Dirgahayu

Takjub Lihat Orang Shalat, Kisah Muallaf Tionghoa Banjarmasin Mengenal Islam

PEMBAURAN dan Islam. Dua kata ini sangat lekat bagi warga keturunan Tionghoa yang kini memeluk Islam. Mereka pun menghimpun diri dalam Persatuan Islam Tionghoa Indonesia (PITI). Organisasi yang dulunya bernama Pembina Iman Tauhid Indonesia (PITI) ini cukup aktif mendata serta membimbing warga Tionghoa untuk menjadi pemeluk Islam yang taat.

SEBAGAI muslim yang taat, Muhammad Sayuti yang akrab disapa Om Teteh ini mengaku begitu mendapat hidayah, butuh perjalanan panjang untuk mengenal Islam. Pria yang kini menginjak usia 64 tahun ini, termasuk salah satu pegiat organisasi PITI Kota Banjarmasin.

Melalui organisasi ini, Om Teteh dan pengurus PITI Banjarmasin cukup rajin membimbing warga Tionghoa untuk mengenal lebih dalam seperti apa ajaran Islam itu. Terutama, para muallaf baru dari komunitas mereka, agar membaur dengan pemeluk dinul yang merupakan mayoritas di Banjarmasin.

BACA : Hikayat Dua Klenteng Besar, Identitas Etnis Tionghoa Banjar

“Memang, saya akhirnya memeluk Islam, karena orangtua terlebih dulu mengenalkan agama ini. Mereka duluan masuk Islam, walau pun saya berbeda keyakinan, orangtua kami tak pernah melarang,” tutur Om Teteh saat ditemui jejakrekam.com di kediamannya Jalan Teluk Tiram Darat Gang 34 RT 29, Kelurahan Teluk Tiram, Banjarmasin Barat, Jumat (17/5/2019) malam.

Pengenalan terhadap Islam makin terasah ketika masuk Sekolah Menengah Islam Pertama (SMIP) di Jalan AES Nasution, Kampung Gadang, Banjarmasin.

“Waktu itu, guru agama Islam saya adalah Pak Karim. Dari beliau, saya banyak belajar mengenal Islam, sekitar tahun 1970-an. Walau saat itu, saya masih menganut agama Kristen,” ucap Sayuti.

Waktu itu, dirinya pun belajar mengenal huruf Hijaiyah, belajar membaca dan tulis sebagai dasar untuk bisa mengenal Islam dengan membaca ayat-ayat suci Alquran. Dari SMIP, Sayuti muda pun melanjutkan pendidikan ke SMEA 1 Banjarmasin di Komplek Mulawarman pada 1973. Berpisah dengan Karim, sang guru, Sayuti pun mulai agak jarang lagi mendalami Islam.

BACA LAGI : Leluhur dari Yunan, Etnis Tionghoa Membaur di Pacinan

Nah, saat cukup dewasa, Sayuti pun mengaku sempat terombang-ambing hidupnya. Dalam pencarian jati diri itu, Sayuti pun mengenal seorang pria tua berusia 60 tahun bernama Syahrani Uban. Dari perkenalan itu, Sayuti pun menguatkan diri untuk menjadi muallaf, melepas keyakinan lamanya.

Hingga menikah dengan istrinya pada 1987 dari keluarga muslim taat. Hal ini makin memperkuat keyakinan Sayuti terhadap agama yang dibawa Nabi Muhammad SAW tersebut. Kini, sudah 34 tahun, Sayuti alias Om Teteh ini menggeluti kehidupannya dengan nilai-nilai Islam yang dianggapnya paling lengkap dalam tuntunannya.

BACA LAGI : Sepenggal Cerita Gang Penatu yang Masih Tersisa

“Pengalaman seperti saya rasakan ini juga dialami para warga Tionghoa yang memeluk Islam. Makanya, melalui PITI Kota Banjarmasin, kami mengayomi para muallaf dari warga keturunan Tionghoa,” tutur mantan Bendahara PITI Kota Banjarmasin ini. Saat ini, PITI Kota Banjarmasin juga mengurusi penerimaan dan pengeluaran rukun kematian untuk warga Tionghoa yang kini membaur dan memeluk Islam.

Lain lagi dengan Noor Ainah (63 tahun). Dia mengaku bersyukur hingga di usia senjanya ini telah menjadi muslimah.

“Waktu berumur 33 tahun, saya memeluk Islam. Waktu itu, almarhum kakak saya yang dulu masuk Islam. Setelah saya, baru ponakan saya yang mengikuti langkah kami berdua,” tutur Noor Ainah, warga Tionghoa berbincang dengan jejakrekam.com di Mushala Darul Iman, Teluk Tiram Banjarmasin.

Perempuan tua ini mengungkapkan tertarik untuk mengenal Islam, karena melihat tetangganya sering melaksanakan shalat. Dirinya mengaku takjub dengan kepatuhan tetangganya dalam menjalankan ajarannya. Berikutnya, nenek dua cucu dari dua anaknya ini pun benar-benar serius menjadi muslimah.

“Apalagi, almarhum kakak saya yang duluan masuk Islam. Ini ditambah orangtua kami tak pernah melarang untuk menjadi muslimah.Bahkan, mereka berpesan saat menjadi muslimah untuk taat beribadah,” kenang Noor Ainah, nama muslimah yang menggantikan nama Tionghoanya.

BACA LAGI : Mengintip Kejayaan Karet Kalsel Era Kolonial Belanda

Seperti Sayuti, Noor Ainah pun aktif dalam organisasi PITI Kota Banjarmasin yang menjadi wadah berkumpulnya warga Tionghoa muslim dan muslimah.

“Seminggu sekali dan ada pertemuan bulanan digelar pengajian di kantor PITI Banjarmasin atau bergantian di tiap rumah warga Tionghoa muslim. Intinya, selain menjadi majelis taklim mingguan, juga untuk memperdalam Islam serta menjalin silaturahmi antar anggota PITI Banjarmasin,” imbuhnya.(jejakrekam)

 

Penulis Sirajuddin
Editor Didi GS