Pangeran Jaya Sumitra ; Melanglang Buana dan Kembali ke Pulau Laut (3)

Foto : Dok Mansyur

PERJALANAN hidup Pangeran Jaya Sumitra atau bernama lain Pangeran Djantra memang bak cerita film. Suatu anomali, karena alur cerita perlajanan hidupnya sudah diatur yang kuasa. Tidak diseting sesuai selera sutradara di balik sebuah panggung sandiwara. Dalam perfilman, bisa dikategorikan plotline major dengan garis perjalanan cerita yang dialami tokoh utama. Cerita yang melekat sebagai inti cerita pada tokoh utama, yakni si Pangeran Pulau Laut.

MEMANG tidak ada mendung yang sempat bergelayut di langit Istana Sigam, Pulau Laut. Akan tetapi perintah junjungan Sultan Banjar, Sultan Adam memang bak petir di siang bolong. Memanggilnya untuk berbakti di Kesultanan Banjar yang saat itu beribukota di wilayah Martapura. Sulthan Adam Alwatzik Billah bin Sultan Sulaiman Saidullah II atau Panembahan Adam/Sri Paduka Sultan Adam atau Pangeran Adam, Sultan Banjar yang memerintah antara tahun 1825-November 1857.

Untuk menggali bagian ahir cerita perjalanan hidup Pangeran Djantra/Djaya Sumitra tentunya harus kembali ke kurun waktu dalam serpihan serpihan sumber yang terkumpul. Ditulis dengan pendalaman jiwa jaman (zeitgeist) di masa itu yang penuh dengan pergolakan, konflik, hingga ending yang kadang berakhir manis atau duka lara.

BACA : Hormati Raja I Pulau Laut, RSUD Kotabaru Berganti Nama Pangeran Jaya Sumitra

Menyambung artikel sebelumnya, berdasarkan pendapat awal, bahwa Pangeran Jaya Sumitra menjadi Raja Kusan keempat sejak tahun 1845. Kemudian diperkirakan pindah ke Salino dan mendirikan Kerajaan Pulau Laut antara tahun 1845-1861. Akan tetapi pendapat ini bisa “bias” karena terdapat pendapat lain dari CALM Schwaner, bahwa pada tahun 1853, Pangeran Jaya Sumitra sudah menjabat sebagai “penulis rahasia” (juru tulis atau sekretaris dalam istilah kekinian) dari Sultan Banjar (Sultan Adam).

Berdasarkan sumber tersebut, berarti pada tahun 1853, sebenarnya Pangeran Jaya Sumitra sudah ada di Keraton Banjar, Martapura. Artinya, Pangeran Jaya Sumitra ada di Kusan dan Pulau Laut di rentang waktu kelahirannya tahun 1810 hingga tahun 1853an.

Terdapat sumber lain yang menguatkan Schwaner bahwa Pangeran Jaya Sumitra adalah sekretaris atau juru tulis Sultan Adam. J. Munnich & E. Netscher menuliskan pada tahun 1855, kegiatan Pangeran Djaja Samitra lebih banyak di Banjarmasin yakni sebagai “schrijven” (bisa diterjemahkan dengan juru tulis atau sekretaris) dari Sultan Adam.

BACA JUGA : Pangeran Jaya Sumitra dan Resistensi Melawan Hegemoni Kolonial (1)

Mengenai jabatan juru tulis atau sekretaris ini, terdapat versi nama lain berdasarkan pendapat keturunan Raja-Raja Pulau Laut, yakni jabatan Wazir. Bahwa Pangeran Jaya Sumitra adalah wazir dari Sultan Adam. Hal ini juga benar, karena secara teoritis wazir adalah seorang penasihat atau menteri (politik dan atau keagamaan) berkedudukan tinggi, biasanya ditemui dalam sistem monarki Islam seperti Khalifah, Amir, Malik (raja) atau Sultan.

Dengan berkembangnya urusan-urusan Kesultanan, jumlah dan ragam wazir yang diperlukan juga berkembang. Terdapat wazir yang mengurusi masalah keuangan, masalah pembangunan fisik dan tata kota, masalah pertahanan dan kemiliteran, serta keamanan, dan lain sebagainya.

Dalam konteks ini, diperkirakan kedudukan Pangeran Jaya Sumitra sebagai Wazir, yang secara khusus (Nazhir al khass) untuk mengurusi keuangan dan harta pribadi Sultan Adam dan keluarganya. Namun demikian memang jumlah para wazir ini tidak akan terlalu banyak, dan dalam urusan-urusan lain yang lebih rinci, dilakukan oleh petugas lainnya.

Diduga Pangeran Jaya Sumitra dipanggil ke Martapura untuk menjabat Wazir karena kecakapan dan kejujurannya yang disukai Sultan Adam. Apalagi masih dalam kerabat sedarah trah Kesultanan Banjar.

Bagaimana kisah Pangeran Djaya Sumitra di Martapura? Lebih lanjut, van der ven dalam artikelnya menuliskan bahwa Sulthan Adam yang pada saat itu (tahun 1855) usianya 84 tahun. Kemudian permaisurinya, Njai Ratoe Kamala ternyata sudah berusia 90 tahun. Keduanya selaku Raja dan Permaisuri Kesultanan Banjar masih dalam kepemilikan penuh atas aset di wilayah kekuasaannya.

Sultan Adam biasanya dua sampai tiga kali seminggu menunggang kuda dan berburu rusa. Biasanya ditemani Pangeran Hidajat (cucu Sultan Adam). Kemudian dalam pengumpulan pajak, Sultan Adam dibantu oleh Praboe Anom, Mohamad Amin Oellah, Djaja Samitra (Pangeran Jaya Sumitra) dan sejumlah keluarga Kerajaan Banjar (bangsawan).

BACA LAGI : Dari Pulau Laut ke Martapura, Jadi Juru Tulis Sultan Adam (2)

Terdapat hal yang menarik yakni keberadaan Mohamad Amin Oellah/Muhammad Aminullah yang bersama dengan Pangeran Jaya Sumitra sebagai pengumpul pajak. Menurut hasil wawancara keturunan Pangeran Hidayatullah, Pangeran Yusuf Isnendar, Mohamad Amin Oellah atau Pangeran Muhammmad Aminullah adalah ahli strategi perang Kesultanan Banjar, pernah menjadi sekretaris pribadi dan wazir (juru tulis) Sultan Adam Al-watsiqubillah bersama dengan Pangeran Jaya Sumitra.

Berapa gaji Pangeran Jaya Sumitra menjadi sekretaris? Terdapat dalam sumber Munnich & E. Netscher dalam artikelnya yang mendata kerabat sedarah Sulthan Adam tahun 1860. Dituliskan bahwa Pangeran Djaija Samitra (Pangeran Jaya Sumitra) bertempat tinggal di wilayah Martapoera (Martapura).

Sebagai sekretaris (schrijven) atau juru tulis dari Sultan Adam, dengan gaji setiap bulannya menerima menerima beberapa gantang padi dari petani, senilai ƒ60 (60 gulden), atau sekitar ƒ1.400 (1.400 gulden) pertahun. Kelebihan dari Pangeran Jaya Sumitra, ahli dalam berdiplomasi, terlihat dari kemampuannya mempengaruhi orang Eropa.

Sebagai bukti diplomasinya, seperti dituliskan di artikel sebelumnya, menurut van Rees, Pangerangs Djaya Simitra (Pangeran Jaya Sumitra) dan Hamin (Pangeran Hamim) pernah menulis surat diplomasi kepada kepada Kolonel A. Vandevelde, Komandan Laut Maritim Hindia Belanda wilayah Karesidenan Borneo (Kalimantan) bagian selatan dan timur di Steamboat (Kapal Api) Celebes, Marabahan 7 Agustus 1859.

Pada sisi lain muncul pertanyaan lanjutan, mengapa Pangeran Jaya Sumitra tidak mengangkat putranya sebagai putera mahkota dan pewaris tahta di sekitar tahun 1845 hingga 1853 di Kusan dan Pulau Laut? Justru dalam perkembangannya tampuk pemerintahan diduduki saudaranya, Pangeran Abdul Kadir.

BACA LAGI : ‘Menggugat’ Kiprah Pangeran Antasari di Kecamuk Perang Banjar

Apabila ditelusuri dalam Silsilah Raja Raja Tanah Bumbu, yang disusun H. Nindyanto (alm), Pangeran Jaya Sumitra memang tidak dituliskan memiliki keturunan yang menjadi raja. Hal ini diakui keturunan Keluarga Kerajaan Tanah Bumbu dan Pulau Laut, Yang Mulia Andi Ida Kesuma (Aidaf Kesuma). Walaupun demikian, etrnyata Pangeran Jaya Sumitra sebenarnya memiliki putra yakni Pangeran Kesuma Giri yang di kemudian hari, tahun 1895 menduduki jabatan sebagai Djaksa di Martapura.

Pangeran Kesuma Giri tidak mau menduduki posisi sebagai Raja di Kerajaan Pulau Laut, selama ayahnya masih hidup atau setelah meninggal dunia. Walaupun demikian, Aidaf Kesuma belum bisa memperkirakan pasti, kapan Pangeran Jaya Sumitra mulai berada di Martapura dan kapan lahirnya putranya, yakni Pangeran Kesuma Giri. Demikian juga dengan nama nama istri dari Pangeran Jaya Sumitra.

Dari silsilah Keturunan Keluarga Keturunan Datu Kabul/ Datu 10 Zuriat Raden Adipati Danoeradja (Anang Zainal Abidin), terdapat informasi lain bahwa Pangeran Jaya Sumitra memiliki saudara kandung bernama Ratu Safura. Pangeran Jaya Sumitra memiliki keturunan yakni Pangeran Kesuma Giri, Gusti Aman, Gusti Bagu, Pangeran Abdurrasul, Gusti Achmad, Gusti Salamah, Gusti Kulsum, Gusti Aminah dan Gusti Fatimah. Versi lain, berdasarkan silsilah keluarga dari Keluarga Gusti Abdul Azis Kotabaru, Pangeran Djaja Samitra anak dari Nyai Ambak (adik Nyai Ratu Kamala Sari), berputra Goesti Abdoellah bergelar Pangeran Kasoema Giri.

BACA LAGI :  Sultan Suriansyah Diyakini Bagian dari Kekhalifahan Utsmaniyah

Sejak menjalankan tugas sebagai sekretaris Sultan Adam, Pangeran Jaya Sumitra bermukim di Martapura. Dari buku catatan Haji Isa, pada beberapa tempat menyinggung tentang keberadaan pangeran Jaya Sumitra. Catatan ini ditulis oleh Haji Isa saat mudik ke Martapura bersama Pangeran Syarif Husin dan Kolonel Andresen. Catatan tersebut ditulis pada hari Sabtu, hari 10 Zulkaidah 1275 M (12 Juni 1859) dengan kapal api Celebes. Kutipannya tertulis:

“…maka ketika sampai di depan Masjid dan di pasar lebih banyak orang penuh sampai di pinggir Keraton sebelah ilir, maka saya lantas mampir di rumah Pangeran Jaya Sumitra di seberang keraton,….dan ketika saya sampai di rumah pangeran Jaya Sumitra saya suruh saya punya kawan melihat Pangeran Mangku Dilaga,….. pagi mudik saya mampir di rumah Pangeran Jaya Sumitra tempat pangeran Syarif Husin mondok (bermalam) ….lantas saya turun dari rumah Pangeran Jaya Sumitra bersama Pangeran Syarif Husin…..

Tidak jauh berbeda dengan catatan Pangeran Syarif Husin juga pada hari Sabtu, hari 10 Zulkaidah 1275 H (12 Juni 1859), dengan kapal api Celebes. Kutipan catatan Syarif Husin:

“…dan saya terus mampir di tumahnya Pangeran Jaya Sumitra, di seberang Keraton Martapura,…dan ketika saya sampai di rumahnya Pangeran Jaya Sumitra, lantas saya menyuruh melihat pangeran Hidayat,…Haji Isa lantas turun dari tumah Pangeran Jaya Sumitra….”

Dari kedua catatan ini dapat diambil kesimpulan bahwa Pangeran Jaya Sumitra berdomisili di Martapura. Rumahnya berada di seberang Keraton Martapura. Tidak dijelaskan secara detail apakah di seberang Keraton yang dimaksud adalah di seberang Sungai atau di depan Keraton.

Pada lukisan “Martapoera, de Kraton en de Tamboer”, yang dibuat oleh H.M. van Dorp, tahun 1861 terdapat penggambaran tentang Keraton Martapura. Gambar tersebut diambil dari seberang Keraton. Apabila bertitik tolak dari pendapat bahwa rumah Pangeran Jaya Sumitra di seberang sungai, maka kemungkinan besar gambar keraton tersebut dilukis dengan view yang diambil dari rumah Pangeran Jaya Sumitra.

BACA LAGI : Maestro Seniman Banjar Fadli Zour, Pencipta Lagu Pambatangan Tutup Usia

Selain itu terdapat lukisan lain yang menggambarkan bagaimana sisi lain dari Keraton (Dalem) Martapura pada tahun 1865. Pada kurun waktu ini Pangeran Jaya Sumitra sudah berdomisili di wilayah Martapura. Lukisan tersebut berasal dari buku Willem Adriaan van Rees, berjudul De bandjermasinsche krijg van 1859-1863.

Tidak banyak sumber sejarah berikutnya yang mengisahkan Pangeran Djaya Sumitra atau Pangeran Djantra. Dinamika politik selanjutnya, terjadi pada tahun yang sama ketika Sultan Tamjidillah dipaksa turun tahta pada tanggal 25 Juni 1859 dengan menandatangani sebuah akte. Kemudian, Andressen yang telah mendapat surat keangkatannya sebagai Komisaris Pemerintah membentuk suatu Komisi Pemerintah Kerajaan.

Dinamika pada tahun 1860, seperti dikemukakan Gusti Mayor bahwa pada tanggal 11 Juni 1860, Residen Nieuwen Huyzen mengumumkan penghapusan Kesultanan Banjar yang digantikan Komisi Kerajaan di bawah Pangeran Suria Mataram (anak Sultan Adam) dan Pangeran Mohammad Tambak Anyar (anak Ratoe Anom Mangkoeboemi Kentjana) dibantu Pangeran Hamim, Pangeran Akhmid, Pangeran Dulah, Raden Ardi Kesuma, Pangeran Djaya Sumitra, Kiai Patih Guna Wijaya, Kiai Wira Yudha, Kiai Rana Manggala, Kiai Mangun Rasmi, dan lain lain.

Demikian halnya Rees menuliskan bahwa anggota komisi tersebut adalah Toen Mufti hadji Mohamad Chalia, Toean Hadji Mohamad Ariep Toenggoel Irong; Pangerang Djaja Pemenang, Pangerans Djaya Samitra, Pangerang Mohamad Tambak Anjer, dua hadji dan dua pangeran lainnya. Dari sumber ini mengindikasikan bahwa Pangeran Jaya Sumitra menjabat anggota Komisi Kerajaan pada tahun 1860.

BACA LAGI : Sketsa Pesisir Borneo : Bissu dan Calabai, Sang Waria Sakti dari Kerajaan Pagatan

Sayang, menurut versi Hindia Belanda, Andresen sebagai Komisaris Pemerintah pada umumnya kecewa dengan hasil kerja komisi ini karena selalu mengajukan permintaan permintaan peralatan diantaranya meminta disediakan 15 ekor kuda untuk anggota anggota komisi. Sementara laporan laporan yang masuk dari komisi ini kebanyakan berkisar tentang kekejaman-kekejaman dari tentara Hindia Belanda.

Ending kisah hidup Pangeran Jaya Sumitra juga minim sumber. Akan tetapi bisa ditelusuri berdasarkan wawancara keturunan Keluarga Kerajaan Tanah Bumbu dan Pulau Laut, Yang Mulia Andi Ida Kesuma (Aidaf Kesuma), berdasarkan sumber lisan turun temurun dari kakeknya, Pangeran Jaya Sumitra menderita sakit menjelang akhir hayatnya. Beliau memperkirakan kemungkinan besar sekitar tahun 1857an Pangeran Jaya Sumitra kembali ke Kotabaru.

Akan tetapi kalau dibandingkan dengan sumber catatan Hindia Belanda sebelumnya, bahwa Pangeran Jaya Sumitra menjabat anggota Komisi Kerajaan tahun 1861, perlu komparasi. Komisi Kerajaan ini akhirnya dibubarkan sekitar tahun 1861-1862. Oleh karena itu diperkirakan sementara Pangeran Jaya Sumitra kembali ke Kotabaru setelah pembubaran Komisi Kerajaan sekitar tahun 1861-1862.

BACA LAGI : Di Era Sultan Suriansyah, Kerajaan Banjar Mulai Terapkan Hukum Islam

Oleh karena itu beliau kembali ke tanah kelahirannya di Pulau Laut. Selain itu, ingin bertemu dengan saudaranya, Pangeran Abdul kadir. Setelah berbulan bulan sakit dan dirawat di Pulau Laut, akhirnya Pangeran Jaya Sumitra menghembuskan nafas terakhirnya di tengah tengah keluarga besarnya. Selanjutnya beliau dimakamkan di Pemakaman Raja Raja Sigam, Kotabaru.

Pada Komplek Makam Raja-Raja Sigam ini, memang terdapat makam yang diyakini masyarakat sebagai makam Pangeran Jaya Sumitra. Sayang, pada makam tersebut terdapat “kesalahan” redaksi penulisan identitas makam. Pada prasasti makam tertulis Pangeran Jaya Sumitra bin Pangeran Muhammad Nafis, wafat tahun 1850. Kemudian menyangkut nama bin atau orang tua Pangeran Jaya Sumitra. Seharusnya tertulis Pangeran Jaya Sumitra bin Pangeran Haji Musa.

Berikutnya penulisan tahun wafatnya juga perlu ada perubahan, karena tahun 1850, Pangeran Jaya Sumitra masih hidup. Perlu riset lebih lanjut tentang tahun meninggalnya Pangeran Jaya Sumitra. Pangeran Jaya Sumitra pada tahun 1855 menjabat sebagai Sekretaris/Jutru Tulis/Wazir Sultan Adam dan tahun 1861 menjadi Anggota Komisi Kerajaan, setelah Kesultanan Banjar dihapuskan Pemerintah Hindia Belanda.

BACA LAGI : Islamisasi Tanah Banjar dan Gagalnya Raden Sekar Sungsang Dirikan Kerajaan Islam

Terakhir, apa tujuan mengetahui sejarah Pangeran Jaya Sumitra? tentu untuk mengetahui peristiwa yang terjadi di masa lampau sebagai dasar utama dari belajar sejarah. Pembaca bisa mengetahui apa yang terjadi di masa lalu, siapa yang terlibat, di mana peristiwa terjadi dan apa dampak dari peristiwa tersebut.

Belajar sejarah akan menambah pengetahuan dan wawasan dari era ke era. Kemudian sebagai media pembelajaran. Berikutnya, manfaat inspiratif. Sebagai sumber inpsirasidi era kekinian. Sejarah lokal memberi peran penting dalam kemajuan pendidikan. Sejarah lokal akan memberi pemahaman bagi masyarakat mengenai asal usul serta akar sejarahnya. Sehingga, masyarakat pun dapat menghadapi realitas di masa kini yang lebih baik.(jejakrekam/habis)

Penulis adalah Penasihat Komunitas Historia Indonesia Chapter Kalsel

Ketua Lembaga Kajian Sejarah, Sosial dan Budaya (SKS2B) Kalimantan

Dosen Prodi Pendidikan Sejarah FKIP ULM Banjarmas