Golkar dan Barito Kuala

Oleh : Budi ‘Dayak’ Kurniawan

PILEG 2019 kembali mengukuhkan Barito Kuala, Kalsel, sebagai kabupaten “milik” Partai Golkar. Sebelum dan semenjak reformasi 1998, posisi Partai Golkar di Batola hampir tak pernah goyah. Pada Pileg kali ini, di Batola Golkar meraih 16 kursi. Bertambah tiga kursi dibanding Pileg 2014. 

TREN relatif stabil dan naik ini sesungguhnya nampak pada dua Pileg (2004 dan 2009). Pada 2004, Golkar meraih delapan kursi di DPRD Batola. Pada 2009, Golkar meraih 7 kursi. Lalu pada 2014 meraih 13 kursi.

Kemenangan besar Golkar di Batola bisa jadi merupakan efek dari teori lama tentang budaya politik: parokial subject. Di Batola, genealogis, kharisma, ketokohan, dan sumber daya ekonomi, menunjukkan pengaruhnya. Sosok-sosok yang menjadi panutan dan diikuti publik di kabupaten ini sudah berlangsung sejak lama.

BACA : Jadi Jawara Pileg, Kursi Ketua DPRD Balangan Dipimpin Kader Golkar

Sebut saja nama Almarhum HA Sulaiman HB, putra Bakumpai, yang sepanjang hidupnya tak hanya sekadar disegani karena sumber daya ekonomi yang dimilikinya, namun juga menjadi episentrum hampir segala hal. Episentrum itu menyatu dalam posisi Almarhum sebagai Ketua DPD Partai Golkar Kalsel. Mencari tandingan sosok seperti HA Sulaiman HB di masa kekinian, mungkin tak akan bisa bersua lagi.

Tokoh-tokoh besar Bakumpai, umumnya selalu mengiyakan apa yang menjadi buah pikiran Pak Haji, demikian HA Sulaiman HB biasa disapa. Kerja kerasnya menjadi inspirasi bagi banyak orang. Dalam sebuah pertemuan di RS Medistra, Jakarta, kala Pak Haji akan menjalani sebuah operasi, saya mendengar Pak Haji berkisah tentang sebagian jalan hidupnya.

Ia misalnya, tak kenal lelah menaiki speedboat di sepanjang daerah aliran sungai Barito untuk mengunjungi anakbuahnya yang menjaga rakit kayu-kayu log miliknya pada era 1990-an. “Bekerja membuat kita sehat dan bersemangat,” katanya kala itu.

BACA JUGA : Sama Raih 8 Kursi dengan Golkar, Posisi Ketua DPRD Banjar Bakal Direbut Gerindra

Bekerja keras itu pula yang diapreasiasi mantan Kepala Badan Koordinasi Intelijen (Kabakin) Letjen (Purn) ZA Maulani. Dalam sebuah pertemuan di rumahnya di kawasan Bintaro, Tangerang, Pak Zein, begitu ZA Maulani biasa disapa, mengatakan kepada saya, “Pak Haji kadang asyik dengan dunia bolanya. Namun kepeduliannya kepada Bakumpai dan tanah kelahirannya, tak perlu dipertanyakan lagi”. Mendengar hal itu, saya tertegun sambil menyantap tempuyak dan iwak sapat goreng yang disajikan istri Pak Zein.

Ketika Pak Haji dan Pak Zein berpulang, ramai analisa bahwa Golkar akan berakhir dominasinya di Batola. Analisa itu terbukti salah. Melalui generasi berikutnya (H Mulia Akbar almarhum, H Hasanuddin Murad, Hj Normiliyani AS –Bupati Batola kini, dan Ketua DPD Partai Golkar Batola, Rahmadi –yang juga Wakil Bupati Batola, dan anak-anak Pak Haji) dominasi partai ini berlanjut.

BACA LAGI : Golkar Masih Kokoh di Peta Politik Batola

Pada Pileg 2019, misalnya H Hasanuddin Murad, mantan anggota DPR RI dua periode (1999 dan 2004) dan Bupati Batola dua periode yang berlaga di Dapil Kalsel 3, melenggang cukup mudah untuk menjadi anggota DPRD Kalsel. Pada periode sebelumnya, Hj Normiliyani AS malah meraih suara terbanyak pada Pileg 2014. Hal itu mengantarkan Hj Normiliyani menjabat Ketua DPRD Kalsel. Ia menjadi perempuan pertama menjabat posisi cukup bergengsi itu.

Ketika mengikuti Pilkada 2017, Hj Normiliyani kembali menunjukkan dominasinya. Bersama Rahmadi, ia terpilih sebagai Bupati dan Wakil Bupati Batola. Dalam sebuah perbincangan dengan beberapa warga di Pelabuhan Marabahan menjelang Pileg, saya menangkap alasan sederhana kenapa warga Batola memilih Hj Normiliyani yang merupakan istri Bupati Batola sebelumnya, H Hasanuddin Murad. “Kami memilih orang yang jelas-jelas saja dan sudah baik kepada kami semua. Yang baru belum tentu sebaik yang sudah ada,” ujar beberapa warga.

BACA LAGI : PDIP Sebut Kekalahan Pilpres 2014 Akibat Golkar dan PPP Dukung Prabowo

Mendengar hal itu, saya menyimpulkan, kadang politik begitu sederhana. Pertimbangan publik dalam menentukan pilihannya pun kadang sederhana. Kadang malah jauh dari teori-teori politik yang biasa dipelajari di kampus-kampus. Namun, bisa jadi Hj Normiliyani yang menjadi bupati perempuan pertama di Kalsel ini terpilih antara lain karena faktor genealogis. Jamak diketahui, ia adalah puteri mantan Gubernur Kalsel, H Aberani Sulaiman. Tokoh dari Birayang, Hulu Sungai Tengah, yang dikenal luas dan tegas di Kalsel.

BACA LAGI : Lanjutkan Estafet H Leman, H Yuni Minta KKB Terus Berkiprah di Level Nasional

Jadi, kemenangan besar Partai Golkar di Batola sesungguhnya menjadi titik temu kuatnya pondasi politik. Tokohnya menjadi episentrum banyak hal; program yang ditawarkan dan dilaksanakan tak perlu rumit-rumit, yang penting mencapai langsung ke akar rumput; genealogis yang jelas di masa silam dan mampu bereaksi positif pada zaman kekinian; dan memerhitungkan banyak hal sesuai realita politik. (jejakrekam)

Penulis adalah Direktur Pusat Analisis, Data, Media dan Masyarakat (PADMA) Banua