Gusti Abdul Muis, Ulama yang Mahir Kitab Kuning dan Kitab Putih

Foto : Dok Humaidy Ibnu Sami

NAMANYA diabadikan di Masjid Kampus Universitas Islam Kalimantan (Uniska) Muhammad Arsyad Al Banjary. Sebagai rektor pertama dan cendikiawan muslim, sosok KH Gusti Abdul Muis dikenal sebagai ulama, aktivis dan pejuang di Kalimantan Selatan.

“SOSOK Gusti H Abdul Muis merupakan ulama panutan masyarakat Banjar, khususnya warga Muhammadiyah di Kalsel. Kepribadian yang sederhana, alim, santun, tawadhu dan demokratis. Pendeknya, ulama ini dikenal pandai berceramah dan produktif dalam menulis karya ilmiah,” ucap sejarawan muslim UIN Antasari Banjarmasin, Humaidy Ibnu Sami kepada jejakrekam.com, Minggu (12/5/2019).

Putra pasangan Gusti H Abdussyukur dan Hj Mastora ini lahir di Samarinda, pada 12 April 1919 di masa kolonial Belanda. Pada 1931 menamatkan Sekolah Rakyat (Volks School), hingga 1933 juga lulus dari Madrasah Tsanawiyah Asy-Syafi’iyyah Samarinda, Kaltim.

BACA : Pemuda Muhammadiyah Harus Perkuat Amal, Bukan Klaim Kata-Kata

“Gusti Abdul Muis kemudian merampungkan pendidikan agama di Ponpes Darussalam Martapura pada 1936, dan Ponpes Darussalam Gontor, Ponorogo dan Ponpes Jamsaren Klaten, Jawa Tengah pada 1938,” tutur Humaidy.

Berbasis keilmuan Islam, Gusti Abdul Muis juga merambah dunia pendidikan umum ketika menjadi mahasiswa Akademi Ilmu Politik Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta pada 1947-1948, meski tidak selesai.

Menurut Humaidy, perpaduan sekolah agama dan umum benar-benar didalami seorang Gusti Abdul Muis. Tak mengherankan, jika ulama ini dikenal dengan kemahiran dalam baca kitab kuning dan kitab putih (modern). Hingga akhirnya dikenal sebagai aktivis Muhammadiyah, hingga pernah menduduki posisi ketua umum.

BACA JUGA : Injak Usia 106 Tahun Muhammadiyah, Haedar Nashir Ingatkan Umat Bersikap Ta’awun

Di masa perjuangan kemerdekaan, Gusti Abdul Muis pernah jadi pimpinan Laskar Pusat Pertahanan Kalimantan serta perintis sekolah yang didirikan Muhammadiyah di Kalsel. Hingga pada 1945, ditunjuk anggota Komite Nasional Indonesia Pusat (KNIP) serta staf Dewan Kelasykaran Puasat di Jakarta, serta pada 1950 menduduki posisi Ketua Pimpinan Ikatan Perjuangan Kalimantan (IPK) serta Pengurus Besar Gerakan Pemuda Islam Indonesia (PII) dan Serikat Buruh Islam Idonesia (SBII) di Jakarta.

Sebagai ulama, pejuang, dan politisi, mengantarkan Gusti Abdul Muis pernah menjadi anggota Dewan Perwakilan Rakyat Sementara (DPRS) dan anggota DPR RI pada 1950-1960.

BACA LAGI : Muhammadiyah Kalsel Komitmen Jaga Lingkungan Hidup

Tak mengherankan, jika akhirnya Gusti Abdul Muis dikenal akrab dengan Perdana Menteri RI Dr Muhammad Natsir. Saat, Natsir yang merupakan tokoh Masyumi ini berkunjung ke Banjarmasin, pasti menemui Gusti Abdul Muis. Mafhum, pada 1953-1955, Abdul Muis merupakan pengurus Partai Masyumi.

Kiprah di dunia pendidikan dan kesehatan juga sangat erat dengan IAIN Antasari dan Rektor Uniska MAB periode 1981-1988, serta IKIP Muhammadiyah di Banjarmasin pada 1964-1965. Termasuk, pernah menjadi Ketua Badan Pengawas Rumah Sakit Islam di Banjarmasin, Pengelola Masjid Ar-Rahman Kampung Melayu, dan Ketua MUI Provinsi Kalsel.

“Sosok Gusti Abdul Muis merupakan ulama yang intelek karena mampu memadukan Islam tradisional dengan Islam modern.Inilah kehebatannya yang selalu akan dikenang hingga kini,” tutur Humaidy.

BACA LAGI : Mastur Jahri, Perpaduan Ulama, Ilmuwan dan Sosok Pemimpin

Karyanya pun kini digali sebagai sumber pengetahuan. Ini karena beberapa karya tulisnya seperti berjudul Iman dan Bahagia, Iman dan Ma’rifah, Mengenal Jalan ke Tasawuf, Insan, Tawasul dan Wasilah, Pengantar Ulumul Qur’an, Isra Mi’raj dan Jihad Dakwah, Bukratan wa Ashila ;Doa Pagi dan Petang, Akidah dan Perkembangan Ilmu Kalam, Risalah Qiyamu Ramadlan hingga Meninjau Sejarah Masuk dan berkembangnya Islam di Kalimantan.

Pemikiran Gusti Abdul Muis juga digali Muhammad Nur Effendi dalam disertasinya S2 di UIN Antasari Banjarmasin, berjudul Konsep Pendidikan Akidah dan Akhlak, di mana ulama ini berpendapat lebih menekankan pada kebebasan akal. Termasuk, mengembangkan pemikiran tawasuf bercorak Sunni, namun lebih menekankan pada amali atau akhlaki.

BACA LAGI : Di Harlah NU, KH Ma’ruf Amin Puji Kehebatan Ulama Kalsel KH Idham Chalid

Ada cerita yang menarik, ketika Gusti Abdul Muis terbaring sakit di usia senjanya. Seperti dikutip dari web PW Muhammadiyah Kalsel, disebutkan Gusti Abdul Muis menolak pengobatan gratis yang dibiayai PP Muhammadiyah, padahal ketika itu sang ulama ini harus bolak-balik masuk rumah sakit, akibat menderita sakit jantung dan hipertensi.

Hingga pada usia 73 tahun, tepatnya pada 27 September 1992, Gusti Abdul Muis menghembuskan nafas terakhir.  Jasadnya dikebumikan di Alkah Pekuburan Muslim Muhammadiyah Banjarmasin.(jejakrekam)

 

 

 

 

Penulis Didi GS
Editor Didi G Sanusi