Berkat KH As’ad Humam, Metode Iqro Membumi Gantikan Alip-Alipan

KETIKA ingin belajar baca cepat kitab suci Alquran, tentu kita tak asing lagi dengan buku kecil terdiri dari 6 jilid berwarna hitam, berjudul Buku Iqro Cara Cepat Belajar Membaca Al Qur’an dengan khat Arab. Di sampul depan, juga terlihat ada animasi berbentuk kepala manusia.

SEDANGKAN dari cover belakang, buku yang ditulis KH As’ad Humam, Balai Litbang LPTQ Nasional Team Tadarus AAM Yogyakarta, itu berisi 10 sifat buku Iqro, yakni bacaan langsung, CBSA (Cara Belajar Santri Aktif), privat/klasikal, modul, asistensi, praktis, sistematis, variatif, komunikatif dan fleksibel.

Metode Iqro ini menggantikan cara belajar zaman dulu seperti Alip-Alipan atau metode Bagdadiyah yang cukup lama bertahan di Nusantara. Tentu bagi yang lahir pada 1980 dan 1990-an, atau di belakang, akrab dengan metode belajar membaca Alquran yang paling umum diajarkan guru ngaji. Contohnya, “Alif fathah A, Alif kasrah I, alif Dhummah U, A I U,” Inilah metode Baghdadiyah atau Turutan. Ada juga yang menyebutnya dengan Alip-alipan karena diawali dengan menghapal huruf-huruf Hijaiyyah.

BACA : Datangkan Ustadz Rifa’i Alhaq, Baitul Izzah Ajarkan Qira’at Sab’ah Bersanad

Pengalaman belajar lebih mudah dengan metode Iqro ini juga dirasakan Rahman. Mahasiswa Universitas Lambung Mangkurat (ULM) Banjarmasin ini ingat betul saat kecil diajarkan huruf-huruf hijaiyah Arab melalui buku 6 jilid Iqro, sebelum ke tahapan membaca Juz Amma atau Alquran.

“Dengan buku saku Iqro ini mudah dibawa kemana-mana dan bersifat interaktif. Waktu kecil dulu, saya ingat betul setelah shalat Maghrib belajar Iqro dengan marbot masjid,” ucap Rahman kepada jejakrekam.com di Banjarmasin, Selasa (14/5/2019).

BACA JUGA : Membanggakan, Sofia Mawaddah Ukir Prestasi di MTQ Internasional Maroko

Dia menilai buku Iqro terbukti mampu menyalamatkan umat Islam dari buta huruf Alquran. Sebab buku kecil ini memahami dengan baik penyebutan 28 huruf hijaiyah dan tajwid Alquran. Sembari berseloroh, Rahman mengaku waktu kecil terkenang jika melihat sampul belakang buku Iqro, tampak foto KH As’ad Humam seperti perwujudan dari Tuhan.

“Sewaktu kecil kita kan masih polos sampai beranggapan foto lelaki di sampul belakang buku Iqro adalah Allah,” ucap Rahman sambil tertawa terkekeh-kekeh.

Belakangan hari, ia baru mengetahui lelaki di sampul buku Iqro adalah KH As’ad Humam merupakan penemu metode Iqro, cara cepat belajar membaca Alquran yang terkenal seantero tanah air dan masyhur pula di luar negeri.

Dengan buku Iqro itu, bak cendawan di musim hujan, tumbuh subur Taman Pendidikan Alquran (TPA) dan Taman Kanak-Kanan Alquran (TKA). Hingga Banjarmasin, Kalimantan Selatan pun pertama kali di Indonesia, memiliki Gedung Iqra Mahligai Alquran, terletak di Jalan Brigjen Hasan Basry, Kayutangi.

BACA JUGA : Disalami Presiden Erdogan, Rizqon Juara III MTQ Internasional 2017 di Turki

Gedung Iqra Mahligai Alquran itu hingga kini berdiri megah, dan menjadi pusat belajar mengajar Alquran didirikan Gubernur Kalsel Sjachriel Darham, periode 2000-2005. Kebijakan Sjachriel ini kemudian diteruskan Rudy Ariffin, Gubernur Kalsel dua periode (2005-2015) yang meneruskan dengan mengeluarkan Perda Khataman Alquran, melanjutkan jejaknya sewaktu menjadi Bupati Banjar. Belakangan, di Kalsel, ketika masa TKA dan TPA mulai meredup, mulai tumbuh subur rumah-rumah tahfiz yang mengajarkan anak-anak untuk menjadi penghapal Alquran.

Lantas siapa KH As’ad Humam? Ulama yang ahli Alquran ini lahir Yogyakarta pada tahun 1933 dan meninggal pada pada 2 Februari 1996. Pada usia 18 tahun, mendiang KH As’ad Humam terjatuh dari pohon yang mengakibatkan penyakit pengapuran tulang belakang. Akibatnya, dalam kesehariannya, harus berjalan dengan bantuan tongkat dan lehernya sulit digerakkan.

Sebelum menemukan metode Iqro, KH As’ad Humam sempat bertemu dengan KH Dachlan Salim Zarkasyi asal Semarang yang menemukan metode qiroati untuk membaca Al-Qur’an. Tak hanya sekadar ikut mempraktikkan, KH As’ad Humam juga menganalisa cara tersebut dan berhasil menemukan metode yang kelak akan ia gunakan sebagai sistem Iqro miliknya.

BACA LAGI : Gagal di PON 2024, Lagi Kalsel ‘Dikalahkan’ Sumbar Jadi Tuan Rumah MTQ 2020

Namun metode Iqro, hasil susunan KH As’ad Humam tidak diterima dengan baik oleh KH Dachlan Salim Zarkasyi. Ini karena dianggap teknik Qiroati miliknya adalah metode belajar yang telah baku dan tidak bisa dimasuki metode lain.

Tak patah arang, KH As’ad Humam tetap mengembangkan metode Iqro’ hingga terkenal sampai sekarang. Hingga kini, entah telah berapa juta eksemplar buku Iqro yang dicetak dan disebarluaskan ke berbagai penjuru tanah air dan telah menyebar ke seluruh tanah air dan telah sampai di Malaysia, Singapura, Brunei, Thailand, Filipina, Eropa, dan Amerika.

Meskipun sosok KH As’ad Humam telah berpulang namun ulama ini telah mewariskan karya Iqro yang fenomenal dalam baca tulis Alquran dan telah mendapatkan hati di tengah umat Islam. Bukunya senantiasa dipelajari dan diaplikasikan oleh generasi masa lalu, kini dan masa depan.(jejakrekam)

Penulis Ahmad Husaini
Editor Didi GS