Hidup Sehat Tanpa Kantong Plastik

Oleh : Laila Thamrin

SIAPA yang tak kenal dengan kantong plastik? Rasanya semua orang tak asing lagi dengan benda ini. Berbagai barang belanjaan di pasar sering dimasukkan dalam kantong plastik kala kita membawanya. Jadi, di mana-mana kita mudah sekali menjumpainya.

TETAPI ada yang berbeda pada tanggal 14 Februari 2019 yang lalu. Walikota Banjarmasin, Ibnu Sina membagi ribuan bakul purun kepada para pedagang dan pembeli di lima pasar tradisional pada setiap kecamatan se-Banjarmasin. Bakul purun ini sebagai alat membawa barang-barang belanjaan mereka. Gerakan bakul purun launching di Pasar Teluk Dalam, Kamis 14 Februari 2019 yang lalu.(Kumparan.com, 14/2/2019)

Gerakan ini sebagai upaya dari Pemerintah Kota Banjarmasin dalam pengurangan penggunaan kantong plastik di masyarakat. Dengan bakul purun sebagai pengganti kantung plastik, diharapkan menjadi contoh agar Banjarmasin Baiman (barasih wan nyaman) bisa terwujud. Bakul purun merupakan tas tenteng yang terbuat dari anyaman tanaman purun, khas Kalimantan. Tasnya kuat, tak mudah sobek, ramah lingkungan dan lebih irit biaya karena bisa dipakai berulang-ulang selama beberapa waktu.

Kebijakan ini sebenarnya merupakan tindak lanjut dari Peraturan Walikota Banjarmasin Nomor 18 Tahun 2016 tentang Pengurangan Penggunaan Kantong Palstik yang berlaku sejak 1 Juni 2016. Ritel dan toko modern menjadi sasaran utama pada awal pelaksanaannya.

BACA : Ini Inovasi SMKN 5 Banjarmasin, Olah Sampah Plastik Jadi BBM

Dan tahun ini telah merambah ke pasar-pasar tradisional di kota Banjarmasin. Bahkan kebijakan ini mendapat apresiasi dari berbagai pihak di Konferensi Perubahan Iklim (COP) 23 di Bonn, Jerman pada 15-17 November 2017 silam, setahun setelah Perwali dikeluarkan. Apresiasi ini diperoleh karena Banjarmasin sebagai kota pertama dan satu-satunya di Indonesia yang melarang total penggunaan kantong plastik di toko modern ritel dan mini market. (jejakrekam.com, 17/11/2017) 

Dampak Negatif Plastik

Diet kantong plastik merupakan istilah yang biasa digaungkan ke masyarakat untuk mengurangi pemakaian kantong plastik saat membawa barang-barang mereka. Plastik memang bahan yang kuat, ringan, dan harganya terjangkau. Hampir seluruh dunia menggunakannya, baik untuk kemasan suatu produk atau sekedar wadah untuk mengangkut barang-barang kebutuhan hidup.

Namun, akhir-akhir ini pengurangan penggunaan bahan plastik semakin digencarkan. Pasalnya, banyak dampak negatif yang dirasakan bagi kehidupan. Situs dosenbiologi.com melansir bahwa di Indonesia misalnya, hampir setiap tahun masyarakatnya dilaporkan telah memakai 100 miliar kantong plastik. Atau 2 kantong plastik perorang perhari.

BACA JUGA: Menko Kemaritiman : 80 Persen Sampah Plastik di Laut Berasal dari Darat

Selain itu, sampah plastik sulit terurai dalam tanah meski telah tertimbun bertahun-tahun. Diperkirakan memerlukan waktu 200-400 tahun untuk betul-betul terurai. Alhasil, kesuburan tanah berkurang dan zat kimia lain pada tanah yang bersifat racun justru bertambah.

Okezone.com pernah mengungkapkan bahwa per tahun 2017, sekitar 79 persen dari plastik yang diproduksi selama 70 tahun terakhir telah dibuang, baik ke lokasi tempat pembuangan akhir atau ke lingkungan umum. Dan sayangnya hanya 9 persen yang didaur ulang, dan sisanya bahkan dibakar. Kondisi banyaknya sampah plastik ini sendiri bahkan disebutkan oleh para ilmuwan, sebagai sebuah eksperimen dalam skala global yang tidak terkendali.

Berdasarkan beberapa penelitian juga didapati bahwa sampah plastik banyak tersebar di lautan. Sebanyak 80 persen sampah yang ada di lautan berasal dari daratan. Dan 90 persen dari sampah di lautan itu didominasi oleh plastik. Akibatnya, biota-biota laut terpapar polusi sampah plastik. Banyak penyu  termakan kantong plastik yang mengambang karena disangkanya ubur-ubur.

BACA LAGI : Pasar Teluk Dalam dan Pasar Pandu Jadi Contoh Penggunaan Bakul Purun

Elang pun ikut tertipu dengan sampah plastik yang mengapung, dikiranya ikan. Bayangkan jika plastik ini berpindah ke perut hewan-hewan tersebut, bagaimana mereka mencernanya? Kematian pun tak pelak sering terjadi pada hewan-hewan laut ini tersebab paparan sampah plastik yang betebaran.

Pembakaran sampah plastik juga ditengarai menghasilkan gas metana yang menyebabkan emisi karbon ke udara. Hal inilah yang bisa menipiskan lapisan ozon dan akibatnya menimbulkan efek gas rumah kaca. Panas bumi pun menjadi semakin meningkat. Selain itu, Direktur Sekolah Ilmu Lingkungan Universitas Indonesia, DR Emil Budianto, menyatakan, “Kalau sampah-sampah plastik beserta sisa makanan itu dibakar akan memproduksi dioksin dan furan. Zat tersebut dalam konsentrasi kecil saja bisa menyebabkan kematian.” (kompas.com, 27/3/2018)

Kebijakan Solutif

Kita patut mengapresiasi Pemerintah Kota Banjarmasin yang menetapkan kebijakan mengganti kantong plastik dengan bakul purun. Hal ini tentu karena kecemasan mereka akan sampah plastik yang cukup mengkhawatirkan. Dan kerusakan lingkungan memang harus segera dihentikan. Lalu dicarikan solusi yang tepat untuk memperbaikinya.

Kembali ke alam (back to nature) tentu sesuatu yang tepat. Menjadikan tanaman purun sebagai bahan baku pembuatan bakul purun juga membantu mengurangi polusi sampah plastik yang terjadi. Dan di sisi lain, turut membantu meningkatkan pendapatan para perajin bakul purun yang selama ini kesulitan memasarkan produk mereka.

Namun, itu semua belum cukup jika kebijakan ini tidak dibarengi dengan kesadaran pada masyarakat pentingnya menjaga keseimbangan alam demi keberlangsungan kehidupan manusia.  Ini perlu edukasi masif dari negara ke masyarakatnya.

BACA LAGI : Ganti Kresek Bisa Terapkan Penggunaan Bakul Purun di Retail Modern

Di sinilah perlunya peran negara yang siap memberlakukan aturan tersebut tanpa berhitung untung rugi. Karena jika ditilik dari sisi industri perplastikan, tentu saja perusahaan akan diuntungkan dengan terus berproduksinya barang-barang plastik tersebut. Para pemilik modal (Kapitalis) tak akan ambil pusing dengan dampak negatif yang ditimbulkan oleh produknya selama keuntungan terus mengalir ke kantong mereka. Namun kerugian yang ditimbulkan sesungguhnya jauh lebih besar, karena kerusakan lingkungan mengancam kehidupan masyarakat selanjutnya.

Sistem Kapitalisme yang diterapkan membuat kerusakan alam akibat kantong platik ini terus berlanjut. Karena Kapitalisme menjunjung kebebasan, salah satunya kebebasan kepemilikan. Sehingga, siapa saja boleh memproduksi barang dan jasa sebanyak-banyaknya, tanpa ada yang boleh membatasinya, termasuk negara sendiri.

Sejatinya, negara dalam Islam berperan sebagai pengurus dan penjaga bagi rakyatnya dari berbagai keburukan yang mengancam. Baik mengancam jiwa maupun kehormatannya. Maka, jika telah diketahui bahwa sampah plastik berbahaya bagi keberlangsungan hidup masyarakatnya, sudah seharusnya negara meminimalisir produk-produk barang yang berbahan plastik. Dan mensubstitusinya dengan bahan yang lebih aman.

Dari Ibnu Umar ra dia berkata, bahwa Nabi saw pernah bersabda, “Imam (kepala negara) adalah pengurus rakyat. Dia bertanggungjawab atas urusan rakyatnya.” (HR. al-Bukhari)

BACA LAGI : Pujian Banjarmasin dalam Gerakan Indonesia Bersih, Apakah Pantas?

Negara, dalam Islam, tak boleh berhitung untung rugi dalam memberikan pelayanan pada rakyatnya. Karena posisi negara memang sebagai pelayan rakyat. Dan syariah telah memberikan  kekuasaan kepada negara untuk mengelola seluruh potensi SDA negerinya demi kesejahteraan rakyatnya. Industri-industri yang dibangun pun seluruhnya demi untuk memenuhi kebutuhan rakyatnya. Negara tak boleh meraup keuntungan dalam melayani mereka.

Kita berharap, semoga kebijakan pemerintah berkait dengan hajat hidup masyarakat benar-benar memperhatikan kepentingan rakyatnya. Termasuk regulasi tentang pengurangan penggunaan kantong plastik. Ini sebuah awal yang baik. Dan semoga terus berjalan ke arah yang lebih baik lagi. Agar masyarakat terbiasa hidup sehat dalam koridor syariat. Wallahu’alam bish shawwab.(jejakrekam)

Penulis adalah Praktisi Pendidikan/Guru TK di Banjarmasin

 

 

Anda mungkin juga berminat
Loading...
Kata mereka tentang jejakrekam.comhttps://www.youtube.com/watch?v=JMpxvqUGSc4&t=28s