Tergerak Beratib Beamal, Gusti Zaleha Angkat Senjata Lawan Kolonial Belanda (2)

Foto : Dok Mansyur 'Sammy'

GUSTI Zaleha kemudian tumbuh dan menjadi bagian dari keluarga yang sedang berjuang melawan kolonialisme yang telah melakukan penindasan, pengambilan tanah-tanah rakyat, dan pungutan pajak yang memberatkan rakyat. Pembentukan karakter Gusti Zaleha juga tidak terlepas dari peranan ibundanya yaitu Nyai Salamah. Ibu merupakan peletak dasar pembentukan karakter seorang anak.

SEMASA Gusti Zaleha kecil dan remaja, ia mendapatkan pendidikan secara sederhana dari kedua orang tuanya. Ayahnya yaitu Sultan Muhammad Seman yang juga sebagai pe-mimpin perlawanan terhadap pasukan Belanda dan sebagai kepala keluarga ia berladang untuk menafkahi keluarganya. Waktu yang diberikan oleh Sultan Muhammad Seman untuk memberikan ilmu dan pendidikan terhadap Gusti Zaleha terbatas.

Selain diajarkan keterampilan perempuan, ilmu agama dan ilmu perang, Gusti Zaleha juga diajarkan tentang tata kelakuan antara anak kepada ayah, anak kepada ibu, dan isteri kepada suami.

BACA : Ratu Zaleha, Srikandi dari Pedalaman Borneo (1)

Meskipun Gusti Zaleha diajarkan tentang ilmu perang yang sangat kontras sekali dengan kodrat Gusti Zaleha sebagai perempuan yang diidentikkan dengan kelem-butan dan kelemahan. Dengan ilmu perang Gusti Zaleha menjadi seorang sosok perempuan yang berkarakter keras, tegas, tidak takut dengan pasukan Belanda.

Kawin dengan Gusti Muhammad Arsyad

Menurut Helius Syamsudin pada tahun 1900, pada usia Gusti Zaleha menginjak 20 tahun, dia dipersunting oleh Gusti Muhammad Arsyad, anak dari Gusti Muhammad Said. Gusti Muhammad Arsyad, masih merupakan saudara sepupunya yang juga ikut terlibat dalam perjuangan melawan Belanda, serta merupakan bagian dari pasukan Sultan Muhammad Seman.

Gusti Zaleha dinikahkan dengan sepupunya yaitu Gusti Muhammad Arsyad oleh ayahnya Sultan Muhammad Seman guna terus menjamin keturunan-keturunan legitim Pegustian yang dibentuk oleh Sultan Muhammad Seman. Pernikahan Gusti Zaleha dengan Gusti Muhammad Arsyad diatur dan menjadi tanggung jawab bubuhan.

BACA JUGA : Ratu Zaleha, Demang Lehman & Penghulu Rasyid: Ditangkap Saat Ibadah Shalat

Gusti Zaleha adalah sosok seorang puteri yang me-nyaksikan langsung bagaimana ayah dan suaminya berjuang bersama bahu membahu melawan penjajahan Belanda. Fenomena historis ini membuat dia pun ikut terjun dalam perlawanan terhadap Belanda sebagai rasa cinta terhadap tanah Banjar, melawan segala macam bentuk penjajahan dan penindasan serta perang atas dasar jihad fi sabilillah.

Semangat jihad ini tidak terlepas dari munculnya gerakan Beratib Beamal di tahun 1859-1860 an. Menurut Mujiburrahman, bahwa satu hal yang amat menonjol di masyarakat Banjar Abad ke-19 adalah gerakan keagamaan yang disebut Beratib Beamal, yang telah menjadi organisasi perlawanan yang militan melawan kekuasaan Belanda.

Helius Sjamsuddin mencatat beberapa kasus penyerangan terhadap Belanda di Amuntai, Kelua dan Kandangan, yang dilakukan oleh para pengikut Beratib Beamal.

Mereka menyerang dengan penuh keberanian, karena yakin apa yang dilakukan mereka adalah jihad fi sabilillah. Dilaporkan juga bahwa mereka membawa jimat-jimat.

Helius Sjamsuddin memperkirakan, berdasarkan sebuah laporan Belanda, gerakan Beratib Beamal itu kemungkinan besar adalah pengikut Tarekat Naqsyabandiyah. Sementara itu, Bruinessen berpendapat mereka adalah pengikut Tarekat Sammaniyah dengan alasan salah seorang anak Pangeran Antasari bernama Gusti Muhammad Seman.

BACA JUGA : Semangat Juang Ratu Zaleha dalam Sendratari Kolosal

Apapun nama tarekat itu, yang jelas adalah bahwa pada abad ke-19, gerakan tasawuf di daerah ini bukan sekadar ajaran spiritual belaka, melainkan sudah menjadi gerakan sosial.

Dengan semangat beratib beamal tersebut dan bekal ilmu yang ia dapat, Gusti Zaleha ikut berjuang bersama ayah dan suaminya melawan pasukan Belanda. Kedudukan Gusti Muhammad Arsyad semakin kuat ketika ia menikah dengan sepupunya sendiri yaitu Gusti Zaleha yang merupakan putri dari pamannya, Sultan Muhammad Seman.

Dari sinilah perjuangan Gusti Muhammad Arsyad bersama istrinya Gusti Zaleha dimulai. Sebagai seorang perempuan, Gusti Zaleha banyak dididik tentang kepatuhan dan posisinya sebagai seorang istri dalam keluarga.

Dalam perjuangan melawan kolonial Hindia Belanda, Gusti Muhammad Arsyad ditunjuk sebagai panglima perang oleh ayah Ratu Zaleha, Sultan Muhammad Seman. Gusti Zaleha bersama suaminya Gusti Muhammad Arsyad terlibat dalam perlawanan bersenjata dengan pasukan serdadu Belanda, antara lain pada tahun 1901 pihak Belanda mengadakan serangan fisik di daerah pesisir Sungai Barito, daerah kelahiran Gusti Zaleha. Dalam pertempuran tersebut Gusti Zaleha bersama suaminya menunjukkan kerjasama dan keberanian yang besar dalam melawan serangan dari Belanda.

BACA LAGI : Ada Tiga Nama Ratu Zalecha, yang Mana Terpilih Jadi Nama RSUD?

Gusti Zaleha kemudian ikut berperang bersama ayah dan suaminya. Dia memimpin pasukan wanita yang terdiri dari perempuan Banjar dan Dayak. Salah satu perempuan Dayak yang selalu mendampingi Gusti Zaleha adalah Bulan Jihad, yang merupakan seorang perempuan dari Suku Dayak Kiyah.

Perempuan Banjar dan Dayak pada saat itu telah membina kerjasama dalam memperjuangkan kemerdekaan Kerajaan Banjar dari cengkeraman kolonial Belanda. Gusti Zaleha menghimpun kekuatan para wanita dari suku- suku Dayak. Di sinilah terjelma ikatan gemenschaft of mind dan gemenschaft of place yaitu ikatan karena kedeka-tan jiwa dan kesamaan ideologi serta kedekatan tempat tinggal.

BACA LAGI : ‘Menggugat’ Kiprah Pangeran Antasari di Kecamuk Perang Banjar

Menurut Anggraini Antemas, keberadaan perlawanan Ratu Zaleha yang heroik karena ditunjang sahabatnya, Bulan Jihat. Menurut kepercayaan masyarakat Kalimantan Tengah Bulan Jihad identik dengan nama panglima Dayak yakni Panglima Burung.

Sosok itu memang penuh misteri. Ada yang berpendapat Panglima Burung adalah wanita, ada juga yang berkata Panglima Burung adalah pejuang Meliau dari Kalimantan Barat, ada juga yang berkata Panglima Burung adalah roh nenek moyang. Hingga cerita yang menyebutkan ia adalah penjelmaan dari Burung Enggang, burung yang dianggap keramat dan suci di Kalimantan.

Gusti Zaleha juga menjadi pendamping Panglima Perang yaitu Gusti Muhammad Arsyad. Sebagai suami istri mereka bersama-sama bahu membahu melawan setiap serangan Belanda di Hulu Barito. Daerah tersebut antara lain Bamban, Kalang Barat, Daratan Tinggi Baras Kuning, Sungai Manawing dan sekitarnya. Musuh yang dihadapi bukan orang sembarangan. Pasukan marsose Belanda di bawah pimpinan Letnan Christoffel. Christoffel sendiri yang telah memiliki banyak pengalaman dalam memimpin pasukan marsose pada Perang Aceh.

BACA JUGA : Politik Belah Bambu Snouck dalam Perang Banjar

Pada masa lalu termasuk masa perjuangan dari Gusti Zaleha, banyak cerita tentang ilmu batin. Mengenai ilmu batin ini, jika dilihat dari perjuangan Gusti Zaleha yang dilatih berperang dari kecil oleh orang tuanya. Kemudian selalu ditempa oleh lingkungan dan keadaan yang hidup di tengah hutan dan selalu berpindah pindah telah menempa kekuatan fisik dan mental dari Gusti Zaleha untuk tidak takut dengan musuh yang menghadang.

Dengan semangat perjuangannya dan selalu selamat dari bahaya yang dilalui oleh Gusti Zaleha, maka baik masyarakat dan para pasukan yang melihatnya beranggapan bahwa Gusti Zaleha juga memiliki ilmu kebatinan yang membuatnya kebal terhadap berbagai senjata musuh.

Dengan anggapan dari masyarakat dan pasukannya tersebut, bagi Gusti Zaleha ilmu batin tersebut merupakan suatu sugesti yang semakin memperkuat rasa percaya diri Gusti Zaleha untuk melawan pasukan Belanda.

Dalam suatu peristiwa lain, yang semakin memperkuat bahwa Gusti Zaleha merupakan sosok yang keras, pemberani dan disegani pihak lawan adalah ketika Gusti Zaleha pernah bertemu dengan lima orang musuh yang ingin menangkapnya hidup-hidup dan salah seorang serdadu tersebut berteriak “Ayo kita tangkap!”.

BACA LAGI : Goresan Jeritan Hati Kartini, Habis Gelap Terbitlah Terang Terilhami Ayat Suci Qur’an

Ternyata Gusti Zaleha tidak terkejut dan gentar, bahkan dijawabnya dengan suara lantang “Lamun ikam barataan laki- laki, aku lakas tanggap!”. (Jika kalian semua laki-laki, ayo segera tangkap aku!). Hal ini adalah suatu pernyataan yang dilontarkan Gusti Zaleha ketika menghadapi musuh.

Pernyataan yang dikeluarkan adalah suatu tantangan bagi pihak lawan karena yang dihadapi oleh pihak lawan ini adalah seorang perempuan. Kalah nyali, kelima orang serdadu Belanda itu mengurungkan niatnya dan segera meninggalkan tempat tersebut tanpa insiden.(jejakrekam)

Penulis adalah Penasihat Komunitas Historia Indonesia Chapter Kalsel

Ketua Lembaga Kajian Sejarah, Sosial dan Budaya (SKS2B) Kalimantan

Dosen Prodi Pendidikan Sejarah FKIP ULM Banjarmasin