Warisi Kerajaan Tanpa Takhta, Perjuangan dalam Kesendirian dan Derita (4)

Oleh : Mansyur 'Sammy'

PASCA gugurnya Sultan Muhammad Seman, Panglima Batur, diasingkannya Gusti Muhammad Aryad ke Bogor oleh Belanda dan tertangkapnya Antung Kwing/Kuwin, Ratu Zaleha kembali meneruskan perjuangan melawan Belanda.

PERJUANGAN dengan angkat senjata melawan pasukan Belanda dipimpin langsung Ratu Zaleha. Sang ratu mewarisi kerajaan yang tidak bertakhta dan beristana. Kodrat sebagai perempuan keturunan aristokrat, anak dan cucu seorang pejuang menyebabkan Ratu Zaleha sadar akan tugas pentingnya.  Dia harus meneruskan perlawanan untuk mengusir penjajah.

Kakek dan ayahnya gugur demi membela tanah Banjar, suami dan kakak iparnya diasingkan di Bogor dan Manado. Ratu Zaleha tidak lagi mempunyai pelindung dalam setiap perjuangannya. Perlawanan terus diteruskan dengan pasukan yang masih setia seperti pasukan suku Banjar dan suku Dayak.

BACA : Ratu Zaleha, Srikandi dari Pedalaman Borneo (1)

Salah satu strategi Ratu Zaleha adalah dengan mengecoh dan menahan kiriman bahan makanan ke pos-pos Belanda. Perlawanan terus dilakukan dengan pasukan yang masih setia yang didukung oleh gerilyawan-gerilyawan Suku Dayak Siang, Ngaju, Bakumpai dan orang Banjar itu sendiri yang berjuang dari kejaran dan serangan Belanda.

Serdadu Belanda selalu menyerang pada beberapa tempat yang ternyata telah diketahui oleh pasukan Belanda sebagai tempat persembunyian dari pasukan Ratu Zaleha.

Pasukan Marsose Belanda akhirnya mengetahui tempat persembunyian Ratu Zaleha dan pasukannya. Hal ini tidak terlepas dari peranan pribumi sendiri yang mengkhianati perjuangan Ratu Zaleha demi imbalan emas maupun jabatan dalam pemerintahan Hindia Belanda.

Untuk menghindari serangan dari pasukan Belanda dan mengatasi kejaran dari pasukan Belanda yang dibantu pribumi, Ratu Zaleha bersama pasukannya bergerilya dan sering berpindah-pindah tempat guna menghindari serangan mendadak dari pasukan musuh.

Ratu Zaleha bersama pasukannya melakukan perjalanan long march dari Manawing ke Lahai selanjutnya Mia, sebuah perkampungan pertanian di tepi Sungai Teweh yang dianggapnya sebagai tempat yang paling aman karena tempatnya yang sulit didatangi orang luar, terlebih pasukan Belanda.

BACA JUGA : Tergerak Beratib Beamal, Gusti Zaleha Angkat Senjata Lawan Kolonial Belanda (2)

Dengan kondisi alam yang sulit untuk dilalui, tidak membuat pasukan Belanda menyerah untuk terus mengejar Ratu Zaleha dan pasukannya. Dengan bantuan para pengkhianat, pasukan Belanda akhirnya dapat menuju perkampungan Mia tersebut.

Dengan kekuatan fisik yang tersisa, Ratu Zaleha dan pasukannya melakukan perlawanan. Dengan kekuatan tentang ilmu perang yang dipelajarinya dari ayah dan suku Dayak, pertempuran dimenangkan oleh Ratu Zaleha dan pasukannya meskipun harus bersusah payah.

Korban berjatuhan baik dari pihak Belanda maupun dari pihak Ratu Zaleha. Keadaan sudah sangat kritis, pihak Belanda meminta agar Ratu Zaleha menyerah saja dan akan mendapatkan ganjaran materi menggiurkan.

Dengan semangat warisan kakeknya, Pangeran Antasari yaitu “haram manyarah, waja sampai ka putting,” Ratu Zaleha dengan tegas menolak tawaran tersebut dan dengan kekuatan yang masih ada, ia dan pasukannya terus melakukan perlawanan.

BACA JUGA : Ratu Zaleha, Demang Lehman & Penghulu Rasyid: Ditangkap Saat Ibadah Shalat

Pertempuran tidak terhindarkan pun terjadi. Ratu Zaleha tampil ke tengah tengah pertempuran, dari dalam sebuah rumah dengan cara melompat dari jendela. Ia tampil di antara mayat yang jatuh bergelimpangan dan berlumuran darah. Divtengah perlawanan Ratu Zaleha, serdadu Belanda terus menggempur dengan desingan peluru.

Peluru dari serdadu Belanda hanya dapat mengenai rambut dari Ratu Zaleha yang membuat lepas gelungan rambutnya. Dari kepungan serdadu Belanda, Ratu Zaleha dapat melarikan diri sambil menggendong seorang putera tiri, anak dari suaminya yaitu Gusti Muhammad Arsyad dengan isteri lain. Kemungkinan besar anak yang digendong Ratu Zaleha tersebut adalah anak dari suaminya Goesti Arsat/Gusti Muhammad Arsyad dengan istri kedua, yang dikenal dengan Goesti Oedit.

Kalau dibandingkan dengan sumber penulis lokal, dituliskan suami dari Ratu Zaleha yaitu Gusti Muhammad Arsyad memiliki empat orang isteri. Ratu Zaleha sendiri merupakan isteri pertama dari Gusti Muhammad Arsyad.

Masing-masing nama dari Isteri Gusti Muhammad Arsyad adalah Gusti Zaleha atau kemudian lebih dikenal dengan nama Ratu Zaleha karena memimpin langsung pasukan melawan pasukan Belanda. Kedua adalah Gusti Halimah, ketiga Gusti Bintang dan keempat adalah Gusti Arpiah. Goesti Oedit yang dituliskan dalam sumber Koran Belanda tersebut kemungkinan besar adalah Gusti Halimah.

BACA LAGI : Ada Tiga Nama Ratu Zalecha, yang Mana Terpilih Jadi Nama RSUD?

Dengan sekuat tenaga dan pakaian yang kotor dan compang camping serta lengan kanan yang terluka terkena peluru, dengan semangat perjuangan yang sangat tinggi, Ratu akhirnya dapat melarikan diri dari serangan serdadu Belanda.

Strategi perjuangan Ratu Zaleha yang selalu berpidah-pindah. Tidak menetap di satu tempat saja. Keluar masuk hutan dan mendaki gunung dengan medan yang sulit guna mengecoh pasukan Belanda dan beberapa kali berhadapan langsung dengan pasukan Belanda.

Pada sumber lain dituliskan bahwa dalam suatu medan perang di lembah Barito, Ratu Zaleha terkepung pasukan Belanda. Hutan di sekitarnya dibakar oleh pasukan Belanda hingga menjadi lautan api.

Di bawah desingan peluru dan kepungan api yang membakar, Ratu Zaleha keluar mempertahankan hidupnya yang terakhir. Rambutnya yang cukup panjang dan disanggul rapi telah putus diterjang peluru.

BACA LAGI : Gusti Arsyad Diasingkan, Perjuangan Ratu Zaleha di Bawah Tekanan (3)

Sedang lengannya yang kiri ditembus pula oleh peluru yang lain sehingga badannya bergelimang darah. Baju dan celana compang-camping, darahnya mengalir membasahi tubuh, namun air matanya tak pernah jatuh setetes pun menyesali perjuangannya itu.

Wasiat almarhum ayah dan suaminya sebelum masuk perangkap Belanda tetap dipegang teguh. Untuk sementara Ratu Zaleha dapat meloloskan diri dari kepungan maut peluru dan api yang dahsyat.

Dalam beberapa kesempatan adu tanding yang melibatkan Ratu Zaleha langsung berhadap-hadapan dengan pasukan Belanda. Adu tanding selalu menempatkan Ratu Zaleha di pihak pemenang dan kerap lolos atau melarikan diri dari pasukan Belanda.

Wajar bila masyarakat dan pasukannya yang melihat dan mengetahui perjuangan Ratu Zaleha, beranggapan jika dia kebal terhadap segala senjata yang menghujamnya. Dengan keteguhan hati Ratu Zaleha, ia mampu mengatasi tantangan-tantangan alam maupun serangan dari pihak lawan.

Dalam proses pengejaran, pasukan serdadu Belanda terus melakukan tekanan dan kejaran untuk melemahkan fisik dari Ratu Zaleha dan pasukannya. Selain itu, pasukan Belanda juga melaku-kan strategi menutup akses makanan dan senjata guna melemah-kan pasukan Ratu Zaleha. Dengan strategi ini, pihak Belanda akan dengan mudah mengalahkan pasukan yang dipimpinnya.

Perlawanan bersenjata yang dipimpin langsung oleh Ratu Zaleha setelah ayahnya meninggal hanya bisa bertahan selama satu tahun yaitu dari tahun 1905 sampai 1906. Walau-pun demikian, satu tahun bukanlah waktu yang singkat. Memimpin pasukan perlawanan bersenjata tidaklah mudah.

Dengan sisa-sisa kegigihan dan motivasi berjuang yang ada, Ratu Zaleha bersama pasukannya mengerahkan seluruh kekuatan mereka untuk melawan pasukan marsose Belanda. Dibarengi dengan kondisi fisik lemah dan tidak memiliki pasokan makanan cukup, persenjataan minim, serta jumlah masukan yang kurang memadai membuat kekuatan perjuangan Ratu Zaleha makin melemah.(jejakrekam/bersambung)

Penulis adalah Penasihat Komunitas Historia Indonesia Chapter Kalsel

Ketua Lembaga Kajian Sejarah, Sosial dan Budaya (SKS2B) Kalimantan

Dosen Prodi Pendidikan Sejarah FKIP ULM Banjarmasin

Subscribe to our newsletter
Sign up here to get the latest news and updates delivered directly to your inbox.
You can unsubscribe at any time