Berpuasa Ramadhan Itu dalam Sisi Medis Justru Menyehatkan

METABOLISME tubuh dalam mengolahkan makanan dan minuman menjadi sumber energi berubah drastis selama menjalankan puasa di siang bulan Ramadhan. Jika sebelumnya, kerja lambung dan organ tubuh lainnya cukup tinggi di siang hari, kini berganti ke malam hari.

DIREKTUR RSUD Dr Moch Ansari Saleh, Dr Izzak Zoelkarnain Akbar menyarankan agar dalam menjalankan puasa Ramadhan agar tubuh tetap bugar dan sehat, maka pola makan waktu sahur dan berbuka puasa harus seimbang.

“Sarannya, ya makan sahur harus dengan cukup gizi, banyak minum air putih dan bekerja seperti biasa dan diselingi olahraga ringan, semacam jalan sehat. Meski volume agak berkurang dibanding bulan biasanya,” ucap Izzak Zoelkarnain Akbar kepada jejakrekam.com, Kamis (9/5/2019).

BACA : Tips Sehat agar Saat Berpuasa Tetap Bugar

Dalam ilmu medis atau kesehatan, dokter spesialis orthopaedi & traumatalogi, konsultan hand dan microsurgery ini mengatakan puasa itu pada hakikatnya sangat bermanfaat bagi tubuh seseorang.

“Dalam sehari itu, minimal minum air 3 hingga 5 liter. Paling tidak, satu gelas saat berbuka, makan takjil dilanjutkan dengan shalat Maghrib. Kemudian, makan sedikit mengurangi lapar, selanjutnya shalat Isya dan Tarawih. Rutinitas semacam ini justru membuat tubuh sehat,” beber dokter umum jebolan Universitas Brawijaya Malang ini.

BACA JUGA : Ini Lima Tips agar Tubuh Tetap Bugar Walau Berpuasa

Ketua Perhimpunan Ahli Bedah Orthopaedi Indonesia (PABOI) Cabang Kalselteng ini mengatakan selama Ramadhan, tentu pola makan akan terbagi dalam tiga fase, saat berbuka puasa, makan malam dan sahur jelang imsyak.

“Terpenting itu, pada malam hari adalah harus mengurangi kemampuan usus dan lambung dalam mencerna makanan jangan terlalu berat. Makanya, saya sarankan jangan terlalu kenyang saat berbuka puasa,” tuturnya.

Saat santap sahur, Dokter Izzak menyarankan agar kebutuhan gizi dan kalori tercukupi, terutama mengkonsumsi daging, ikan dan lainnya untuk sumber tenaga pada siang hari saat berpuasa.

“Makanya, dalam ajaran Nabi Muhammad SAW menyunahkan mengkonsumi kurma. Ya, karena kurma itu mengandung glokosa yang baik bagi tubuh saat kekurangan energi usai berpuasa, sehingga bisa digantikan dengan kalori yang terdapat dalam kurma,” tutur Izzak.

BACA LAGI : Sering Kencing dan Haus, Badan Lemas, Waspada Ginjal Sudah Terganggu

Dosen Fakultas Kedokteran Universitas Lambung Mangkurat (ULM) ini mengungkapkan perubahan metabolisme tubuh saat berpuasa berubah drastis. “Kemampuan usus untuk mengolah makanan itu durasinya lima jam. Hitung saja, saat santap sahur sekitar pukul 4 atau 5, maka pukul 11 siang sudah kosong. Biasanya, kalau tak berpuasa, pukul 12.00, makanya saat itu harus makan siang, tapi hal itu tidak terjadi saat kita berpuasa Ramadhan,” urai Izzak.

Justru, menurut dia, saat seseorang berpuasa, dari pukul 12.00 hingga menjelang azan Maghrib, usus dalam keadaan beristirahat dan tidak bekerja, bisa memperbaiki sel-sel yang rusak.

“Itu terjadi saat keadaan perut kosong. Selain itu, dengan berpuasa, maka sumber tenaga yang sebelumnya dari darah gula, diambialih asam lemak. Jadi, berpuasa Ramadhan itu juga menjadi diet sehat, karena tumpukan lemak di perut, paha dan lainnya akan jadi sumber energi bagi tubuh,” ucap dokter yang meraih berbagai penghargaan internasional ini.(jejakrekam)

 

Penulis Siti Nurdianti
Editor Didi GS