Berorasi di Lapangan Merdeka, Soekarno Lawatan ke Barabai dan Amuntai

Foto : Dok Wajidi Amberi

PESAWAT DC-3 produksi pabrikan Douglas Aircraft Company, mendarat di Lapangan Terbang Ulin, Kalimantan Selatan. Tepat pada Rabu, 13 September 1950, sekitar pukul 16.30 Wita, Presiden Soekarno mendarat dengan pesawat  baling-baling ganda bermesin Pratt and Whitney R 2000, dengan kecepatan jelajah 170 mph (274 km/h) itu.

KAPAL terbang yang jadi pesawat kepresidenan pertama ini merupakan sumbangan masyarakat Aceh untuk perjuangan bangsa Indonesia. Mereka mengumpulkan 20 kilogram emas untuk membeli pesawat canggih yang diproduksi di tahun 1936, 1942 dan teranyar 1950. Waktu itu, harga satuannya diinformasikan mencapai 79.500 dolar Amerika Serikat.

Dengan pesawat itu, Soekarno pun turut dari pesawat menginjakkan kaki pertamanya di Kalimantan Selatan. Sang Putra Fajar ini pun disambut Gubernur Provinsi Kalimantan dr Moerjani, dengan pakaian kebesarannya. Tak hanya itu, kedatangan presiden pertama ini dieluk-elukan masyarakat, dengan persiapan yang matang.

BACA : Hassan Basry Pencetus Peristiwa Tiga Selatan, Soekarno pun Dibuatnya Marah Besar

Peneliti sejarah dari Badan Penelitian dan Pengembangan Daerah (Balitbangda) Provinsi Kalsel, Wajidi Amberi mengungkapkan kedatangan Soekarno ke Kalsel pada 13 September 1950, benar-benar meriah. Apalagi, selama dalam perjalanan dari Lapangan Terbang Ulin (kini Bandara Syamsudin Noor Banjarbaru) hingga melewati ruas jalan menuju ke Banjarmasin, disambut gegap gempita masyarakat Kalsel.

Begitu tiba di Lapangan Merdeka (kini kawasan Masjid Sabilal Muhtadin Banjarmasin) di bekas Benteng Tatas milik Pemerintah Kolonial Belanda, Soekarno pun berpidato dengan suaranya yang khas dan penuh semangat.

BACA JUGA :  Ganti Borneo dengan Kalimantan, Kisah Perjuangan Kaum Sopir Barabai

Sang orator ulung ini memacu dan memicu dengan pidatonya berapi-api dengan memegang tongkat kebesarannya dalam rapat raksasa yang dihadiri masyarakat yang datang dari berbagai pelosok di Kalsel. Mereka ingin menyaksikan langsung wajah sang Pemimpin Besar Republik Indonesia, serta mendengarkan isi pidato yang menggugah semangat nasionalisme tersebut.

Berdasar dari isi Surat Kabar Pengharapan Tahun 1, edisi Kamis, 14 September 1950 yang ditulis dua wartawan kawakan, Zainal dan Artum Artha, usai berpidato di hadapan rakyat Kalimantan Selatan, Soekarno pun melanjutkan lawatannya ke Barabai  dan Amuntai.

BACA LAGI : Pergulatan Barabai, Bandoeng van Borneo di Kaki Bukit Meratus

Usai berkunjung ke ibukota Kalimantan (Selatan), Soekarno dengan pengawalan ketat, kemudian mengunjungi Kewadenan Barabai. Di usia Indonesia baru menginjak usia 6 tahun, di wilayah yang dulunya bernama Onderafdeeling Barabai berdasar Staatblaad tahun 1898 Nomor 178, Soekarno pun sempat berpidato di tengah masyarakat Barabai dan sekitarnya, tepatnya di Balai Rakyat Barabai.

Soekarno juga menyempatkan mengunjungi tokoh pejuang kemerdekaan dan ulama terkemuka Barabai, Habib Alwi bin Abdullah Al Habsyi sekaligus mengundangnya untuk datang ke Istana Merdeka di Jakarta.

Tak hanya itu, Alun-Alun Barabai dulunya berdiri tugu para tentara Belanda yang gugur dalam Perang Banjar itu pun diganti Soekarno dengan nama Lapangan Dwi Warna. Dua warna yang menjadi bendera kebangsaan Indonesia, merah dan putih. Termasuk, meresmikan Rumah Sakit Damanhuri, menggantikan Zienkenhuis atau Hospitaal Barabai yang berdiri sejak 16 Juli 1927 itu.

BACA LAGI :  Dua Wajah Ibnu Hadjar, Pejuang Revolusi yang Dicap Pemberontak

Yang fenomenal tentunya adalah pidato Soekarno pada 27 Januari 1953, di Amuntai, ketika itu masuk berstatus Kabupaten Amuntai. Di Lapangan Pahlawan, Soekarno pun menegaskan soal konsep kenegaraan nasional Indonesia berdasar Pancasila, bukan negara berasaskan Islam. Gara-gara berorasi di Amuntai ini, Soekarno pun dikabarkan mendapat protes keras dari parpol Islam dan ormas Islam.(jejakrekam)

 

Penulis Didi GS
Editor Didi G Sanusi