Dirgahayu

Diasingkan ke Kampung Empang, Suami Ratu Zaleha Dirikan Sarekat Dagang (6)

Oleh : Mansyur 'Sammy'

Foto : Dok Pribadi Mansyur

USAI ditangkap pasukan marsose Belanda, Ratu Zaleha bersama ibunya Nyai Salamah diamankan di Martapura. Sang srikandi pejuang perang Banjar ini ditempatkan di sebuahrumah yang sekarang berada di Jl. M. Roem, Kota Martapura selama beberapa hari.

SETELAH beristirahat di Martapura, Ratu Zaleha dan ibunya dibawa ke Banjarmasin dan kemudian diberangkatkan ke Buitenzorg atau sekarang dikenal dengan Bogor. Pengasingan ini menyusul suaminya Gusti Muhammad Arsyad, yang sudah lebih dahulu diasingkan dua tahun sebelumnya, tepatnya pada 1904. Ratu Zaleha diasingkan di Bogor dan menjalani kehidupan di sana selama 31 tahun.

Paham kodratnya sebagai seorang istri yang berbakti sebagai suami sesuai dengan ajaran Islam, atas permintaannya kepada Pemerintah Hindia Belanda, ia memilih diasingkan ke Buitenzorg atau Bogor. Alasannya, menyusul suaminya Gusti Muhammad Arsyad. Ratu Zaleha berangkat disertai Nyai Salamah ibundanya.

BACA : Ratu Zaleha, Srikandi dari Pedalaman Borneo (1)

Sebagai seorang tawanan, Gusti Muhammad Arsyad mendapat tunjangan sebesar f 300 per bulan terhitung sejak 1 Mei 1906, sedangkan istrinya Ratu Zaleha mendapat tunjangan 125 golden Belanda per bulan. Tunjangan ini berdasarkan surat Sekretaris Goebermen 25 Juli 1906 No. 1198 yang ditujukan kepada Gubernur Jenderal Hindia Belanda, dan Assisten Residen Bogor.

 

Tunjangan yang diberikan oleh pemerintah Belanda selama pengasingan di Bogor merupakan sebuah bentuk tanggung jawab dari Pemerintah Hindia Belanda. Kemudian bentuk rasa hormat dari pemerintahan Belanda kepada Ratu Zaleha dan suaminya. Pemberian tunjangan juga merupakan dorongan dari adanya arus liberalisasi yang berkembang di Eropa terutama di Belanda. Desakan dari parlemen Belanda untuk memberikan kepedulian terhadap rakyat koloninya.

BACA JUGA : Tergerak Beratib Beamal, Gusti Zaleha Angkat Senjata Lawan Kolonial Belanda (2)

Ratu Zaleha datang ke Bogor dengan sangat terpaksa dan dengan perasaan yang sangat sedih. Perasaan sedih yang mendalam karena perjuanganya meneruskan wasiat kakek dan ayahnya, perjuangan merebut kembali tanah Banjar yang telah diduduki penjajah serta perjuangan jihad fisabilillah akhirnya terhenti. Keberangkatan Ratu Zaleha bersama ibundanya, Nyai Salamah ke tanah pengasingan dilepaskan rakyat Kalimantan dengan perasaan sangat mencekam dan sedih.

Mengenai kehidupan Ratu Zaleha di Bogor, minim data. Walaupun demikian, terdapat sumber yang dikemukakan Abdullah Batarfie. Menurut Batarfie, sekitar tahun 1885, daerah Bogor menjadi tempat pengasingan sultan dan para Bupati yang dianggap berbahaya bagi Pemerintah Belanda, dan sekaligus untuk mengurangi secara sistematis pengaruh kaum feodalis atas masyarakatnya.

BACA JUGA : Gusti Arsyad Diasingkan, Perjuangan Ratu Zaleha di Bawah Tekanan (3)

Para bupati yang diasingkan ke kota Bogor berasal dari berbagai daerah, di antaranya dari Pekalongan, Bojonegoro, Banjarmasin, Sukapura (tempat pengasingan Empang) dan Raja Bali. Konon, Raja Bali tempat pengasingannya berada di Kampung Bubulak, sekarang menjadi komplek perumahan Haur Jaya, dekat pabrik ban terkenal, Good Year.

Pada wilayah Empang, bekas tempat pengasingan Ratu Zaleha dan suaminya inilah yang kemudian jejaknya dikenal dengan nama Gang Banjar. Lokasinya sekarang termasuk gedung Sekolah Luar Biasa (SLB) Al-Irsyad Al Islamiyyah Bogor.

Seluruh bagian yang dahulu menjadi “Puri Pembuangan” Kesultanan, dibeli oleh keluarga kaya asal Banjarmasin, Sayyid Faradj bin Islam bin Thalib. Faradj adalah saudagar kelahiran Hadramaut. Sedangkan istrinya, Rahma binti Mar’i bin Thalib adalah wanita peranakan Arab kelahiran Banjarmasin.

Suami Ratu Zaleha Mendirikan Sjarekat Dagang Islamijjah

Ratu Zaleha dan suaminya, tidak sendirian di pengasingannya di Empang. Ia ditemani istrinya Ratu Zaleha dan beberapa orang kerabat dekatnya. Ibunda Ratu Zaleha, Nyai Salamah juga ikut bersamanya dalam pembuangan di Empang. Keluarga Ratu Zaleha sebagai kelompok Pagustian oleh Pemerintah kolonial dianggap berbahaya dan ancaman.

BACA JUGA : Warisi Kerajaan Tanpa Takhta, Perjuangan dalam Kesendirian dan Derita (4)

Dalam pengasingannya di wilayah Kampung Empang, Goesti Moehammad Arsjad bersama saudagar Arab kemudian ikut mendirikan Sjarekat Dagang Islamijjah, yang pendiriannya diprakarsai Raden Mas Tirto Adhi Soeryo, Bapak Pers Indonesia. Pada wilayah Empang, kekerabatan keluarga Kesultanan Banjar ini sebagian besar memang akrab disapa dengan sebutan Antung. Salah satu diantaranya adalah Antung Adey, nama aslinya adalah Gusti Abdul Kadir atau nama seninya G.A Kadir. Ia adalah salah satu pelukis terkenal dan bekas staf ahli di bidang gambar pada mueseum zoology.

Selain itu, tidak banyak informasi yang diperoleh bagaimana kehidupan Ratu Zaleha di Bogor. Pasalnya, kehidupan Ratu Zaleha selama pengasingan di Bogor diawasi dengan ketat oleh pemerintah Hindia Belanda. Ratu Zaleha dan keluarganya dilarang memakai busana kesultanan. Dari informasi Gusti Hindun dan Gusti Shuria Putra, bahwa suami Ratu Zaleha yaitu Gusti Muhammad Arsyad mempunyai lima orang istri bawaan, selama mendiami Kampung Empang.

Ratu Zaleha merupakan istri pertama Gusti Muhammad Arsyad yang dinikahinya dan bersama-sama melakukan perjuangan melawan penjajah Belanda sampai akhirnya keduanya diasingkan ke Bogor. Selama masa perjuangan Gusti Muhammad Arsyad mempunyai empat orang istri. Seperti dijelaskan sebelumnya, jika diurutkan, istri pertama Ratu Zaleha, kemudian Gusti Halimah, Gusti Bintang, serta Gusti Arpiah.

BACA LAGI : Dilindungi Kapten Arab dalam Pelarian, Tertangkap Usai Shalat Zuhur (5)

Dari keempat istri Gusti Muhammad Aryad, hanya Ratu Zaleha yang tidak mempunyai anak. Sebagai seorang perempuan, Ratu Zaleha sangat menyayangi anak-anak. Hal ini dapat dilihat dari kondisi bahwa Ratu Zaleha ikut merawat anak-anak suaminya dari isteri yang lain. Setelah pengasingan di Bogor bersama sang suami, Ratu Zaleha kembali memainkan perannya sebagai isteri dengan melaksanakan kewajibannya sebagai istri.

Buitenzorg atau yang sekarang lebih dikenal dengan nama Bogor, merupakan sebuah kawasan kota hujan yang sejuk dan tempat ideal sebagai tempat peristirahatan. Tetapi kenyamanan kota Bogor itu tidak dapat dirasakan oleh Ratu Zaleha, dan keluarganya. Karena hidup dalam tahanan bukan suatu kondisi menyenangkan. Selama 31 tahun Ratu Zaleha berada di pengasingan Bogor menjalani sisa-sisa usia yang semakin senja. Pada tahun 1937, penguasa Pemerintah Hindia Belanda kemudian memulangkan Ratu Zaleha dan Gusti Muhammad Arsyad (mantan suaminya) beserta keluarga besarnya ke Banjarmasin.

Perlawanan Ratu Zaleha termasuk perlawanan yang paling akhir dalam bentuk perlawanan fisik di Tanah Banjar terhadap kolonialisme Belanda. Secara behavioristik, Ratu Zaleha telah dapat membaca arus perubahan dalam masyarakat. Perlawanan secara tradisional (senjata) terhadap penjajahan Belanda telah berubah menjadi pergerakan politik dengan majunya pendidikan.

BACA LAGI : Ada Tiga Nama Ratu Zalecha, yang Mana Terpilih Jadi Nama RSUD?

Ketika tiba di Banjarmasin pada usia 61 tahun, dan selama di pengasingan hidup di bawah tekanan Pemerintah Hindia Belanda untuk tidak melakukan kegiatan politik apa-pun yang akan menyulut perlawanan kepada pemerintah Belanda. Ratu Zaleha memilih beristirahat serta fokus mendekatkan diri kepada Allah SWT. Ratu Zaleha juga tidak aktif dalam perjuangan politik modern organisasi pergerakan.(jejakrekam/bersambung)

Penulis adalah Penasihat Komunitas Historia Indonesia Chapter Kalsel

Ketua Lembaga Kajian Sejarah, Sosial dan Budaya (SKS2B) Kalimantan

Dosen Prodi Pendidikan Sejarah FKIP ULM Banjarmasin