Berawal dari Langgar Berdiri Masjid Noor, Masjidnya Para Pedagang

Foto : Sirajuddin

DIAPIT kampung multietnis, Langgar Noor yang merupakan cikal bakal Masjid Noor di Jalan Pangeran Samudera, menjadi pusat peribadahan bagi umat Islam, terutama para pedagang dan pengunjung yang berkunjung ke kawasan Pasar Sudimampir, Pasar Baru dan Pasar Cempaka, Banjarmasin.

KEBERADAAN Langgar Noor juga tak terlepas dari denyut kehidupan Kampung Penatu. Atau yang kini juga dikenal dengan Gang Penatu tembus ke Pasar Sukaramai, penghubung Jalan Hasanuddin HM dan Jalan Pangeran Samudera.

Beragam etnis bermukim, terlebih lagi di kawasan itu berdiri Pasar Baru yang dibangun era kolonial Belanda. Abdul Gani, salah satu sepuh Kampung Penatu pun menyebut dulu di sebelah Gedung Tjung Hua Tjung Hui yang kini jadi parkiran, ada seorang polisi Hindia Belanda bermukim bernama Van Loen.

Dia bertugas mengawasi pasar-pasar yang ada di Banjarmasin, seperti Pasar Sudimampir, Pasar Baru, serta pusat-pusat perdagangan di kawasan pusat kota. Bahkan, seorang dokter gigi berkebangsaan Jepang, dr Shogenji hingga menjadi pejabat tinggi di masa pendudukan di Banjarmasin.

BACA : Sepenggal Cerita Gang Penatu yang Masih Tersisa

Para pemukim Arab dan India pun juga ada di kawasan itu. Termasuk pula, para pedagang Tionghoa yang menghimpun diri dalam sebuah perkampungan Cina atau Pecinan. Namun, ada tokoh yang menonjol ketika itu. Tersebutlah nama Habib Hasan Al Kaff, yang memprakarsai pendirian Langgar Noor hingga menjadi sebuah masjid.

“Ya, awalnya Masjid Noor itu hanya berbentuk langgar. Langgar yang jadi pusat peribadatan para pedagang yang ada di kawasan Pasar Baru, Pasar Sudimampir, Pasar Malabar dan sekitarnya. Ya, sekitar tahun 1940-an, Langgar Noor sangat padat jamaahnya,” ucap Sekretaris Badan Pengelola Masjid Noor Banjarmasin, H Sumarsono kepada jejakrekam.com, belum lama tadi.

Sumarsono pun tak memungkiri jika keberadaan Masjid Noor sangat erat dengan denyut perdagangan di kawasan tersibuk di ibukota Banjarmasin. Baik di era kolonial Belanda, pendudukan Jepang hingga kemerdekaan Republik Indonesia.

BACA JUGA : Pasar Soedimampir dan Amarah si Jago Merah

Atas inisiatif para pedagang Pasar Baru, Pasar Sudimampir, serta tokoh masyarakat akhirnya disepakati untuk Langgar Noor diperluas menjadi sebuah masjid. Hal ini tak terlepas terbentuknya jaringan pedagang muslim yang sudah terbentuk sejak abad ke-15, ditandainya dengan kedatangan para pedagang Arab dan India muslim di Tanah Banjar.

“Memang, lahan Langgar Noor yang kemudian jadi Masjid Noor ini tak lepas dari jasa tokoh Kampung Penatu pada era 1940-an. Ya, keluarga besar Habib Hasan Al Kaff yang menghadiahkan lahan ini untuk dibangun masjid pada 1950-an,” kata H Sumarsono.

Pensiunan pegawai Kemenag Banjarmasin ini mengungkapkan kondisi Langgar Noor yang tak bisa menampung membludaknya jamaah, jadi alasan perluasan bangunan yang awalnya berbentuk model masjid kebanyakan. Bentuk awalnya mirip Masjid Jami Sungai Jingah, dengan bentuk atap limas berlantai dua, dengan kubah kecil di puncaknya.

BACA LAGI : Cerita Bioskop Ratna dan Pasar Blauran, Kenangan Tersisa Warga Banjarmasin

Saat shalat Ied, jamaah pun harus menggelar sajadah hingga ke ruas Jalan Pangeran Samudera, serta wilayah pertokoan konveksi, sepatu, sepeda dan lainnya. Hingga akhirnya di kawasan itu berdiri banyak pasar, seperti Pasar Niaga dan Pasar Cempaka, yang membuat jumlah pedagang makin besar.

Hingga tahun 1990-an, bentuk awal diubah menjadi bangunan ala gedung modern dengan tiga buah kubah. Namun, denyut peribadahan Masjid Noor nyaris tak berubah dari waktu ke waktu, ketika shalat Jumat atau shalat Ied, jamaah tetap membludak hingga memenuhi ruas Jalan Pangeran Samudera dan sekitarnya.

BACA LAGI : Mengenang Imam Besar Masjid Noor, Haul ke-20 Habib Hasan Al Kaff Diperingati

Putra Habib Hasan Al Kaff, Habib Abdurrahman Al Kaff pun ingat betul , dulunya di kawasan Masjid Noor itu banyak dikelilingi pekuburan muslimin. “Memang, saya tak tercatat secara rapi kapan Masjid Noor dibangun persisnya. Data sementara hanya menyebut sekitar tahun 1950-an, berawal sebuah Langgar Noor,” tutur Habib Ayi, sapaan akrabnya.

Ia pun tak memungkiri pembangunan Masjid Noor tak lepas dari jasa para pedagang yang menghimpun dana besar, karena membutuhkan tempat ibadah yang representatif. “Sampai sekarang, jamaah yang mengisi peribadahan di masjid termasuk para pengelolanya kebanyakan merupakan para pedagang. Jadi, jangan heran jika Masjid Noor juga dikenal dengan sebuah masjid para pedagang,” imbuhnya.(jejakrekam)

 

Penulis Sirajuddin
Editor Didi GS