Gusti Arsyad Diasingkan, Perjuangan Ratu Zaleha di Bawah Tekanan (3)

Foto : Dokumentasi

 TAHUN 1904, menjadi tahun tingginya intensitas tekanan terhadap perjuangan Sultan Muhammad Seman dan Gusti Zaleha. Tekanan itu datang ketika Belanda berhasil menangkap Gusti Muhammad Arsyad, suami dari Gusti Zaleha yang kala itu ditunjuk sebagai panglima perang oleh mertuanya sendiri. Gusti Muhammad Arsyad ditawan dengan Surat Keputusan Gubernur Jenderal Belanda tertanggal 1 Agustus 1904 dan dikirim ke Buitenzog (Bogor) untuk menjalani pengasingan.

DI BAWAH  pimpinan Hesselar, Gusti Muhammad Arsyad diberangkatkan dari wilayah Puruk Cahu ke Banjarmasin dengan menggunakan Kapal Barito, kira-kira pukul 09.30 pagi. Sesampainya di Banjarmasin, di bawah pimpinan Residen de Rooy, Gusti Muhammad Arsyad diberangkatkan ke Bogor dengan memakai Kapal Flores. Dari beberapa sumber menyatakan bahwa Gusti Muhamad Arsyad menyerah kepada Belanda bersama Antung Durakhman dan Gusti Acil.

Dengan alur yang sama mengikuti perundingan dengan Pemerintah Belanda dan menyetujui tawaran Pemerintah Belanda untuk menyerah dan diasingkan ke Bogor serta mendapat tunjangan setiap bulan. Sebagai tawanan Gusti Muhammad Arsyad mendapat tunjangan sebesar f 300, per bulan terhitung sejak tanggal 1 Mei 1906.

Tunjangan ini berdasarkan surat Sekretaris Goebernemen 25 Juli 1906 no. 1198 yang ditujukan kepada Ekslensi Gubernur Jenderal Hindia Belanda, dan Assisten Residen Bogor.

Kehilangan Ayah dan Motivasi Perjuangan

Sepeninggal sang suami diasingkan ke Bogor, Gusti Zaleha kemudian melanjutkan perjuangan bersama ayahnya yaitu Sultan Muhammad Seman. Dibantu pejuang-pejuang lainnya seperti Antung Kuwin, Surapati, Bulan Jihat dan lainnya. Perjuangannya tidak surut akibat pengasingan sua-minya. Tahun 1904 dan tahun 1905 nampaknya menjadi tahun yang suram bagi Gusti Zaleha.

BACA : Ratu Zaleha, Srikandi dari Pedalaman Borneo (1)

Setahun kemudian, tepatnya tahun 1905, ayahnya yaitu Sultan Muhammad Seman gugur dalam pertempuran melawan Belanda di bukit Menawing. Pasukan Belanda yang dipimpin Letnan Hans Christoffel menyerang benteng pertahanan Sultan Muham-mad Seman. Serangan tersebut terjadi pada subuh hari dan mendadak. Pertempuran hebat pun terjadi.

Dalam pertempuran tersebut, salah satu panglima dari Suku Dayak yang setia dengan Sultan Muhammad Seman adalah Panglima Batur. Bersama Gusti Zaleha dan Sultan Muhammad Seman berjuang bersama mempertahankan benteng terakhir di sungai Manawing. Dalam pertempuran ini, Sultan Muhammad Seman tertembak dan gugur dalam perjuangannya mempertahan-kan benteng Manawing sebagai benteng pertahanan Pagustian. Beliau dimakamkan di Puruk Cahu.

BACA JUGA : Ratu Zaleha, Demang Lehman & Penghulu Rasyid: Ditangkap Saat Ibadah Shalat

Kembali ke pembahasan mengenai Ratu atau Gusti Zaleha, dalam pertempuran di Bentang Manawing ini, Gusti Zaleha berhasil meloloskan diri dari serangan Belanda. Bahkan ketika Sultan Muhammad Seman gugur dalam tahun 1905 tersebut, Ratu Zaleha sempat mengamuk dan menewaskan sejumlah serdadu Belanda, tetapi ia tetap terdesak, untuk kemudian lari ke hutan. Sebelum ayahnya meninggal, Gusti Zaleha sempat menerima cincin kerajaan dari ayahnya se-hingga dia kemudian dinobatkan sebagai Ratu.

Penobatan tersebut pada awal Abad ke-20 tepatnya pada tahun 1905. Sejak penobatan ini, akhirnya ia dipanggil dengan sebutan Ratu dan dikenallah namanya menjadi Ratu Zaleha. Sejak tahun 1905, dimulai perjuangan Ratu Zaleha yang sendiri memimpin langsung pasukan mela-wan pasukan Belanda.

 

Pasca gugurnya Sultan Muhammad Seman, para panglima pendukungnya banyak yang pulang kampung halaman masing-masing untuk meneruskan perjuangan. Satu di antaranya Panglima Batur. Tertegun dan dengan rasa sedih yang mendalam ketika Panglima Batur kembali ke Benteng Manawing yang musnah.

Sultan Muhammad Seman, pimpinannya telah tewas. Panglima Batur dan teman seperjuangannya, Panglima Umbung lalu kembali ke kampung mereka masing-masing. Panglima Umbung kembali ke Buntok-Kecil. Seman-tara Panglima Batur meneruskan perjuangan di Kampung Lemo.

BACA JUGA : Tergerak Beratib Beamal, Gusti Zaleha Angkat Senjata Lawan Kolonial Belanda (2)

Selain Ratu Zaleha, Panglima Batur menjadi pimpinan perjuangan satu-satunya yang bertahan. Karena licin dan sulit ditangkap, Belanda memasang perangkap meringkus Pang-lima Batur. Begitu ada upacara adat perkawinan kepona-kannya di Kampung Lemo, saat itu keluarga besar Panglima Batur ditahan. Cara licik ini diskenariokan Residen Belanda, van Wear untuk menangkap Panglima Batur dengan menyan-dera keluarganya. Berkedok sebuah perundingan di Muara Teweh, Panglima Batur akhirnya ditangkap Belanda.

Selain nasib Panglima Batur yang ber-akhir di tiang gantungan, kekuatan perlawanan rakyat ter-pencar-pencar. Pasukan Antung Kuwin menuju Barito Hulu kemudian menggabungkan diri dengan pasukan Tumenggung Surapati. Dan pada tanggal 1 Juli 1905 Antung Kuwin pun terpaksa menyerah kepada Belanda.

Pada sumber lainnya, dalam Koran Hindia Belanda, Het Nieuws van den dag Voornederlandsch-Indie, No. 144, Zater-dag (Sabtu) 24 Juni 1905, memaparkan peristiwa terkait Gus-ti Muhammad Arsyad dan Ratu Zaleha. Dalam sumber ini dituliskan bahwa berdasarkan laporan dari wilayah Divisi Doesenlanden, Zuider dan Oosterafdeeling van Borneo (Kalimantan), pada paruh pertama bulan Juni, di wilayah Moeara Téwé (Muara Teweh) dan Poeruk Tjahoe (Puruk Cahu) bahwa Antoeng Kwing akan mengunjungi Téwé Atas disertai sekitar 200 orang pengikut/pasukannya, untuk bertempur ke wilayah itu.

Dari kedua tempat tersebut, beberapa pasukan patroli pun melakukan pengejaran. Pada tanggal 21 Desember, pasukan Maréchaussées (Marsose) yang dikerahkan Pemerintah Hindia Belanda ini menemukan tempat persembunyian mereka.

Dalam serangan tempat persembunyian Antoeng Kwing, empat pasukannya dan dua senapan beserta amunisi jatuh ke tangan marsose. Beberapa pemimpinnya, termasuk Mangkoe Toeha dari Njaring Oehing dan Tamenggoeng Dalé dari Dajaks Poenan, menawarkan pengajuan untuk menyerah selama bulan itu. Salah satu dari dua wanita istri dari Goesti Arsat (istri kedua), yang dikenal dengan Goesti Oedit, dan beberapa bangsawan dari pegoestian meninggalkan Middle Doesoen (Dusun Tengah) lalu berangkat ke Bandjermasin dengan tujuan Buitenzorg.

BACA LAGI : Ada Tiga Nama Ratu Zalecha, yang Mana Terpilih Jadi Nama RSUD?

Sementara itu, istri pertama Goesti Arsat, bernama Goesti Djaleha, dijemput oleh Raden Djojo bin Pandji dari Boven Doesoen dan pergi ke Sampiran di Boven Téwé. Belum ada informasi yang jelas mengenai alasan untuk ini. Patroli yang dikirim di bawah komando letnan Taale menyerang pasukan Gusti Djaleha dan Raden Djojo bin Pandji di kampung Sampiran. Serangan ini menyebabkan seorang guide atau penunjuk jalan dari pedalaman (orang pribumi) meninggal, dan seorang perawat dari orang Eropa terluka parah.

Kemudian dari Steamer/Kapal Api Negara, beberapa tembakan juga dilepaskan ke Moeara Laoeng. Laporan lain dari Kapal Uap Fanny di dekat Leinoe, di kampung Lemoe, beberapa orang, yang dicurigai berhubungan dengan Batoer (Panglima Batur) pun ditangkap.(jejakrekam/bersambung)

Penulis adalah Penasihat Komunitas Historia Indonesia Chapter Kalsel

Ketua Lembaga Kajian Sejarah, Sosial dan Budaya (SKS2B) Kalimantan

Dosen Prodi Pendidikan Sejarah FKIP ULM Banjarmasin