untuk mengetahui akhir kisah hidup sang syahidin, kebanggaan Urang Banjar. Toh sumber ini dibuat di tahun yang sama.

Demang Lehman yang bernama asli Idies, sewaktu ditangkap masih berusia muda, 30 tahun. Dalam sumber kolonial dituliskan Demang Lehman ditangkap di wilayah Gunung Batu Punggul dekat Selelau, di Batu Licin. Kalau diidentifikasi sekarang kemungkinan lokasi ini ada di wilayah Batoepangkat, Desa Sela Selilau, Kecamatan Karang Bintang, Kabupaten Tanah Bumbu, Provinsi Kalimantan Selatan.

Upaya dan proses penangkapan Demang Lehman ini diungkapkan dalam Persidangan Pengadilan Demang Lehman, oleh para saksi.  Mereka yang menjadi saksi adalah Brahim dan tahanan yang bernama Sambarani dan Singoprojo serta komplotannya.

BACA JUGA : Ratu Zaleha, Demang Lehman & Penghulu Rasyid: Ditangkap Saat Ibadah Shalat

Mereka mengungkapkan bahwa pada hari yang ditetapkan mereka mereka mendapat tugas khusus. Mereka telah menerima panggilan dari Kepala Wilayah Batu Licin (Syarif Hamid) agar melakukan segala upaya dengan tujuan untuk menangkap dan menyerahkan tersangka Demang Lehman yang berbahaya dalam kondisi hidup.

Perintah penangkapan Demang Lehman ini sekitar awal Bulan Februari tahun 1862.  Hampir sebulan sebelum junjungannya, Pangeran Hidayatullah ditipu oleh Belanda–dengan terlebih dahulu menyandera ibunya– dibawa dari Martapura dan diasingkan ke Cianjur pada tanggal pada 2 Maret 1862.

Demang Lehman pada awal Februari 1862, berdasarkan laporan mata mata kolonial Belanda berada di dekat Kampung Selelau (Desa Sela Selilau), agar sesegera mungkin ditangkap dan diserahkan kepada kepada pemerintah Hindia Belanda. Oleh karena itu Brahim, Sambarani dan Singoprojo beserta komplotannya diperintahkan membujuk penduduk lain di Kampung Selelau yang umumnya warganya terdiri dari para pelarian narapidana.

BACA LAGI : Bermukim di Penginapan Islam, Ratu Zaleha Menghabiskan Masa Tua di Kampung Arab (7-Habis)

Tujuannya, agar bersama-sama mengejar tokoh pemberontak itu. Mereka menerima  kabar bahwa Demang Lehman berada di sebuah perbukitan yang disebut Gunung Batu Punggul. Jaraknya sekitar satu hari perjalanan dari Selelau. Demang Lehman saat itu bersama istri dan empat orang pengikutnya.

Tidak mau kehilangan momentum, Pemerintah Hindia Belanda kemudian bekerja sama dengan penduduk di sekitar wilayah Selilau hingga Batulicin untuk menutup akses pengangkutan bahan makanan atau logistik ke wilayah Selilau. Tujuannya agar Demang Lehman dengan terpaksa akan meninggalkan tempat persembunyiannya karena kelaparan.

Perkiraan ini tepat, ketika blokade itu berlangsung beberapa hari, Demang Lehman dan istri serta para pengikutnya turun gunung dan berangkat ke kampung Selelau, tempat dia menghuni sebuah rumah kosong.

Pada malam harinya –saksi Brahim menceritakan– bahwa komplotannya telah mencuri keris sakti dan tombak milik Demang Lehman, yang menurut kepercayaan orang, memiliki kesaktian. Senjata itu bernama Tombak Kalibelah dan Keris Sinkir. Diyakini sebagai sumber kesaktian Demang Lehman alias Idis. Demang Lehman, segera setelah pengetahui pencurian itu, bangkit amarahnya dan mengamuk dan mencari sang pencuri. Akan tetapi oleh Sambarani, seorang narapidana, berhasil dilerai dan menjanjikan kepada Demang Lehman, dengan segala cara mengupayakan kembalinya barang-barang yang hilang tersebut.

BACA LAGI : Tergerak Beratib Beamal, Gusti Zaleha Angkat Senjata Lawan Kolonial Belanda (2)

Sambarani pun memberikan sebuah keris lain kepada Demang Lehman dengan maksud agar mau berdamai. Sementara itu di tempat lain, Sambarani sudah menyusun rencana. Dia lalu berbicara dengan para pengiring (komplotannya) untuk menyerang dan melumpuhkan para pemberontak (Demang Lehman dan sisa pasukannya), keesokan harinya. Setelah adanya tanda/kode yang diberikan olehnya.

Keesokan paginya ketika Demang Lehman melakukan Sholat Subuh dan semua pengikutnya telah pergi mencari perbekalan, dia ditangkap dan diikat. Demang Lehman memang sempat melakukan perlawanan, tetapi hanya berlangsung sebentar. Kemudian Demang dibawa ke Banjarmasin melalui kapal laut Pemerintah Hindia Belanda.

Pada sumber versi lain yang berbeda, dituliskan bahwa Demang Lehman yang merasa kecewa dengan tipu muslihat Belanda berusaha mengatur kekuatan kembali di daerah Gunung Pangkal, Negeri Batulicin, Tanah Bumbu. Waktu itu ia bersama Tumenggung Aria Pati bersembunyi di gua Gunung Pangkal dan hanya memakan daun-daunan. Oleh seorang yang bernama Pembarani diajak menginap di rumahnya.

BACA LAGI : Keberanian Tumenggung Jalil yang Menciutkan Nyali Belanda

Karena tergiur imbalan gulden dari Belanda, seseorang bernama Pembarani bekerjasama dengan Syarif Hamid dan anak buahnya yang sudah menyusuri Gunung Lintang dan Gunung Panjang untuk mencari Demang Lehman atas perintah Belanda. Demang Lehman tidak mengetahui bahwa Belanda sedang mengatur perangkap terhadapnya.

Oleh orang yang menginginkan hadiah dan tanda jasa sehabis dia melakukan salat Subuh dan dalam keadaan tidak bersenjata, dia ditangkap. Ia sempat sendirian melawan puluhan orang yang mengepungnya. Atas keberhasilan penangkapan ini Syarif Hamid akan diangkat sebagai raja tetap di Batulicin.

Dalam vonis persidangan Demang Lehman juga dituliskan setelah sampai di Banjarmasin, Demang Lehman pun dihadapkan kepada sejumlah saksi untuk menegaskan identitasnya. Pemerintah Hindia Belanda saat itu khawatir, jangan jangan salah tangkap, atau jangan jangan bukan Demang Lehman. Pemerintah pun menghadirkan sejumlah saksi yang terdiri dari orang Belanda yakni Logemann, Verstege, Stoecker.

Kemudian perwakilan pribumi yakni Pangeran Muhammad Aminullah, Pangeran Jaya Pamenang, Awang, Saima, Ali Ahmad dan Taesa. Dari kesaksian mereka dinyatakan bahwa orang yang dihadapkan kepada mereka tidak lain adalah Demang Lehman yang sangat ditakuti. Para saksi ini sangat mengenal Demang Lehman yang sering mereka temui dan kenal baik dalam berbagai kondisi. (jejakrekam/bersambung)

Penulis adalah Penasihat Komunitas Historia Indonesia Chapter Kalsel

Ketua Lembaga Kajian Sejarah, Sosial dan Budaya (SKS2B) Kalimantan

Dosen Prodi Pendidikan Sejarah FKIP ULM Banjarmasin