Dirgahayu

Ahli Utama Intakindo Kalsel Nilai Sistem Drainase di Banjarmasin Bermasalah

HUJAN sebentar, apalagi dengan durasi panjang tak ayal ruas jalan dan pemukiman warga di Banjarmasin harus kebanjiran. Genangan air pun seakan mengendap dan tersalurkan ke jaringan drainase yang dibangun Pemkot Banjarmasin.

AHLI utama jalan dan jembatan DPP Ikatan Nasional Tenaga Ahli Konsultan Indonesia (Intakindo) Kalimantan Selatan Hasan Husaini menyebut semua itu terjadi gara-gara sistem jaringan drainase yang dibangun seantero kota masih bermasalah.

“Kelihatan sekali penampang dimensi drainase yang dibangun di Banjarmasin tidak memenuhi elevasi maupun debit air yang ingin disalurkan ke saluran menuju daerah pembuangan sungai atau daerah resapan air yang ada,” ucap Hasan Husaini kepada jejakrekam.com, Sabtu (20/4/2019).

BACA : Hanya Rp 9,9 Miliar, Idealnya Benahi Drainase di Banjarmasin Butuh Dana Puluhan Miliar

Menurut dia, sangat jelas dari perencanaan hingga pembangunan fisik jaringan drainase yang ada di Banjarmasin tidak memperhatikan elevasi atau sudut penampang, karena lebih rendah sehingga air tidak bisa teralirkan maksimal.

“Akhirnya mengendap di jalan, dan membuat genangan air berlama-lama di satu kawasan. Hampir seluruh ruas jalan di Banjarmasin terdapat endapan air sisa air hujan. Ini membuktikan sistem drainase di kota ini masih bermasalah,” ucap jebolan magister teknik Fakultas Teknik Universitas Lambung Mangkurat (ULM) ini.

Menurut Hasan Husaini, perbaikan sistem drainase bukan bicara pada nomimal uang yang harus digelontorkan, namun harus kembali diaudit untuk sistem perencanaan ke depan. Untuk itu, Hasan Husaini menyarankan agar Pemkot Banjarmasin terutama dinas teknis untuk melakukan kajian teknis mendalam, bagaimana agar air hujan dengan curah yang tinggi terjadi belakangan ini bisa dialirkan ke sungai atau daerah resapan air yang ada.

“Jangan berhitung angka ideal, hampir puluhan miliar atau belasan miliar per satu kecamatan di Banjarmasin, tapi harus ada kajian mendalam. Studi kelayakan harus memperhitungkan dimensi, debit air serta tingginya curah hujan di Banjarmasin. Jika tidak, sia-sia saja dana bermiliar-miliar dianggarkan untuk pembenahan drainase yang parsial,” tutur Hasan Husaini.

BACA JUGA : Proyek Trotoar Jalan A Yani Dilanjutkan, DPRD Ingatkan Sistem Drainase Dibenahi

Ia berani menjamin berapa pun dana yang dianggarkan jika masterplan drainase tidak dikaji ulang, maka akan sia-sia dana yang digelontorkan dari APBD. “Jangan sampai dana besar untuk pembenahan drainase, malah tidak bermanfaat,” cetusnya.

Dia mencontohkan seperti kasus yang terjadi di Jalan Pangeran Antasari, walau sudah diperbaiki dengan anggaran besar, justru endapan air masih terlihat bahkan berada di perempatan Jalan Pangeran Antasari yang merupakan pusat kota.

“Termasuk di depan RM Wong Solo, Jalan RP Suprapto dan Jalan Achmad Yani, meski sudah diperbaiki drainase dengan penataan troator, toh tidak menyelesaikan masalah banjir,” ucap Hasan Husaini.

Selama ini, menurut dia, selalu diartikan bahwa drainase itu dibangun dengan sistem tertutup, padahal ada konsep penataan dengan sistem terbuka seperti kanal. Menurut Hasan Husaini, sudah saatnya Banjarmasin juga membangun terowongan air dengna memikirkan elevasi jaringan drainase.

“Ya, sekali lagi, kalau masterplan drainase di Banjarmasin tidak dibenahi atau ditinjau ulang, jangan harap dengan membangun jaringan yang ada mampu mengatasi banjir atau genangan air saat musim hujan,” cetus Hasan Husaini.

BACA LAGI : Ternyata, Anggaran Perbaikan Drainase di Banjarmasin Masih Gelondongan

Sementara itu, hujan sebentar pada Sabtu (20/4/2019) sekitar pukul 10.00-11.30 Wita, mengakibatkan debit air di jalan sudah mencapai 10 centimeter. Itu terlihat di ruas Jalan Brigjen H Hasan Basry, S Parman, DI Panjaitan, Tarakan, Jenderal Sudirman, Sutoyo S, Jalan Lambung Mangkurat, hingga Jalan Belitung Darat.

Para pengendara pun mengeluhkan kondisi tersebut, karena genangan air justru telah ‘merampas’ badan jalan, sehingga harus menerabas air hujan yang mengendap itu.

“Banyak drainase tak berfungsi maksimal, ya akibat tumpukan sampah yang menutupinya. Seharusnya, penampang drainase ini diperdalam, jadi bisa banyak volume air yang ditampung dan dialirkan ke sungai,” ucap Rudi, warga Banjarmasin.

Pria yang sehari-hari tukang ojek khawatir jika terus dibiarkan, maka jalan akan cepat rusak dan air yang ada malah merendam jalan dan pemukiman serta kawasan perkantoran yang ada.(jejakrekam)

 

Penulis Asyikin
Editor Didi GS