Ramadhan untuk Membangun Solidaritas dan Semangat Berbagi

RAMADHAN bermakna kolektivitas, solidaritas. Ditanamkan rasa empati, peduli, semangat berbagi. Mengajarkan kebersamaan sejati. Madrasah menuju manusia paripurna. Bagaimana membangun kolektivitas dan solidaritas warga? Pada soal apa kepedulian dan solidaritas harus dibangun?

RAMADHAN ini semestinya bisa menjadi wahana memupuk semangat solidaritas warga. Empati pada yang tidak mampu, semangat berbagi hendaknya tumbuh di bulan ini. Solidaritas, serta kepedulian pada orang lain yang nasibnya belum beruntung. Ataupun yang sedang mengalami bencana, terutuma bencana alam, mudah muncul solidaritas di tengah masyarakat. “Hal tersebut merupakan modal sosial  yang sangat besar bagi kita masyarakat Kalimantan Selatan,” ujar Berry Nahdian Furqon, Aktivis gerakan sosial, pada Palidangan Noorhalis bertajuk Ramadhan, Membangun Solidaritas Warga, Kamis (9/5/2019), di Pro 1 RRI Banjarmasin.

Menurutnya, Sekarang ini masyarakat yang kebersamaan dan kolektivitasnya cukup tinggi tersebut, terbelah karena adanya pilihan politik yang berbeda. Solidaritas bisa luntur karena kepentingan politik. Karena itu kita harus mengajak warga untuk membangun solidaritasnya kembali. Mencari kepentingan bersama sebagai pengikat. Fenomena dunia maya dengan banyaknya fitnah, ujaran kebencian, menjadi penyebab lunturnya solidaritas warga. Ramadhan ini bisa menjadi momentum untuk kembali berefleksi, melatih diri untuk bisa menahan berbagai hal menyangkut media sosial yang berdampak negatif.

Sebaliknya, karena dunia maya tidak dapat dihilangkan, maka solidaritas dapat dibangun dengan melibatkan anak muda, membuat kontent-kontent positif, menyampaikan pesan-pesan damai, membawa kesejukan bagi warga. Bukan kontent yang memprovokasi ataupun kabar fitnah yang tidak bertanggungjawab.

Sisi lainnya, Ramadhan juga mengajarkan kepedulian kolektif untuk tidak konsumtif.  Jangan karena mampu lalu mengumbar kemewahan. Sekalipun bayak uang, cukup beli yang dibutuhkan saja. Yang tidak dibutuhkan, tidak perlu dibeli. “Kalau itu bisa dilakukan, maka kita sudah peduli atau empati pada yang belum beruntung. Dalam bulan Ramadhan ini, banyak komunitas warga melakukan berbagai kegiatan guna membangun kepedulian, misalnya menghimpun dana untuk anak yatim, untuk tuna wisma, menggalang dana untuk yang tidak mampu, melakukan aksi ramadhan ceria untuk orang miskin, dan lain sebagainya,” katanya.

Selain itu, Ramadhan juga melatih toleransi. Sikap toleransi harus terus  dibangun. Dalam soal ini, masyarakat banjar memiliki kearifan. “Warung Sakadup”, merupakan bentuk toleransi orang Banjar kepada yang tidak menjalankan puasa. Bukan hanya bagi orang nonmuslim, yang muslim tetapi tidak dapat menjalankan puasa karena alasan tertentu, juga diakomodir dalam warung sakadup. “Karenanya jangan salah memahami keberadaan warung sakadup,” ujar Berry menyampaikan paparannya.

BACA : Ramadhan dan Perbaikan Pelayanan Publik

Beberapa pendengar menyampaikan tanggapan, Hj Ratna di Marabahan, menyampaikan pertanyaan tentang apa saja tahapan sehingga puasa dapat berubah wujud menjadi solidaritas warga.  Bagaimana bentuk solidaritas di dunia maya? Apakah bagi-bagi uang dalam Pemilu, bagian dari upaya meringankan saudara yang tak berpunya?

Penelpon lainnya, Syahri di Banjarmasin, menyampaikan bahwa bentuk solidaritas yag diajarkan di bulan Ramadhan ini adalah menahan lapar agar merasakan nasib orang yang kelaparan. Kalau itu bisa dirasakan dan kemudian merubah tindakan untuk peduli pada mereka yang kelaparan, berarti puasa berhasil menumbuhkan solidaritas pada diri kita. Puasa juga mengajarkan untuk jujur. Maka Pemilu yang penuh dengan ketidak jujuran, dapat dipulihkan kembali melalui Ramadhan ini, sehingga kita kembali menjadi orang yang jujur.

Mendapat sejumlah pertanyaan, Berry Nahdian Furqon memberikan tanggapan balik. Ia setuju bahwa  Ramadhan menjadi media melatih diri, menahan diri, tidak mudah terprovokasi. Karena ada ketahanan dalam dirinya untuk jujur, tidak menyakiti orang lain, berlaku adil, tidak zholim, dan lain sebagainya. Tidak saja  dalam konteks pergaulan atau hubungan langsung, pun hubungan atau komunikasi dunia maya, harus pula bisa menahan diri. Berikan informasi yang bermanfaat. Bila ada yang tidak bermanfaat, jangan ikut menyebarkannya.

Soal tahapan membangun solidaritas, mulailah dari diri sendiri. Bila diri sendiri sudah bisa dikendalikan, tidak menjadi bagian yang memecah belah, maka itulah tahapan awal dalam membangun solidaritas. Berikutnya, melakukan hal-hal positif yang dapat memupuk  kebersamaan.

Sekarang ini, ujar Berry, ideologi-ideologi baru juga tumbuh dan cenderung eksklusif. Menganggap diri paling benar, menyatakan yang lain salah. Tidak mau membaur pada kelompok lainnya, membangun tembok pemisah, sehingga yang muncul adalah ketegangan antar warga dengan idiologi atau paham yang berbeda.

Money politics bukanlah bentuk kepedulian pada saudara lainnya. Justru itu pembodohan. Karena mengajarkan orang untuk tidak bertanggungjawab pada pilihannya. Money politik telah membuat demokrasi berjalan tidak sebagaimana mestinya. Menjadi oligarki. Kekuasaan hanya berputar pada orang-orang yang memiliki duit saja.

BACA JUGA : Tradisi Bagarakan Sahur, Kultur Banjar Semarakkan Dinihari Ramadhan

Berbagai aksi yang dilakukan pada bulan Ramadhan ini mungkin dimensinya kecil, namun kita harapkan menjadi sarana latihan untuk dapat membangun solidaritas pada soal-soal yang lebih besar seperti solidaritas menyelesaikan problem bangsa, problem banua, problem lingkungan, dan lain sebagainya. Maka dari itu, setelah Ramadhan usai, cukup bagi kita untuk melatih solidaritas, setelah itu kita dapat mengidentifikasi berbagai masalah, selanjutnya membangun semangat kolektivitas, kebersamaan. Lalu merumuskan berbagai jalan keluar, sehingga banua dapat dibangun secara lebih baik. Ramadhan dapat menjadi latihan untuk membangun hal-hal yang lebih besar.

Ramadhan yang penuh dengan aturan. Mengajarkan kepada kita untuk selalu membangun tata nilai, memperkuat etika, dan menjadikan hal-hal yang bersifat universal sebagai titik temu perjumpaan dari berbagai keragaman. Kalau itu bisa menjadi pelajaran, maka kita bisa membangun peradaban yang lebih bagus.

“Mari kita merefleksikan makna Ramadhan ini. Mengasah empati kita sedalam-dalammnya. Mengolah rasa kepedulian pada orang lain. Mulai pada soal-soal kecil, dari diri sendiri, keluarga, lingkungan, dan terus hingga merdampak bagi bangsa ini,” ungkap Berry mengakhiri paparannya.(jejakrekam)

Penulis Andi Oktaviani
Editor Andi Oktaviani