Kenangan Label Suryanata Record, Lagu Banjar yang Kini Kehilangan Cengkok

MASIH ingat ketika dulu menggulung pita dengan pulpen atau pensil, hingga menyambung pita yang putus, atau merekam lagu-lagu favorit ke dalam kaset kosong? Ya, mungkin kenangan itu masih dirawat segelintir orang, terutama kolektor kaset.

BANYAK orang kini mungkin telah melupakannya, meski tak sedikit pula yang merindukannya. Termasuk desis suara atau pita kusut saat disetel, me-rewind atau memutar lebih cepat untuk mendapatkan lagu kesukaan. Ingar-bingarnya teknologi digital pun memang menggerus beberapa produk konvensional seperti kaset pita. Bahkan, tak sedikit toko kaset yang sudah gulung tikar akibat gempuran digital.

Ini mengingat, masyarakat di era sekarang dimanjakan dengan music streaming. Bermodalkan gawainya saja, sudah mampu menjelajahi jutaan musik lokal maupun internasional secara gratis.

BACA : Gawi Manuntung, Album Terbaru Grup Musik JEF

Popularitas kaset pita pun seakan sirna. Padahal di era 1980, usaha ini bisa membuka lahan bisnis turunan. Selain alat pemutar seperti radio tape dan alat-alat yang dipakai label dalam memproduksi sebuah album, rak kaset dengan beragam model atau cairan pembersih kaset merupakan sedikit dari banyaknya produk bisnis turunan kaset.

Ya, mau tak mau, zaman mengharuskannya legowo memberi tempat kepada yang lebih muda. Seperti pendahulunya, piringan hitam, kaset harus memberi tempat kepada teknologi yang lebih muda, mudah, dan murah, dari Compact Disc (CD) hingga MP3.

Salah satunya, Suryanata Record Banjarmasin telah punah sejak 2002. Label yang dijalankan H Sapuansyah yang didirikan oleh ayahnya, H Supiansyah ini memproduksi hampir seluruh karya Maestro Lagu Banjar Anang Ardiansyah, seperti Paris Barantai yang juga direkam hingga diperbanyak.

BACA JUGA : Jefry‘JEF’ Tribowo: Bikin Lagu Banjar Jadi Ngepop

Tak hanya itu, pemadihin kocak Jhon Tralala, penceramah ternama Guru Bakri, pemusik Banjar S. Hendro, Hamidan, Syarifuddin MS, Grup Saraba Sanggam, Tingkilan Kaltim, Karungut Kalteng, Musik Panting dari Pandahan, Mamanda, Orkes Rindang Banjar dan penyanyi solo Banjar juga pernah menggunakan jasa label ini yang dipasarkan ke Kalsel, Kaltim dan Kalteng.

Sapuansyah mengungkapkan permintaan kaset pita memang sangat sepi di era teknologi saat ini. Sehingga, dirinya pun beralih ke usaha lain dengan menyewakan alat musik sekaligus menjadikan rumahnya sebagai penginapan kos putri di Jalan Adhyaksa 6 RT 26 Nomor 18, tepatnya seberang Kampus Uniska Banjarmasin.

Padahal, di era 1983 hingga 1990, kaset pita miliknya ini laku sebanyak 30.000 biji per bulan. Namun, ketika sudah berbentuk CD, Sapuansyah tak berani lagi memasarkan. “Mengingat sangat mudahnya dicopy untuk diupload ke youtube,” ujar Sapuansyah saat ditemui jejakrekam.com, Rabu (3/4/2019).

BACA LAGI : Jhon Tralala, Ikon Penghibur Serba Bisa Tanah Banjar dan Penerus Datu Madihin

Ia bercerita, Madihin Dangdut bahkan sampai ke negeri jiran, Malaysia, karena banyak disukai para pendengar. Mengingat, pada waktu itu media untuk mendengarkan lagu hanya melalui radio. Namun, akibat kecanggihannya zaman sekarang diaku Sapuansyah, sangat mudah sekali jika hasil produksinya mudah digandakan orang ketika beralih ke VCD.

“Tidak ada lagi khusus komersial. Masalahnya Taman Budaya pernah mengeluarkan album komersial. Yang lain pun pernah juga, cuma berbentuk CD tentunya mudah untuk di-copy orang hingga disebarkan di youtube,” bebernya lagi.

Sejak melemparkan album Pengantin Banjar di tahun 2002, Sapuansyah pun terpaksa menyebarkan sisa-sisa produksinya melalui akun Youtube yang diberi nama Suryanata Record dengan merecyle lagu lawas. “Kami rilis album pilihan terdahulu dengan melakukan video klip hingga di upload ke youtube yang diperankan oleh kedua anak saya,” tuturnya.

Menariknya, Sapuansyah mengungkapkan saat memproduksi rekaman ditempatkan dipinggir sungai di Kampung Arab, Jalan Antasan Kecil Barat (Akaba), Banjarmasin, sembari menunggu waktu yang tepat untuk tidak dilalui klotok. Sebab, alat yang digunakan pada saat itu masih menggunakan secara manual.

“Take vokal saja sekitar pukul 03.00 Wita. Ketika klotok lewat terpaksa diulang kembali. Salah sedikit, diputar ulang lagi. Tidak seperti saat ini yang sangat mudah untuk merekam,” papar Sapuansyah.

BACA LAGI : Maestro Seniman Banjar Fadli Zour, Pencipta Lagu Pambatangan Tutup Usia

Dia pun mengeritik kesenangan orang Banjar saat ini jauh berbeda dengan daerah lain yang lebih menghargai seni. Mestinya, beber Sapuansyah, jika fanatik tentunya mendapat dukungan dari pemerintah daerah untuk memperdendangkan lagu Banjar di fasilitas umum, seperti bandara atau bus. “Mungkin akan lebih naik lagi lagu Banjar. Apalagi saat ini, hampir tiap minggu di acara perkawinan sangat jarang membawakan lagu Banjar yang tepat,” kata Sapuansyah.

Menurutnya, di era dulu, banyak yang antusias ingin menciptakan lagu Banjar. Bahkan, sejak tahun 1985, setiap tahun selalu ada lomba festival lagu Banjar di era Gubernur Muhammad Said hingga Sjachriel Darham. “Setelah itu mati suri, tak seperti dulu,” ucapnya.

BACA LAGI : Jangan Terbelenggu Pakem Kedaerahan, Lagu Banjar Perlu Sentuhan Modernitas

Bagi Sapuansyah, dari segi komersil tidak mungkin lagi bisa diandalkan. Hanya mempertahankan budaya melalui lagu Banjar yang jadi dasarnya untuk tetap bertahan. Seperti pada era dulu bisa memboomingkan Ampar-Ampar Pisang dan Paris Barantai hingga terkenal ke Jakarta.

Lagu Banjar sejak di era 1960 diakui Sapuansyah, memiliki rasa dan ruh Banjar yang kental. Saat ini, dirinya merasa lagu-lagu seperti yang diciptakan JEF bukan dikategorikan sebagai lagu Banjar, melainkan lagu pop dengan berbahasa Banjar.

“Sebab, lagu Banjar itu dipadu dengan Melayu hingga menghasilkan cengkok khusus tanpa dipengaruhi oleh modernisasi seperti lagu pop saat ini,” ucapnya.

Menurut Sapuansyah, musik yang dibawakan JEF yang beranggotakan Niluh (Vokal 1), Winda (Vocal 2), Jefry (Keyboard & Sequencer), dan Eben (Gitar) hanya bisa dinikmati kalangan milenial saja. Sedangkan bagi pendengar yang tua, dijamin bakal tak menyukainya.

“Karena, lagu berbahasa Banjar dan Lagu Daerah Banjar itu beda. Ada juga lagu dangdut dibahasakan Banjar itu juga berbeda. Jadi, bukan dikategorikan lagu Banjar. Karena cengkoknya hilang,” ucapnya.

BACA LAGI : Pilih Irama Pop Kreatif, Album Lagu Banjar Dibagikan Gratis

Menurutnya, apa yang dibawakan JEF lewat album Waja Sampai Kaputing dan Gawi Manuntung ini tidak memiliki identitas dari kedaerahan Banjar. Meskipun mereka membawakannya dengan musik panting dianggapnya hanya bersifat kolaborasi.

“JEF itu kan merupakan kreasi anak muda. Tetapi keluar dari lingkaran khas Banjar,” katanya.

Sementara, lagu Selamat Datang di Banjarmasin ciptaan Nurhasan yang dicover Pandaz berkolaborasi dengan Tommy Kaganangan, Alint Markani, Moy dan Iim yang diisi oleh kalangan milenial ini dinilai Sapuansyah, termasuk dalam kategori lagu Banjar. Sebab, mereka mengikuti antara Pop, Dangdut dan Melayu. “Itu bisa dikategorikan lagu khas Banjar karena memiliki cengkok sebagai ruh Banjar yang kental,” katanya.

BACA LAGI : Tampilkan Musik dan Lagu Banjar di Fasilitas Umum

Ia berpesan, meski teknologi saat ini sangat berkembang. Akan tetapi, cengkok tidak boleh ditinggalkan. Karena itulah menjadi ciri khas dari lagu Banjar.

Sapuansyah memberikan beberapa contoh lagu ketika jejakrekam bertandang ke rumahnya melalui lagu yang diputar melalui keyboardnya. Seperti lagu Anang Ardiansyah berjudul Kembang Goyang yang memiliki ruh lagu Banjar.(jejakrekam)

Penulis Arpawi
Editor Didi GS
Anda mungkin juga berminat
Loading...
Kata mereka tentang jejakrekam.comhttps://www.youtube.com/watch?v=JMpxvqUGSc4&t=28s