Hati sebagai Khalifah Diri

SEBUAH hadits Nabi Muhammad Saw yang populer di dunia tasawuf, menyatakan bahwa al-qalbu baitur rabbi artinya hati seorang insan adalah rumah (tempat tajalli) Tuhan. Namun bukan hati sembarang hati, melainkan hati dari orang-orang yang beriman.

INI karena Allah telah berfirman dalam Hadits Qudsi bahwa takkan mampu langit dan bumi menampung (menjadi khazanah)-Ku, kecuali hanya hati manusia beriman yang memiliki kesanggupan sebab telah mencapai tingkat qalbun salim, yakni hati yang damai, sehat, bening, teguh dan tenang.

Imam Ghazali dalam kitabnya ‘Ajaibul Qulub mengatakan bahwa hati harus dijadikan pemimpin, imam dan khalifah dalam pemerintahan diri. Maksud pemerintahan diri manusia adalah adanya berbagai unsur yang terdapat dalam diri manusia dan saling  mempengaruhi satu sama lain. Ada panca indra yang lima yakni mata melihat, telinga mendengar, mulut mengecap, hidung mencium dan kulit merasa.

BACA : Masjid sebagai Pusat Kebudayaan

Lalu ada pula, anggota tubuh yakni kepala menggeleng-mengangguk, dada membusung, perut mengembang-mengempis, tangan mengambil-menyentuh, pantat baegal- bagual dan kaki melangkah dengan pasti. Di samping itu, ada akal yang senantiasa berpikir logis, positivistik dan ilmiah. Kemudian, ada juga perasaan atau emosi yang suka menduga-duga, berprasangka, suka-cita, duka-lara, mengkhayal, berangan-angan, melamun dan sumber dari segala imajinasi.

Selain itu, ada nafsu yang ambisius, egois, individualis, serakah, tamak, kikir, suka marah dan selalu membisikkan segala kejahatan-kemaksiatan. Lantas ada hati lawannya nafsu yang selalu membisikkan kebaikan-kesalehan dan mengajak kepada keagungan-kemuliaan.

Imam Ghazali menyarankan agar posisi hati menjabat sebagai penguasa tertinggi dalam pemerintahan diri. Hati harus jadi khalifah yang membimbing, mengarahkan, mengadili, menghukum dan mendidik pancaindra, anggota tubuh, akal, perasaan dan nafsu, agar patuh dan tunduk pada tata-aturan dan tata-tertib yang diperintahkan oleh hati.

BACA JUGA : Uskup Banjarmasin Prihatin Hoaks dan Ujaran Kebencian Makin Marak

Jangan sampai terjadi sebaliknya hati dipengaruhi, ditunggangi apalagi sampai tunduk pada unsur lain tersebut baik secara keseluruhan atau salah satu, salah dua, salah tiga dan salah empat dari elemen yang ada.

Karena bila terjadi demikian, hati yang ibarat cermin bening itu akan mengalami proses pemburaman bahkan bisa terjadi kegelapan pekat yang tak bisa lagi memantulkan seberkas terang cahaya Ilahi dan fajar budi.

Untuk menguatkan hati agar bisa menjadi khalifah yang baik dan imam yang diteladani dalam pemerintahan diri, maka difirmankan Tuhan dalam Alqur’an :”Ya ayyuhalladzina amanu tathma’innu qulubukum bidzikrillah, ala bidzikrillahi tathmainnul qulub“, artinya Hai orang-orang yang beriman kuatkan-tenangkanlah hati kalian dengan dzikir (ingat dan menyebut-nyebut) kepada Allah, semoga dengan dzikir kepada Allah, hati kalian akan memperoleh kekuatan-ketenangan.

Dzikir kepada Allah sangat luas ruang lingkupnya bisa terkait pada ibadah makhdlah (hablum Minallah-ritual), mu’amalah (hablum Minannas-sosial) dan mu’alamah (hablum Minal’alam-inveromental). Namun Nabi Muhammad SAW bersabda :”Afdlalu dzikri fa’lam la Ilaha illallah”, artinya seutama-utama dzikir kepada Allah dengan menyebut kalimat la Ilaha illallah (tiada Tuhan yang disembah kecuali Allah).

Insya Allah dengan zikir kepada Allah yang banyak akan membuat nafsu ammarah dan nafsu lawwamah akan bisa terkendali dan akan menjadi nafsu muthma’innah yang selalu diseru agar kembali kepada Tuhan sebagai golongan yang ridla dan diridlai, serta termasuk dalam golongan hamba-Nya dan akan masuk ke dalam surga-Nya sebagaimana ditegaskan oleh Alqur’an :”Ya ayyatuhan nafsul muthma’innah irji’i ila rabbiki radliatan mardliyah, fadkhuli fi ‘ibadi wadkhuli jannati”.

BACA JUGA : Stress Picu Penyakit yang Diidap Makin Ganas

Dengan zikir pula perasaan menjadi tidak tempramental dan emosional, tapi justru menjadi sangat sabar dan legowo. Karena ia tahu Allah bersama orang-orang yang sabar (innallaha ma’as shabirin) dan sabar itu adalah suatu keindahan (fashabrun Jamil).

Demikian juga, dengan akal, jika dijinakkan dengan dzikir akan menjadi akal yang sehat, selalu berpikir positif dan jauh dari berpikir kotor. Pepatah Arab mengatakan al-aqlus salim fi jismis salim, artinya akal yang sehat terdapat pada badan yang sehat.

Sebaliknya juga, di dalam badan yang sehat terdapat akal yang sehat. Dengan dzikir pula, di samping dapat menyehatkan badan atau anggota tubuh secara keseluruhan, ia juga bisa menuntun pancaindra untuk melihat, mendengar, mengucap, mencium dan merasa yang serba kebaikan dan kemanfaatan, meninggalkan kemungkaran dan kemudaratan.

BACA JUGA : Di Masjid Al-Mujahidin, Pakar Kristologi Insan Mokoginta Berbagi Pengalaman

Begitulah, Allah dan Rasul-Nya menyuruh kita, orang-orang beriman untuk menjaga hati dengan sebaik-baiknya dengan banyak berdzikir (menyebut/mengingat) kepada Allah, agar hati kita tetap bagai cermin yang bisa menangkap bayang-bayang Tuhan di bumi (zhilalullah fil ardli) dan ia senantiasa menjadi khalifah dalam pemerintahan diri. Hati yang bisa sebagai khalifah inilah yang pada gilirannya, akan sanggup menjadi khalifah untuk memakmurkan dan menyejahterakan kehidupan di bumi.(jejakrekam)

Penulis adalah Staf Pengajar Fakultas Tarbiyah UIN Antasari

Peneliti Senior LK3 Banjarmasin