Paradoks Indonesia dalam Catatan Kritis (2-Habis)

BICARA sumber daya alam (SDA) Kalimantan Selatan yang kaya tentu sangat menarik. Apalagi, jika ditarik kolerasi antara kekayaan SDA dengan kemakmuran masyarakat Kalsel. Dengan kondisi hampir lima persen warga Kalsel miskin, maka kekayaan SDA yang dimiliki artinya tidak dinikmati oleh masyarakat  dan juga masyarakat sekitar lokasi SDA tersebut.

KITA patut merenungkan kembali, sejarah SDA di Kalimantan Selatan yang menonjol pada tiga sumber utama seperti minyak, kayu dan batubara. Dulu, salah satu kabupaten yang menjadi lumbung minyak dengan bor-bor penghasil ‘emas cair hitam’ itu adalah Kabupaten Tabalong dengan Murung Pudaknya. Sebuah kota tambang minyak yang maju, karena industri minyaknya.  Pengambilan minyak di kawasan ini dimulai lama, sejak terjajah sekitar kurun tahun 1900 atau sekitar 100 tahun lalu.

Konon sampai tahun 2007, produksi di kawasan ini masih bisa mencapai sekitar 4.800 barel per hari. Menyumbang produksi minyak 4,6 persen dari total rata rata produksi nasional sekitar 100.000 barel per hari. Tentu ini luar biasa. Tetapi yang menjadi aneh adalah ketika ternyata kebutuhan minyak untuk Kalsel pun selalu tersendat. Bahkan, nyaris tidak mampu memenuhi kebutuhan masyakarat Kalsel. Punya minyak ini tidak membuat daerah Kalsel menjadi makmur dan unggul.

BACA : Sebuah Paradoks Indonesia dalam Catatan Kritis (1)

Hitungan kasarnya, USD 57,82 sama dengan 700 ribu per barel, berarti total yang didapat per hari adalah Rp 300 miliar. Dengan catatan, saat itu penghasilan minyak yang didapat negara mencapai Rp 108 triliun.

Berlanjut ke hutan, kayu dan turunannya sebagai produk andalan Kalimantan Selatan, usai minyak. Ketika itu, Kalsel berjaya dengan hutannya. Puluhan konglomerat pun lahir berasal dari hasil usaha di hutan Kalsel. Mereka berhasil kaya raya dari mengolah hasil kayu Kalsel dengan memiliki HPH dan bentuk yang lainnya.

Parahnya, sekarang Kalsel kesulitan mencari bahan kayu untuk pemenuhan konsumsi lokal. Bahkan tidak terdengar lagi para pengusaha kayu asli Kalsel yang bisa bertahan berusaha di sektor kayu ini. Hasil di sektor inipun tidaklah membuat masyarakat kalsel menjadi makmur sejahtera.

BACA JUGA : Nanik Ungkap Kebocoran Uang Negara, Kalsel Kaya Tapi Rakyatnya Miskin

Era batubara pun datang, usai minyak dan kayu. Diawali pada 1990-an dengan booming tambang batubara dan menjadi idola usaha, bahkan diperebutkan sehingga menjadi tidak terkendali.

Dalam jangka sekitar 20 tahun saja sudah menghasilkan individu individu kaya. Konglomerat pun semakin berjaya dengan turut menguras kekayaan dari dalam perut bumi Kalsel, yakni emas hitam padat itu. Sayangnya, seperti halnya SDA minyak dan kayu hasil dari SDA batubara ini faktanya tidak juga memberikan manfaat bagi kemakmuran masyarakat Banua dan juga masyarakat sekitar lokasi SDA tersebut.

Bahkan degradasi alam pun saat ini menjadi ancaman serius bagi kawasan Kalimantan Selatan. Dan parahnya ini juga tetap tidak membuat masyarakat Kalsel menjadi sejahtera, makmur dan unggul.

BACA JUGA : Walhi Tuntut Keadilan Ekologis dan Wilayah Kelola Rakyat

Masyarakat banua ini banyak yang tetap menjadi “buruh” di kampung nya sendiri, bukan menjadi “majikan”. Hitungan kasarnya, dengan USD 85 sama dengan Rp 1,2 juta per ton. Dengan data tahun 2017, ekspor Kalsel untuk batubara mencapai 120 juta ton per tahun, berarti ada Rp 114 triliun per tahun dihasilkan dari sektor tambang ini.

Jika dihitung dari hasil minyak dan batubara total didapat Rp 252 triliun. Ini artinya, dalam sebulan pemasukan mencapai Rp 21 triliun, sementara Kalsel hanya dijatah Rp 20 persen atau setara Rp 4,2 triliun. Angka itu jika dibagi kepada 4 juta penduduk Kalsel, maka setiap kepala bisa mendapat Rp 1 juta per bulan. Ironisnya, data menunjukkan penduduk miskin Kalsel pada 2018 mencapai 195 ribu.

BACA LAGI : Negara Terkesan Membiarkan Kejahatan Lingkungan Terjadi

Mengapa itu bisa terjadi? Apa usaha untuk memperbaikinya dan mengapa selalu telat dalam bersikap atau melakukan pembiaran? Tak salah jika banyak firman Allah SWT dalam Alquran selalu menyindir soal ini.  “Maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan?”(QS. Ar-Rahman 55: Ayat 13). Atau, ayat lain yang menginginkan agar kita beriman dan bertakwa agar keberkahan itu datang.

Inilah mengapa pentingnya kita memiliki sosok pemimpin yang benar-benar peduli, tepatguna dalam mengambil kebijakan dan tak lagi menjadi negeri ini paradoks dengan kekayaan alamnya justru rakyatnya masih miskin. (jejakrekam)

Penulis adalah Ketua LPJK Provinsi Kalsel

Pemerhati Sosial dan Politik, Tinggal di Banjarmasin