Berbekal Ranjang dan Cermin, Syekh Muhammad Arsyad Pinang Ratu Aminah

Foto : Syahminan

BEGITU banyak warisan yang diberikan Syekh Muhammad Arsyad Al Banjary bagi generasi ke generasi di Tanah Banjar. Tak hanya menguatkan pondasi ajaran Islam yang bercorak ahli sunnah waljamaah atau sunni lewat kitab-kitabnya yang fenomenal, ulama besar Kesultanan Banjar juga memiliki warisan benda tak ternilai harganya.

KINI, benda-benda bersejarah itu dijaga turun temurun oleh zuriat Datu Kalampayan di Desa Dalam Pagar, Kecamatan Martapura Timur, Kabupaten Banjar, Kalimantan Selatan.

Salah satunya adalah ranjang kayu dan cermin yang telah berumur ratusan tahun itu. Dua benda ini pun dijaga sang cicit, H Mahjuri. Rumah tokoh Dalam Pagar ini terletak di Masjid Tuhfaturroghibin, Jalan Dalam Pagar, Kecamatan Martapura Timur.

Dua benda ini selain kitab-kitab karangan Syekh Muhammad Arsyad Al Banjary yang hingga kini jadi rujukan pengajaran dinul Islam, terus dijaga sebagai kenangan tersisa dalam ulama kharismatik yang hidup di masa 1122-1227 Hijriyah, atau berusia 102 tahun hingga menghembuskan nafas terakhir pada 3 Oktober 1812 Masehi di masa Kesultanan Banjar.

BACA : Jejak Syekh Muhammad Arsyad di Tanah Betawi

Ranjang kayu jati dengan ukiran khas Banjar kini dicat warna emas, dibalus kelambu serta seprai hingga bantal dan guling berkain kuning, serta cermin yang terpasang di dinding rumah H Mahjuri bermotif kembang melati, masih bisa disaksikan hingga kini.

“Memang, banyak tamu yang berkunjung selain berziarah ke makam Datu Kalampayan, juga ingin melihat langsung peninggalan beliau. Ya, seperti ranjang kayu dan cermin,” kata H Mahjuri kepada jejakrekam.com di Dalam Pagar, Senin (10/6/2019).

Terlebih lagi, saat puncak haul akbar ke-213 Datu Kalampayan di Dalam Pagar Martapura, banyak para penziarah pun melihat atau merasakan ranjang dengan berharap berkah dari kemuliaan sang wali besar Tanah Banjar itu. Mereka pun seakan terbawa di era Kesultanan Banjar, ketika sang mufti besar masih hidup dengan melihat atau memegang benda-benda warisannya.

BACA JUGA : Menghidupkan Kembali Sungai Tuan, Menjaga Warisan Datu Kalampayan

Jadilah, rumah H Mahjuri yang merupakan zuriat ke- 8 Datu Kalampayan didatangi para jamaah haul. Menurut H Mahjuri, cermin dan ranjang yang terbuat dari kayu jati milik Datu Kalampayan merupakan hadiah dari Gubernur Jenderal Belanda pada zaman itu.

“Cermin dan ranjang kayu tersebut jadi mahar ketika Datu Kalampayan menikahi Ratu Aminah binti Pangeran Thoha. Pernikahan dengan mahar tersebut digelar setelah Datu Kalampayan pulang dari Tanah Suci Mekkah,” tutur H Mahjuri.

Ia mengungkapkan dirinya bersama keturunan dari Datu Kalampayan, hingga sekarang tetap merawat cermin dan ranjang warisan ulama besar yang sangat mempengaruhi corak keislaman Tanah Banjar hingga kini.

BACA LAGI : Berawal dari Dalam Pagar, Lahir Pondok Pesantren di Tanah Banjar

Dikutip dari berbagai sumber, Syekh Muhammad Arsyad menyunting beberapa wanita untuk dijadikan istrinya dalam misi penyeberan agama Islam. Sedikitnya, ada 11 istri namun sang ulama besar ini tidak mengawini perempuan itu dalam satu waktu.

Seperti dikutip dari http://sr.rodovid.org/wk, dijelaskan apabila salah seorang istrinya meninggal, Datu Kalampayan menikah lagi dan begitu seterusnya. Syekh Arsyad Al Banjary dapat berlaku bijaksana dan adil terhadap para istrinya, sehingga mereka hidup rukun dan damai.

Berikut istri-istri Syekh Muhammad Arsyad adalah pertama Bajut yang melahirkan Syarifah dan Aisyah. Kemudian, dari Bidur dianugerahkan Qadi H Abu Suud, Saidah, Abu Na’im, dan Khalifah H Syahab Al-Din.

Dari perkawinannya dengan Lipur, melahirkan AbdulManan, H Abu Najib, alim al-fadhil H Abd Allah, ‘Abd Al-Rahman, dan alim al-fadhil ‘Abd Al-Rahim. Berikutnya, dari Guwat (keturunan Tionghoa, Go Hwat Nio); melahirkan Asiyah, Khalifah H Hasanuddin, Khalifah H Zain Al-Din, Rihanah, Hafsah, dan Mufti H  Jamaluddin.

BACA LAGI : Jalan Dakwah Syekh Ali Junaidi Al Banjary, Sebarkan Islam ke Negeri Serawak dan Berau

Dalam perkawinan ini, Syekh Arsyad berusaha menyebarkan Islam di kalangan Tionghoa, dia tidak merubah nama istrinya untuk menunjukkan bahwa Islam tidak akan mengubah tradisi mereka, asal tidak bertentangan dengan ajaran pokok Islam.

Dari istri kelima Turiyah, Syekh Arsyad dikaruniai Nur’ain, Amah, dan Caya. Berikutnya, dari Ratu Aminah melahirkan Mufti H Ahmad, Safia, Safura, Maimun, Salehah, Muhammad, dan Maryamah.

Lalu, dari istrinya Palung melahirkan Salamah, Salman, dan Saliman. Kemudian, istrinya bernama Kadarmik dan istrinya kesembilan disebut bernama Markidah, Liyyuhi, dan Dayi. Dari keempat istri yang terakhir ini tidak memberikan keturunan.(jejakrekam)

 

Penulis Syahminan
Editor Didi G Sanusi