Bermukim di Penginapan Islam, Ratu Zaleha Menghabiskan Masa Tua di Kampung Arab (7-Habis)

Oleh : Mansyur ‘Sammy’

Foto : Berbagai Sumber

USAI diasingkan di Kampung Empang, Bogor, sang srikandi pejuang dalam Perang Banjar, Ratu Zaleha akhirnya dikembalikan Belanda ke tanah leluhurnya di Banjarmasin. Ratu Zaleha sekeluarga bermukim di Hotel atau Penginapan Islam, hingga masa tuanya dihabiskan di Kampung Arab.

PENULIS sejarah Banjar, Gusti Hindun mengungkapkan usai menjalani masa pengasingan sebagai hukuman dari Pemerintah Kolonial Belanda, Ratu Zaleha pun dikembalikan lagi ke tanah leluhurnya.

Sepulang dari pengasingan, Ratu Zaleha bersama keluarganya bermukim di Penginapan Islam yang merupakan sebuah hotel yang dikelola pria keturunan Arab bernama Thalib Agung selama satu tahun. Saat ini, keturunan pemilik Hotel Islam hingga saat ini masih ada, berdomisili di Jalan Bali Banjarmasin.

BACA : Diasingkan ke Kampung Empang, Suami Ratu Zaleha Dirikan Sarekat Dagang (6)

Sementara lokasi Hotel Islam pada tahun 1970 dan 80-an berdekatan dengan Bioskop Presiden. Pada tahun 2000-an lokasi ini sudah menjadi lokasi pertokoan. Setelah satu tahun berdomisili di Hotel Islam, Ratu Zaleha kemudian menyewa rumah di daerah Kampung Arab, Banjarmasin. Mengenai tempat tinggal Ratu Zaleha di Kampung Arab, berdasarkan hasil observasi, masih ada. Cuma rumah ini sudah mengalami perbaikan dan renovasi.

Walaupun demikian, nuansa dari bangunan Banjar masih terasa terutama dari desain rumahnya serta bahan rumah yang masih menggunakan kayu besi atau ulin dengan rangka yang kuat.

BACA JUGA : Ratu Zaleha, Srikandi dari Pedalaman Borneo (1)

Sekian lama berdiam di Kampung Arab, Ratu Zaleha kemudian pindah ke wilayah Sungai Jingah, Banjarmasin. Beliau berdomisili di rumah kontrakan sederhana. Selama masa tuanya, Ratu Zaleha mengalami sakit-sakitan yang biasa disebut sebagai penyakit renta. Tubuhnya mulai susah untuk dibangunkan, sehingga untuk duduk saja Ratu Zaleha perlu ditopang. Kakinya juga susah untuk diluruskan.

Pada 24 September 1953, Ratu Zaleha menghembuskan nafas terakhirnya dengan tenang di tengah-tengah keluarga besarnya di Banjarmasin. Jenazahnya dimakamkan di Makam Muslim Komplek Mesjid Jami Banjarmasin, di samping makam kakeknya, yaitu Pangeran Antasari. Makamnya berdampingan dengan makam sang kakek, yaitu Pangeran Antasari, dan neneknya, Ratu Antasari.

BACA LAGI : Ratu Zaleha, Demang Lehman & Penghulu Rasyid: Ditangkap Saat Ibadah Shalat

Sementara suami Ratu Zaleha, Gusti Pangeran Muhammad Arsyad juga dipulangkan ke Banjarmasin berbarengan dengan Ratu Zaleha. Pangeran Muhammad Arsyad meninggal dunia pada tahun 1941 dalam usia 73 tahun dan dimakamkan di Kompleks Pemakaman Raja-raja Banjar Sultan Suriansyah di Kuin Utara, Banjarmasin.

Berbeda dengan mantan istrinya Ratu Zaleha, wafat 12 tahun kemudian tepatnya tanggal 24 September 1953, dimakamkan di pemakaman raja-raja Pagustian, Kesultanan Banjar. Komplek makam ini selalu ramai dikunjungi jika ada peringatan hari-hari tertentu, misalnya pada peringatan Hari Pahlawan Nasional.

BACA LAGI : Tergerak Beratib Beamal, Gusti Zaleha Angkat Senjata Lawan Kolonial Belanda (2)

Makamnya juga sering dikunjungi oleh kerabat dekat dan masyarakat Banjar untuk mengenang jasanya. Demikianlah besarnya peranan Ratu Zaleha dalam perjuangan melawan penjajahan Belanda di Tanah Banjar.

Bulan Jihad Turun Gunung ke Joloi

Menurut Arsyad Indradi, maestro tari Kalimantan selatan dalam tulisan blognya, Mengenang Perjuangan Pahlawan Perempuan“, Memaparkan bahwa peristiwa meninggalnya Ratu Zaleha, membuat teman seperjuangannya saat berperang dengan penjajah Belanda, Bulan Jihad sangat sedih. Bulan Jihad yang sudah tua renta ternyata masih hidup. Bahkan, pada tanggal 11 Januari 1954 Bulan Jihad turun dari gunung setelah 49 tahun mengasingkan diri. Dia sangat sedih setelah 4 bulan baru mengetahui, Ratu Zaleha sahabatnya ternyata telah mendahuluinya meninggal dunia.

Hal sama dikemukakan Anggraini Antemas bahwa berdasarkan keterangan lisan yang disampaikan WA Samat dan Adonis Samat (1948)  maupun Tjilik Riwut (1950). Tatkala tokoh perlawanan Gusti Muhammad Seman meninggal dunia pada tahun 1905, lalu awal tahun 1906 Gusti Zaleha berkeputusan turun gunung, lantas apa keputusan Bulan Jihad dan sisa prajurit lainnya? Ternyata Bulan Jihad tetap bertekad meneruskan perjuangan dan terus mengembara.

BACA LAGI : Dilindungi Kapten Arab dalam Pelarian, Tertangkap Usai Shalat Zuhur (5)

Maka terjadilah perpisahan yang sangat memilukan. Dengan berat hati keluarlah Gusti Zaleha dari hutan menuju Muara Teweh dan selanjutnya dia dibawa ke Banjarmasin bersama ibunya Nyai Salmah. Sejak perpisahan itu, tidak  banyak orang  yang tahu dimana keberadaan Bulan Jihad dan kelanjutan perjuangannya.

Barulah pada tanggal 11 Januari 1954, Bulan Jihad datang melaporkan diri ke Kantor Pemerintahan setempat di Muara Joloi sehingga saat itulah dia baru tahu Indonesia sudah merdeka. Hatinya pun semakin luluh begitu mengetahui sahabat karibnya Ratu Zaleha telah lama meninggal dunia pada 24 September 1953 di Banjarmasin.

Hari itu orang kembali melihat kemunculannya. Pada hari itu pula dia kembali mengembara ke hutan rimba untuk selama-lamanya. Inilah sekilas kisah muslimah Bulan Jihad yang setia berperang mendampingi  perjuangan Gusti Puteri Zaleha (1903-1906), bahkan dia terus berjuang melewati masa juang pahlawan antikolonialis lainnya di tanah Dayak.

BACA LAGI : Ada Tiga Nama Ratu Zalecha, yang Mana Terpilih Jadi Nama RSUD?

Untuk mengenang perjuangannya dan sebagai bentuk penghargaan terhadap perjuangan Ratu Zaleha, nama Ratu Zaleha diabadikan di dua tempat. Pertama, nama Ratu Zalecha atau Zaleha kini diabadikan menjadi nama Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) milik Pemerintah Kabupaten Banjar di Martapura.

Cikal bakal rumah sakit ini berdiri pada 1943, dan kemudian direnovasi tahun 1963. Kemudian nama Ratu Zaleha juga diabadikan menjadi nama alun alun di samping Pertokoan Batu Permata Batuah, seberang kantor Pemerintah Daerah Kabupaten Banjar, Martapura yaitu Alun-Alun Ratu Zaleha.

Selain pembangunan dua tempat yang mengabadikan nama pejuang perempuan tersebut, seorang seniman Banjar yaitu Arsyad Indradi juga menciptakan sebuah tarian dengan nama Tarian Perjuangan Ratu Zaleha.(jejakrekam)

Penulis adalah Penasihat Komunitas Historia Indonesia Chapter Kalsel

Ketua Lembaga Kajian Sejarah, Sosial dan Budaya (SKS2B) Kalimantan

Dosen Prodi Pendidikan Sejarah FKIP ULM Banjarmasin