Terinspirasi Kehidupan Banjar Hulu, Si Pilanggur pun Masuk Deretan Sastra Rancage

BERMULA dengan iseng menulis karya cerpen berjudul ‘Jujuran’ yang dikirim ke sebuah lomba Aruh Sastra Kalimantan Selatan (ASKS) VII di Kabupaten Tabalong pada 2010 silam, membuat Hatmiati Masy’ud memulai menulis buku cerita atau kisah berbahasa Banjar.

KINI, Hatmiati yang menjabat komisioner Divisi Teknis KPU Kalsel ini mengaku dalam tulisan berbahasa Banjar Hulu. Ini lantaran dirinya merupakan orang asli Amuntai, terbiasa dengan tradisi ‘bacu’ur’ atau bercerita.

Dari itulah awal pertama menulis cerita Bahasa Banjar. Meski, setelah itu tidak digelutinya lagi karena mencoba menulis berbahasa Indonesia.

Kumpulan cerita pendek yang dibuatnya dalam berbahasa Indonesia seperti, Rahasia Halaman Belakang (2012), Turun Ranjang Menjaring Angin (2013), Membuka Cakrawala Menyentuh Fitrah Manusia (2014), Galuh Pasar Terapung (bersama Aliansyah Jumbawuya, 2016), Mandi Bungas (bersama Dewi Alfianti, Nailiya Nikmah JKF, Rahmiyati, Ratih Ayuningrum dan Rismiyana, 2017).

BACA : Walau Tak Punya Aksara, Bahasa Banjar Kaya dengan Karya Sastra

Walhasil, beberapa cerita pendek berbahasa Indonesia karya Hatmiati pun masuk dalam penulis perempuan dunia dan di beberapa even lainnya. Ketika kembali menggoreskan pena menulis cerita berbahasa Banjar, Hatmiati mengaku kesulitan. Misalnya dengan membuat cerita pendek Pilanggur pada dua tahun silam.

Pilanggur ini dibuat Hatmiati, saat melihat kepercayaan dulu yang dikenali oleh masyarakat Banjar Hulu, tetapi jika dari Banjar Kuala tidak terlalu mengerti bahasa itu. “Kata mereka, apa sih Pilanggur itu?,” kata Hatmiati Masy’ud ketika jejakrekam.com bertandang ke ruang kerjanya di KPU Provinsi Kalsel, belum lama tadi.

Pilanggur itu bagi masyarakat Banjar Hulu adalah perempuan yang suka berdiri di pinggir pintu atau keluar dari rumah sewaktu senja menurut kepercayaan bisa lamban menikah. “Jadi perawan tua, begitulah ancaman dari Pilanggur itu,” ujar dosen STIKIP PGRI Banjarmasin ini.

BACA JUGA : Eka Kurniawan: “Sastra Global Mestinya Tidak Melulu Berbahasa Inggris”

Bagi Hatmiati, hal ini berbeda sekali dengan perempuan saat ini yang berada di kota, kebanyakan dari mereka sering berada di luar rumah. Sangat jarang, menurut Hatmiati, mengikuti adat budaya masa lalu.

Namun dalam tulisan 12 cerita pendek yang dihimpun dalam ‘Pilanggur’ ini tidak mutlak, melainkan hanya mematahkan mitos bahwa bersifat kepercayaan.

“Terserah mau dipercaya atau tidak. Tetapi tentu itu dibalut dengan fiksi,” ucap Hatmiati.

Setelah ‘Pilanggur’, dirinya mengakui masih banyak menulis. Di antaranya, Bucina Buta yang diambil dari istilah Banjar bagi orang yang talak tiga. Kemudian, ‘Galuh Bungas’ terinspirasi ketika bercerita dengan ‘Acil Paurutan’. ‘Kurihing’ itu juga bercerita tentang meminta bantuan.

“Padahal, diminta bantuan itu tidak lebih kaya dibandingkan yang dibantu,” ujar dosen bahasa Indonesia ini.

Ide-ide menulisnya memang dari memperhatikan sebuah kehidupan masyarakat Banjar sehari-hari. Hatmiati bercerita, sempat merasa kesulitan ketika menulis bahasa Banjar dibandingkan bahasa Indonesia. “Kesulitannya itu adalah mencari padanan bahasanya. Misalnya kata ‘intil’, ketika diterjemahkan ke bahasa Indonesia sulit,” katanya.

BACA JUGA : Sastrawan Enam Negara Bahas Sastra di Banjarmasin

Memang dalam menulis bahasa Banjar, diakui Hatmiati, mesti memerlukan penguasaan. Tetapi tidak bagi orang Banjar Kuala lantaran gabungan antara bahasa Indonesia dan Banjar, sehingga lebih luwes dalam penggunaan bahasa.

Ketertarikan menulis bahasa Banjar dipicu miskin peminat untuk menjadi sastra Banjar. “Yang menulis cerita dalam bahasa Banjar itu tidak banyak,” lirihnya.

Di tengah minimnya karya yang mengangkat kearifan lokal itu, Hatmiati menginginkan bahasa Banjar bisa diakui di Indonesia. Dorongan itu membuat dirinya sengaja mengirimkan karya ‘Pilanggur’ berbahasa lokal untuk dilombakan melalui Yayasan Kebudayaan Rancage di Bandung.

Walhasil, dirinya bersama lima sastrawan daerah dinobatkan mendapat penghargaan sebagai Sastra Rancage 2018 yang diumumkan Ketua Dewan Pembina Yayasan Kebudayaan Rancage Ajip Rosidi pada 31 Januari 2018.

“Makanya, di sana ada sastra Sunda, Jawa, Bali, Batak, Madura. Ada semua. Untungnya sastra Bahasa Banjar juga dinobatkan,” ucap Hatmiati, bangga.

Dia menilai, bahasa Banjar memang tidak terlalu diminati pembaca lokal, mereka malah memilih cerpen yang menggunakan bahasa Indonesia.

Hatmiati bercerita, ada temannya yang mengaku ketika dapat cerpen berbahasa Banjar menyatakan malas membaca. “Itu saja ketika penulis bahasa Banjar mendengar tidak diakui. Tetapi ketika menulis, ternyata orang senang,” ucapnya.

BACA LAGI : Komisioner KPU Kalsel Hatmiati Mendapat Anugerah Sastra Rancage Tahun 2018

Cerita ‘Pilanggur’ ini sudah sampai di beberapa negara. Sebab, saat ini, karya itu diikutkan dalam even berskala internasional. Di antaranya bekerjasama dengan sastrawan Rusia dan India.

“Akan tetapi, Itu tidak diterjemahkan, melainkan masuk dalam koleksi perpustakaan. Rusia misalnya tak ada, wah ini buku bahasa Banjar dari Indonesia,” ujarnya.

Terpenting, bagi Hatmiati adalah sastra Banjar ini ada di masyarakat dan tidak hilang. Karena, ketika berbicara bahasa Banjar tidak semua orang mengerti. Misalnya dengan kata ‘bakah’. “Tau nggak arti kata ‘bakah’,” tanyanya. “Bakah diartikan basah. Uma bakahnya datang mandi,” jawabnya.

Hatmiati menyebut bahasa Banjar ini ternyata unik. Tentunya, jika tidak digunakan dalam kehidupan sehari-hari, minimal ada satu dokumentasi. Baik itu fiksi atau ilmiah, agar tidak punah.

BACA LAGI : Laku Sufisme dan Jalan Suluk Warnai Bentukan Masjid di Tanah Banjar

Saat ini, penulis yang aktif berbahasa Banjar disebut Hatmiati ada Jamal T Suryanata asal Pelaihari, Aliman Syahrani (Kandangan), Rahmiati (Barabai), Ida Kumala Sari (dosen STKIP PGRI).

Hatmiati menyebut, inspirasi menulis yang berpengaruh terhadap karyanya ini pada mulanya berawal dari membaca karya Jamal T Suryanata. “Pak Jamal ini memang berpengaruh. Tetapi dalam setiap tulisan pasti ada perbedaan atau ciri khas tersendiri dalam setiap karakter,” ucapnya.

Meski, dalam penguasaan bahasa Banjar diakui Hatmiati, masih dibawah Jamal T Suryanata, tetapi setelah sekian waktu sudah membentuk tersendiri terhadap karya pribadi. Sementara, untuk penulis dari luar daerah ia mengaku penggemar dari Eka Kurniawan. Ia bercerita, dari novel pertama Cantik Itu Luka dinilainya sangat mewarnai karyanya.

BACA LAGI : Bedah Buku Pilanggur dan Satipis Apam Barabai, Upaya Melestarikan Bahasa Lokal

Diakui karya milik Eka Kurniawan ini membuat Hatmiati terdorong menulis cerpen berjudul ‘Kembang Kuning’ yang memiliki tokoh fiksi Alaska. “Itu setelah saya baca Cantik Itu Luka, inspirasinya di situ. Meski menulis dengan cara saya sendiri dan hanya mengekstrak secara pribadi,” katanya.

Wanita berjilbab ini menilai cerpen dibuatnya tidak ada keterkaitan, tetapi hanya terinspirasi dengan ceritanya Eka Kurniawan. Selain Eka, Dee Lestari juga turut menginspirasinya dari novel pertamanya hingga akhir, semua sudah dilahap Hatmiati. “Selebihnya, kita suka semua bacaan,” pungkasnya.(jejakrekam)

Penulis Arpawi
Editor DidI GS