Masa Tenang, No Gamang, No Politik Uang

PESTA demokrasi Indonesia yang dihelat tanggal 17 April 2019 ini, benar-benar akan menentukan nasib bangsa. Inilah sejarah pertama pemilu digelar serentak, dengan adu strategi, beradu visi, meluncurkan aksi, hingga serangan opini – bernada caci-maki, benci, aroma tak simpati.

SEMASA kampanye, atensi populis lebih banyak tertuju pada pilpres. Sementara legislative, pestanya tak begitu gegap-gempita.  Pilpres lebih bergensi, karena pesertanya minimalis dan mampu mencuri perhatian publik dan menjadi tema diskusi nitizen, baik antara kubu pro dan kontra, maupun pada posisi tengah atau netral.

Tanggal 13 April adalah terakhir masyarakat disuguhkan serba-serbi kampanye. Tibalah masa tenang tanggal 14-16 April 2019.  Filosofi masa tenang  ialah tidak ada lagi aroma kampanye, semua atribut sudah harus bersih, dan pemilih harus mulai menentukan pilihan.

BACA : Jelang Hari Pemungutan Suara, Kalsel Sudah Darurat Politik Uang

Tiga hari masa tenang adalah proses introspeksi, kontemplasi, dan evaluasi.  Momen ini harus dimanfaatkan untuk meminta petunjuk melalui istikharah, setelah menimbang begitu banyak pilihan. Sejatinya, mukmin yang baik, setelah kita sudah mendapat pilihan bijak, maka minta petunjuk kepada Nya, agar pilihan tersebut benar-benar tepat, sehingga membawa kemaslahatan bagi umat dan bangsa.

Bagi peserta pemilu, baik pilpres dan legislatif, harus melakukan muhasabah cinta. Evaluasi yang berbalut kasih sayang – tanpa kebencian. Ikhtiar, upaya, dan kesungguhan sudah dilakukan, namun mesti dicatat, bahwa berhasil tidaklah wajib.

Berhasil itu sudah masuk wilayah hak prerogative Allah. Kita harus patuh pada titahnya, dimana takdir seseorang sudah ada sejak zaman azali.  Untuk itu, ikutilah scenario Tuhan, sehingga kalah menang tak menjadi tujuan.

BACA JUGA : Bawaslu Ajak Masyarakat dan Media Awasi Praktik Politik Uang

Menuhankan tujuan, hanya menjerumuskan, yang timbul kegamanangan, panik, tak rela jika harus kalah, tak ikhlas jika harus mendapat musibah, dan tak mau menerima takdir buruk yang telah membuatnya resah.

Kegamanangan di masa tenang,  akan berkutat pada areal berpikir keras untuk melakukan ketidak benaran. Disinilah kalkulasi estimasi  menang – kalah jadi pertaruhan. Bagi yang memiliki kapital, harus mengamankan suaranya dengan mengikat pemilih dengan materi, baik berupa barang, sembako, perbaikan infrastruktur, dan share–fulus.

Dengan fulus, urusan lancar, itulah slogan yang dipake sebagai jurus pamungkas strategi menang dalam pemilu. Padahal ini sangat terlarang namun sudah menjadi kelaziman – susah terlacak bak ‘siluman’.  Sebuah kultur yang sangat sulit dihilangkan, karena didukung oleh sikap pemilih yang apatis, pragmatis dan oportunis.

Padahal kalau kita hitung matematis, dengan pulus 100 ribu, di bagi 5 tahun, dibagi 12 bulan, dibagi 30 hari, hanya mendapat 5,5 rupiah saja.  Setiap hari rugi karena suara dihargai sangat murah,  padahal Indonesia dan daerah kita akan dipimpin oleh calon-calon yang belum tentu sesuai dengan hati nurani dan berintegritas.

Kita berharap muncul pemilh rasional  yang  mengedepankan kalkulasi, kesesuaian, dan pertimbangan strategis, sehingga akan melahirkan ‘ijtihad’ pilihan pribadi, yang dapat dipertanggungjawabkan tidak hanya di dunia hingga akhirat.

BACA LAGI : Politik Uang Haram, Para Pelakunya Dilaknat Allah dan Rasul-Nya

Pada masa tenang ini, mulai lah membangun pilihan, dengan penuh kepercayaan–keyakinan bahwa pilihan kita sudah benar dengan pertimbangan matang dari berbagai sudut pandang, baik untuk kepentingan bangsa, agama, dan banua. Hindari kegamangan sikap, tetap optimis dalam Ridha-Nya.

Kegamangan yang tidak di-manage dengan kalbu yang lurus dan benar, akan menghantarkan pribadi prustasi-sakitterganggu jiwa. Ketidak matangan mengelola kegalauan, menyebabkan manusia tak lagi bahagia-jatuh pada nestapa.

Untuk keluar dari kemelut kegamangan, solusinya adalah pertama; tawakkal, kedua; ucapkan innalillah saat kehendak tak linear dengan harapan, ketiga; bangga karena terpilih menjadi hamba yang diuji, keempat;  bersikap sabar dan perbanyak komunikasi dengan Allah melalui shalat, kelima; Allah tak akan memberikan keburukan yang tidak sesuai dengan kapasitas diri, keenam;  segala keburukan yang terjadi, itulah planning Allah yang terbaik, yang tidak kita ketahui (Wallahu ya’lamu wa antum la ta’lamun).

Inilah resep jitu bagi peserta pemilu yang gagal,  tak  frustasi-kecewa-terganggu jiwa, hanya karena ketidak arifan menerima resiko kalah dalam perjuangan.  Teruslah berjuang, jangan pesimis, kesempatan perjuangan dan pengabdian pasti selalu ada.

Bagi yang menang, jangan bersuka cita, karena Allah sedang memberimu  musibah selama lima tahun. Dalam pandangan mata memang nikmat, namun sebenarnya petaka, jika tak pandai menjaga amanah Allah dengan hati salim, hati yang lurus, yang taat, tidak berbuat curang, dan mendzalimi hati rakyat yang memilihnya. Jabatan adalah dua sisi kaki yang belawanan, yakni kaki kanan di surga dan kaki kiri dineraka. Maka hati hati dalam melangkah saat mendapat amanah.

BACA LAGI : Semua Daerah Rawan, Caleg Berduit Rentan Lakoni Politik Uang

Selamat menikmati masa tenang, No Gamang, No Politik Uang.  Isi dengan memantapkan pilihan, jangan gadaikan pilihan anda dengan uang, pilih pemimpin dan wakil anda untuk banua yang berkemajuan- Indonesia yang berkeadilan.

Yang belum beruntung jangan sedih – apalagi sampai behamuk di jalanan (membuat onar dijalanan), sementara  yang terpilih, tetap rendah hati, menjadi pemimpin sejati, tidak terlena dengan jabatan dan  kekuasaan. Insya Allah pemilu kali ini berkah, penuh rahmah.  Ayo mencoblos. Mencoblos itu keren.(jejakrekam)

Penulis adalah Pemerhati Komunikasi, Keagamaan dan Kemasyarakatan

Subscribe to our newsletter
Sign up here to get the latest news and updates delivered directly to your inbox.
You can unsubscribe at any time