Tiap Hari Ludes 200 Loyang Wadai Bakarat Khas Banjar

SAAT bulan suci Ramadhan tiba, inilah waktunya menikmati aneka kue basah tradisional Banjar hadir. Beragam wadai, sebutan masyarakat Banjar untuk menyebut kue basah begitu menggoda sebagai takjil menu berbuka puasa.

PERSAINGAN antar pedagang wadai pun tak hanya ada di pasar-pasar wadai yang berdiri, namun juga ada di  beberapa ruas jalan di Kota Banjarmasin.

Seperti sepanjang Jalan HKSN, tepatnya di seberang Masjid Mujahirin, ada sebuah kios wadai yang langganan diserbu warga sekitar komplek perumahan dan perkampungan dekat kantor Camat Banjarmasin Utara itu.

Wadai seperti bingka, putrid selat, amparan tatak, sari pengantin, sarikaya nangka, kasusun hijau, hula-hula, sari muka, kararaban, lapis India, lapis coklat dan lainnya ditawarkan Hajjah Ida.

BACA : Pasar Wadai Ramadhan Ramai, Penjaga Parkir Turut Ketiban Rezeki

Empat tahun sudah Hajjah Ida menggelar dagangan wadai khusus bulan Ramadhan. Sejak pukul 16.00 Wita, kiosnya pun diserbu para pembeli yang kebanyakan sudah menjadi langganan.

Walhasil, ada 30 loyang yang diboyong dari rumah industri milik ibunnya di Kertak Baru Ulu, ludes hingga jelang azan Maghrib.

“Tiap hari, ibu saya membuat sedikitnya 200 loyang. Tak hanya berjualan di sini, ada juga yang mengambil wadai itu untuk dijual di tempat lain. Kalau di sini, seharinya saya bawa 30 loyang berbagai macam wadai bakarat. Yang cepat habis ya amparan tatak dan kararaban,” ucap Hajjah Ida kepada jejakrekam.com, Minggu (12/5/2019).

Dengan harga yang cukup murah, per potong atau karat dalam ukuran wadai Banjar hanya Rp 8 ribu. Untuk wadai seperti putri selat dan lapis India, dibandrol Rp 10 ribu karena bahannya lebih banyak.

“Semua wadai ini dibuat dari bahan alami. Seperti lapis India, pewarnanya dari pudak (pandan). Tak menggunakan sarimanis, gula asli baik gula pasir maupun gula merah,” tutur Ida.

BACA JUGA : Jaga Rasa, Bingka Iva Kini Bisa Bersaing di Pasar Wadai Banjar

Saking kewalahaan melayani pembeli, Hajjah Ida pun mempekerjakan anak-anak dan adiknya, sehingga semua bisa terlayani. Tiap hari, Hajjah Ida bisa membawa pulang uang jutaan hingga belasan juta.

“Kami hanya berjualan di bulan Ramadhan. Karena permintaan wadai bakarat lebih tinggi dibandingkan bulan biasanya,” ucap Ida.

Dengan resep keluarga yang dijaga turun temurun, Ida mengatakan rasa wadainya pun berbeda dengan pedagang lainnya, karena masih mempertahankan pembuatan secara tradisional serta bahan-bahan alami. Ini semua demi mempertahankan pelanggan serta menjaga rasa wadai Banjar itu tetap dinikmati terutama saat menjadi menu takjil berbuka puasa.(jejakrekam)

 

Penulis Siti Nurdianti
Editor Didi GS