Dirgahayu

Dilindungi Kapten Arab dalam Pelarian, Tertangkap Usai Shalat Zuhur (5)

Oleh : Mansyur 'Sammy'

Foto : Berbagai Sumber

RATU Zaleha menyadari betul tentang perubahan zaman yang terjadi. Sejak dilahirkan sampai berusia 36 tahun, wanita pejuang yang mewarisi semangat juang pendahulunya seperti sang kakek, Pangeran Antasari hidup di pedalaman dan berpindah-pindah guna menghindari serangan dari pasukan Belanda.

DARI perlawanan tersebut juga telah membuat ia banyak kehilangan sanak saudara yang begitu dicintainya. Selama satu tahun berjuang sendirian, membuat Ratu Zaleha dan pasukannya makin melemah. Ratu Zaleha bersama pasukannya dalam kondisi fisik yang lunglai ditambah terbatasnya persenjataan. Kemudian badan yang sudah mulai mengurus dan pakaian yang compang camping tampak kurang berdaya lagi menghadapai tekanan musuh yang tetap kuat.

Karena selalu dikejar-kejar oleh pasukan marsose Belanda, Ratu Zaleha merasa sangat letih dan lelah. Apalagi usianya yang telah memasuki angka 40-an. Akhirnya ia ter-tangkap hidup-hidup oleh pasukan serdadu Belanda tanpa perlawanan yang berarti. Apalagi ditangkap dalam kondisi tidak memiliki senjata yang biasanya selalu dibawa dan tidak pernah jauh dari raganya. Ratu Zaleha dilucuti sewaktu bersama ibundanya, Nyai Salamah di wilayah Muara Teweh pada tahun 1906.

BACA : Ratu Zaleha, Srikandi dari Pedalaman Borneo (1)

Proses penangkapan Ratu Zaleha sendiri terjadi selama dua kali. Kali pertama, ia berhasil melarikan diri. Prosesi penangkapan Ratu Zaleha pertama menurut Gusti Hindun, adalah ketika Ratu Zaleha selesai bertempur melawan pasukan marsose Belanda, badan dan pakaian Ratu Zaleha, nampak kotor dengan berkubangan tanah rawa.

Ratu Zaleha kemudian dipersilahkan seorang warga keturunan Arab untuk beristirahat dan membersihkan diri di rumahnya yang ber-tempat di Pengaron, wilayah Kabupaten Banjar. Tanpa curiga sedikit pun, Ratu Zaleha lalu menerima tawaran itu dan segera membersihkan diri di rumah warga tersebut.

BACA JUGA : Tergerak Beratib Beamal, Gusti Zaleha Angkat Senjata Lawan Kolonial Belanda (2)

Selama membersihkan dirinya, segala perlengkapan perang Ratu Zaleha termasuk mandau-nya dilepas dan diletakkan di tempat aman. Setelah selesai bersih-bersih diri, alangkah terkejutnya Ratu Zaleha bahwa rumah tersebut telah dikepung oleh pasukan Belanda.

Dalam keadaan tanpa mempersenjatai diri, Ratu Zaleha meminta untuk dapat mengenakan pakaian yang bersih dan tanpa perlawanan. Dari pengepungan ini, berkat ilmu batin yang ia miliki, akhirnya dapat melarikan diri. Dalam pelarian tersebut, ia melarikan diri ke daerah Muara Teweh, Kalimantan Tengah.

Dalam pelariannya ke Muara Teweh, menurut keterangan keluarga besar Habib Hasan di Ujung Murung, Banjar-masin, Ratu Zaleha sempat singgah di Rumah Habib Hasan untuk bersembunyi. Sebagai tokoh berpengaruh di zamannya, Habib Hasan pernah melindungi pelarian Ratu Zaleha, pejuang Perang Banjar.

BACA LAGI : Gusti Arsyad Diasingkan, Perjuangan Ratu Zaleha di Bawah Tekanan (3)

Ratu Zaleha yang diburu tentara Belanda, tiba-tiba muncul dan menemui Habib Hasan, lantas sang panglima perang ini disembunyikan di bawah ranjang Habib Hasan. Tentara Belanda yang telah mendapatkan informasi tersebut, kemudian mendatangi kediaman Habib Hasan. Dengan penuh keyakinan dan tidak gentar sedikit pun Habib Hasan menghadapi pasukan tentara bersenjata itu.

“Silahkan periksa seluruh isi rumah ini.” ujarnya. Setelah setiap sudut rumah diperiksa, Belanda itu tidak menemukan buruannya. Mereka pun meninggalkan rumah Habib Hasan tanpa hasil. Untuk menghindari kecurigaan lebih lanjut dari spion-spion Belanda, Ratu Zaleha kemudian diung-sikan lagi pada suatu malam dengan menggunakan perahu yang sudah siap menjemput di depan rumah Habib Hasan. Tak jelas kemana perahu itu membawa Ratu Zaleha.

BACA LAGI : Warisi Kerajaan Tanpa Takhta, Perjuangan dalam Kesendirian dan Derita (4)

Habib Hasan memiliki saudara yakni Syarifah Mahani. Sang adik ini menikah dengan Habib Muhammad bin Agil Al-Habsyi. Kemudian Habib Muhammad sering berdialog dengan Habib Hasan dan Surgi Mufti. Panglima Batur, pejuang Perang Banjar, lainnya yang mati syahid dihukum gantung oleh Belanda berguru ilmu kepada Habib Muhammad.

Sebagaimana tahun lahirnya, kapan persisnya Habib Hasan meninggal dunia, pihak keluarga tidak memiliki catatan. Terdapat sebuah foto yang memperlihatkan Habib Hasan berdampingan dengan Gusti Muhammad Arsyad di penghujung Perang Banjar tahun 1904.

Sementara penangkapan versi kedua ini, berdasarkan penuturan Gusti Shuria Putera, pasukan Belanda sudah dapat memperhitungkan kemana Ratu Zaleha melarikan diri atas bantuan para pengkhianat yang turut membantu Belanda melakukan pengejaran. Maka pengejaran Belanda pun sampai ke daerah Muara Teweh, Kalimantan Tengah.

Pada wilayah hutan lebat di Muara Teweh, Ratu Zaleha kemudian melakukan Shalat Dzuhur, bersama pasukannya dan pemimpin perlawanan Banjar lainnya. Mereka adalah pejuang dari daerah Tanjung Pura (Kalimantan Barat), yakni Pangeran Mu-hammad Roem dan Muhammad Thalib.

BACA JUGA : Ratu Zaleha, Demang Lehman & Penghulu Rasyid: Ditangkap Saat Ibadah Shalat

Ketika shalat Dzuhur berlangsung, mereka membuat formasi segitiga, di mana Pangeran Muhammad Roem memberikan perlindungan shaff para jamaah dengan ilmu batinnya. Ditambah lagi perlindungan khusus dari Ratu Zaleha dengan menancapkan latung, sejenis rotan yang menjadi senjata magis selain keris.

Latung tersebut ditancapkan di tanah ke tiga penjuru sehingga membentuk formasi segitiga. Tanpa ada firasat apa pun, Ratu Zaleha dengan khusuk menjalankan ibadah Shalat Zuhur tersebut yang diimami oleh Pangeran Muhammad Roem.

Setelah Shalat Zuhur selesai, mendadak pasukan Belanda datang mengepung. Ratu Zaleha yang belum siap secara fisik akhirnya dapat ditangkap oleh pasukan Belanda karena senjatanya yang bernama latung masih tertancap di permukaan tanah dan belum sempat diambil. Sementara pemimpin pasukan yang lainnya yaitu Pangeran Muhammad Roem dan Muhammad Thalib dapat melarikan diri dari kepungan pasukan marsose Belanda.(jejakrekam/bersambung)

Penulis adalah Penasihat Komunitas Historia Indonesia Chapter Kalsel

Ketua Lembaga Kajian Sejarah, Sosial dan Budaya (SKS2B) Kalimantan

Dosen Prodi Pendidikan Sejarah FKIP ULM Banjarmasin