Sehari Bisa Habiskan Penukaran Uang Baru Rp 15 Juta

JELANG lebaran Idul Fitri 1440 Hijriyah menjadi hari-hari yang menjanjikan bagi para penjual jasa penukaran uang di sepanjang Jalan Lambung Mangkurat, Banjarmasin. Memanfaatkan tutupnya operasional bank-bank, para penyedia jasa penukaran uang baru ini bisa meraup untung jutaan rupiah sehari.

ADA puluhan para penyedia jasa penukaran uang yang sudah menyediakan uang dari emisi terbaru dari nilai terbesar Rp 50 ribu, Rp 20 ribu, Rp 10 ribu hingga Rp 5 ribu. Dalam setiap bundelan, seperti uang Rp 5 ribu baru bernilai Rp 100 ribu.

Fahrul, salah satu penjual jasa penukaran uang baru ini mengakui tiga hari sebelum lebaran Idul Fitri, omzet meningkat tajam. Meski mereka sudah beroperasi di tepi Jalan Lambung Mangkurat, Jalan RP Suprapto dan Jalan S Parman sejak 10 hari jelang lebaran.

“Ya, puncaknya biasanya tiga hari sebelum lebaran. Permintaan untuk menukarkan uang baru sangat tinggi, apalagi saat itu jasa penukaran uang baru dari perbankan tutup. Jadi, kami bisa menjual jasa penukaran uang baru,” ucap Fahrul kepada jejakrekam.com, Selasa (3/5/2019) malam.

BACA : BI Kalsel Siapkan Rp 3,5 Triliun Uang Pecahan Baru

Ia mengakui banyak orang yang mencibir pekerjaan penukaran uang ini haram, karena berbau riba. Menurut warga Handil Bakti ini, dirinya bersama para penyedia jasa penukaran baru hanya meminta upah, bukan melakukan transaksi jual beli uang.

“Kami hanya minta upah Rp 10 ribu untuk penukaran uang baru. Ada yang mencibir, pekerjaan ini berbau riba. Yang pasti, kami tak menjual uang dengan uang,” cetus Fahrul.

BACA JUGA : Naik Signifikan, Bank Kalsel Siapkan Dana Segar Lebaran Rp 1,2 Triliun

Ayah satu anak ini mengatakan setiap harinya jelang puncak lebaran bisa menukarkan uang baru mencapai Rp 10 juta hingga Rp 15 juta. Fahrul dan kawan-kawannya pun mendapatkan uang baru itu dari pemasok, dari upah penukaran uang baru itu dibagi sesuai persentase yang dijanjikan.

“Ya, alhamdulillah, tiap hari bisa bawa pulang hingga Rp 400 ribu. Ini sudah bagi hasil dengan pemasok uang baru. Sekali lagi, kami tidak menjual uang, hanya meminta upah. Ya, seperti orang yang meminta ditukarkan uang ke bank untuk mendapat uang baru, ya seperti itulah,” tegas Fahrul.

Fahrul pun menggeluti pekerjaan tahunan ini sudah terhitung tahunan. Menurut dia, dari semua yang menjajakan jasa penukaran uang baru di tepi jalan, hampir satu jaringan atau setidaknya ada tiga atau empat orang sebagai ‘bosnya’. Sejak pukul 8 pagi hingga 10 malam, Fahrul dan kawan-kawan menebar jasa di tepi jalan mengharap para pengguna jalan datang menghampiri dan menukarkan uang lamanya dengan masih gress dari bank.

“Kalau di sini tak laku, saya juga bisa memposting di facebook atau instagram. Ya, media sosial bisa kami gunakan untuk jasa penukaran uang baru ini,” tandasnya.(jejakrekam)

 

Penulis Sirajuddin
Editor Didi GS