ACT

Ratu Zaleha, Srikandi dari Pedalaman Borneo (1)

0 767

PEREMPUAN merupakan agen perubahan yang tentunya tidak bisa dipandang sebelah mata. Perempuan adalah penentu peradaban suatu bangsa. Dalam catatan sejarah, telah terpatri nama-nama srikandi agung yang pernah terlahir. Hampir di setiap wilayah, terdapat perempuan tangguh yang mampu menjadi pionir perubahan bagi bangsanya.

DEMIKIAN halnya dengan Indonesia, pada masa perang kemerdekaan terdapat perempuan pejuang, yang turun langsung ke medan perang. Bertempur bersama kaum laki-laki merebut kemerdekaan dari cengkeraman penjajah Belanda.

Keberadaan perempuan pejuang bukan hanya sebagai ban serep. Perempuan pejuang juga bukan sekadar sosok yang tiba-tiba hadir menyeruak di antara dominasi kaum Adam. Justru lebih dari itu. Perempuan juga andil dalam perjuangan untuk meraih satus kemerdekaan. Terdapat sederet nama-nama tenar, terkenal sebagai perempuan pejuang di Indonesia.

Mulai dari nama srikandi Aceh, Cut Nyak Dien dan Cut Nyak Meutia. Kemudian Christina Marta Tiahahu dari Maluku, Raden Ajeng Kartini dari Jepara hingga Dewi Sartika yang berasal dari Jawa Barat. Perempuan-perempuan yang bermodal keyakinan dan harapan, mempertaruhkan jiwa raga demi kemerdekaan tanah pertiwi.

Selain deretan pejuang tangguh tersebut, di wilayah Kali-mantan Selatan, perempuan juga memiliki cerita yang tertulis dalam tinta sejarah. Kisah srikandi yang tak kalah mumpuni tetapi mulai dilupakan pada era kekinian. Dalam perang Banjar pada pertenga-han Abad ke-19, terkenal nama-nama wanita yang ikut bertempur bersama laki laki melawan penjajah kolonial Belanda.

Beberapa nama perempuan pejuang tersebut di antaranya Siti Fatimah yang memimpin pasukan Muning sampai ke daerah Tanah Laut. Kemudian, Tumenggung Cakrawati yang berjuang di daerah Riam Kanan, serta Puteri Zaleha yang memimpin pejuang di daerah Manawing.

BACA : Ratu Zaleha, Demang Lehman & Penghulu Rasyid: Ditangkap Saat Ibadah Shalat

Dari beberapa srikandi tersebut yang paling terkenal adalah Gusti Zaleha atau yang lebih dikenal dengan nama Ratu Zaleha. Ratu Zaleha ikut andil dalam Perang Banjar yang berlangsung sejak tahun 1859 sampai tahun 1905.

Ratu Zaleha lahir pada tahun 1880, di Muara Lawang (Muara Laung), Onderdistrict Laung dan Tuhup dengan Ibukota Muara Laung. Onderdistrict Laung dan Tuhup, termasuk wilayah District Becompaij Dousson, Onderafdeeling Barito (daerah aliran sungai Barito), Afdeeling Doesoenlandeen (Tanah Dusun), Karesidenan Borneo Bagian Selatan dan Timur.

Sekarang berada di wilayah Kecamatan Laung Tuhup, Kabupaten Murung Raya, Kalimantan Tengah. Luas wilayah sekitar ± 1.611 km2 dengan ibukota Muara Laung I.  Khusu wilayah Muara Lawang (Muara Laung), berdekatan dengan Pagustian atau “Dewan Pertahanan” yang terletak di Gunung Bondang, udik Sungai Lawune/Laung.

Ratu Zaleha terlahir dengan nama Gusti Zaleha dari orang tuanya, Sultan Muhammad Seman dan Nyai Salamah. Ayah Ratu Zaleha (Sultan Muhammad Seman), merupakan putra dari Pangeran Antasari.

Jadi, Gusti Zaleha masih berdarah bangsawan keturunan dari Kerajaan Banjar sekaligus cucu pahlawan nasional, tokoh utama Perang Banjar, Pangeran Antasari. Demikian dituliskan dalam Suriansyah Ideham, dkk tentang Sejarah Banjar (2013).

BACA JUGA : Semangat Juang Ratu Zaleha dalam Sendratari Kolosal

Menurut Syarifah Nazimah, dalam tulisannya, “Ratu Zaleha 1880-1953: Perjuangan Terakhir Perempuan Banja, Ratu Zaleha terlahir dengan nama Gusti Zaleha. Memakai gelar Gusti karena terlahir dengan keturunan bangsawan Banjar. Tahun kelahiran Ratu Zaleha yaitu tahun 1880 adalah tahun dimana kondisi politik di Karesidenan Borneo bagian selatan dan timur (provinsi Kalimantan Selatan dan Tengah sekarang) sedang memanas.

Hal ini karena perlawanan yang dipimpin langsung oleh ayahnya Gusti Muhammad Seman yang meneruskan perjuangan dari Pangeran Antasari untuk melawan penjajahan pemerintah kolonial Hindia Belanda yang berpusat di Banjarmasin. Gelora Perang Banjar tidak hanya di wilayah sekitar Banjarmasin, tetapi meluas hingga Hulu Barito.

Masa Kecil Ratu Zaleha: Hidup di Hutan, Jauh dari Istana

Gusti Zaleha dibesarkan dalam lingkungan Pegustian yang tidak memiliki istana, bahkan kehidupannya diwarnai perjuangan yang dilakukan oleh ayahnya, Sultan Muhammad Seman.

Pasca dibubarkannya Kesultanan Banjar, kehidupan Sultan Muhammad Seman dan keluarga jauh dari kemewahan seperti yang kehidupan yang dijalani pemimpin terdahulu seperti Pangeran Nata pada abad ke-18 dan Sultan Adam pada pertengahan abad ke-19. Selain selain sebagai pemimpin perlawanan, Sultan Muhammad Seman juga hidup berla-dang untuk memenuhi kebutuhan keluarganya.

BACA LAGI : Ada Tiga Nama Ratu Zalecha, yang Mana Terpilih Jadi Nama RSUD?

Sultan Muhammad Seman dan keluarga hidup dengan menggarap ladang sendiri di Sungai Menawing. Sesekali prajurit-prajurit dari hilir Sungai Barito dan memasuki anak-anak sungainya memungut pajak terhadap masyarakat berupa hasil hutan seperti rotan, damar, getah parca, kayu besi, lilin, sarang burung, garam, tembakau, gula, beras, dan pakaian. Sultan Muhammad Seman juga menerima sedekah atau bantuan dalam bentuk in natura dari desa-desa sekitar. Demikian dituliskan Helius Syamsudin (2001).

Menerima bantuan dari rakyat bukan berarti ia hidup meminta-minta dari rakyat, tetapi bantuan dari rakyat merupakan perwujudan sikap dukungan rakyat terhadap perjuangan yang dihadapi Sultan Muhammad Seman. Kehidupan Sultan Muhammad Seman dan keluarga yang mempri-hatinkan akhirnya sampai ke telinga pihak Belanda. Meskipun hidup dalam keadaan yang memprihatinkan, Sultan ini tetap keras dan teguh hatinya untuk tidak berhenti dan tetap bertahan untuk melawan Belanda.

BACA LAGI : Perang dan Cinta, Seuntai Sajak Perjuangan

Yusliani Noor, 2001, “Sebuah Tinjauan Historis Tentang Sosok Perempuan Pejuang Banjar” menuliskan Gusti Zaleha sejak lahir telah ikut merasakan pahit getirnya perjuangan melawan penjajah. Dia lahir saat ayah-nya sedang mengkonsolidasikan kekuatan perjuangan dan ikut menyaksikan pertempuran.

Kehidupan Gusti Zaleha semasa masih balita ada dalam tanggung jawab ibu, Nyai Salamah. Ketika masih dalam buaian, ia sering dibuai dalam ayunan yang digantung di pohon-pohon. Selama dalam ayunan, ibunya menyanyikan sebuah syair shalawat kepada Nabi Muhammad agar si bayi cepat tertidur dan nyenyak dalam buaian. Tali ayunan yang diguna-kan sengaja bukan tali yang kuat, sehingga jika ada pasukan Belanda datang, maka akan mudah diputus.

Ayunan digantung di dahan pohon di daerah pedalaman hutan karena memang ayahnya yaitu Sultan Muhammad Seman merupakan pemimpin perjuangan melawan penjajahan Kolonial Pemerintah Belanda yang sedang dalam kejaran pasukan Belanda sehingga kehidupannya harus berpindah-pindah.

Gusti Zaleha semasa balita sering dibawa lari selama pertempuran di hutan-hutan, ia dibuaikan oleh ibunya dengan sehelai kain sarung yang digantung pada dahan-dahan pohon. Bila musuh datang menyerang, tali buaian segera dipotong dan bayi diselamatkan ke gunung-gunung atau hutan sekitarnya yang dianggap aman. Meskipun Gusti Zaleha anak aristokrat Banjar, namun kehidupannya bukanlah kehi-dupan sebagaimana layaknya seorang putri Sultan.

Anggraini Antemas, 1986, Mutiara Nusantara I menuturkan semenjak dilahirkan, Gusti Zaleha telah ikut merasakan pahit getir perjuangan melawan penjajah. Semasa remaja, ia mengetahui betapa besar perjuangan keluarganya untuk melawan dan menghindari dari kepungan Belanda.

BACA JUGA : ‘Menggugat’ Kiprah Pangeran Antasari di Kecamuk Perang Banjar

Pada masa remaja ini, Gusti Zaleha diajarkan keterampilan perempuan oleh ibunya seperti memasak. Anak-anak Banjar dari semasa kecil juga diajarkan membaca Alquran dan ilmu agama oleh ayahnya, tidak jauh berbeda dengan Gusti Zaleha. Ia diajarkan membaca Alquran dan ilmu agama oleh Sultan Muhammad Seman. Pengajaran terhadap Ilmu agama dalam keluarga merupakan tanggung jawab kedua orangtua teruta-ma ayahnya.

Selama proses pertumbuhannya yang banyak meng-habiskan waktunya di sekitar Sungai Menawing di Kaliman-tan Tengah sekarang, pendidikan dan ilmu bela diri Gusti Zaleha selain diperoleh dari kedua orang tuanya terutama ayahnya, Gusti Zaleha banyak belajar dari suku Dayak yang berada di sekitar lingkungan Gusti Zaleha semasa kecil.

BACA LAGI : Tokoh Sentral Perang Banjar, Pangeran Hidayat dan Tipu Muslihat Belanda

Suku Dayak memang dikenal sebagai suku yang memiliki seni bela diri terhadap lawan dan dikenal tangguh. Selain ilmu bela diri, Gusti Zaleha juga belajar tentang ilmu kebatinan yang nanti akan menjadi kekuatannya menghadapi pasukan Belanda.(jejakrekam/bersambung)

Penulis adalah Penasihat Komunitas Historia Indonesia Chapter Kalsel

Ketua Lembaga Kajian Sejarah, Sosial dan Budaya (SKS2B) Kalimantan

Dosen Prodi Pendidikan Sejarah FKIP ULM Banjarmas

Tinggalkan Komentar

Alamat email anda tidak akan disiarkan.