Sekilas Riwayat Buya Syarwani Zuhri dari Balikpapan

KABAR duka menyelimuti warga Kalimantan Selatan, atas wafatnya Abuya Asy-Syekh Syarwani Zuhri, pengasuh Pondok Pesantren Syekh Muhammad Arsyad Al Banjary atau Datu Kalampayan di Balikpapan, Kalimantan Timur, pada Selasa (26/3/2019). Kepergian ulama berpengaruh di Kalimantan Timur, dan Kalimantan Selatan dalam usia 69 tahun ini, menguntai doa bagi sang almarhum.

BIOGRAFI ulama yang akrab disapa Buya Syarwani Zuhri ini pun ditulis secara khusus dalam akun facebook Humaidy, bernama Ibnu Sami pada Selasa (27/3/2019) malam.

Buya Syarwani Zuhri adalah panggilan populer Prof Dr Tuan Guru H. Ahmad Syarwani Zuhri Al Banjari. Beliau lahir pada tanggal 8 Agustus 1950 di Sungai Gampa, Rantau Badauh, Barito Kuala, Kalimantan Selatan,  kurang lebih 40 kilometer dari Kota Banjarmasin, dari pasangan H. Zuhri bin H Acil dan Hj Marwiyah binti H Khalil.

Beliau masih keturunan dari Datu Kalampayan (Syekh Muhammad Arsyad Al-Banjary). Ranji silsilah beliau dari garis ibu adalah Buya Syarwani Zuhri binti Marwiyah binti H. Khalil binti Dariyah binti H Abdul Hamid Bantuil binti Fatmah binti Syekh Qadhi H Abu Na’im bin Syekh Muhammad Arsyad Al-Banjary.

BACA : Jejak Syekh Muhammad Arsyad di Tanah Betawi

Ranji silsilah dari garis ayah adalah Buya Syarwani Zuhri bin Zuhri (Ijum) bin H Acil (Ashal) bin M Nur binti Asma binti Zainab binti Aisyah binti Syekh Qadhi HM Said Jazuli Nambau bin Syekh Qadhi Abu Su’ud bin Syekh Muhammad Arsyad Al-Banjary. Masih silsilah dari garis ayah adalah Buya Syarwani Zuhri bin Zuhri (Ijum) bin H Acil bin M Nur binti Asma binti Zainab binti Shubuh bin Syekh Mufti H Abdul Jalil bin Syekh Khalifah H Syihabuddin bin Syekh Muhammad Arsyad Al-Banjary.

Ayah dan ibu beliau merupakan keluarga sederhana dan hanya bertani di ladang. Beliau mempunyai saudara kandung beberapa orang di antaranya adalah H Zainal Abidin, H Mahyudin, H Mawardi (ayah Ustadz Jailani), Hj Maimunah, H Syarkani dan Hj Maisarah.

Pada awalnya, Ahmad Syarwani kecil dimasukkan ke sekolah agama Islam tingkat ibtidaiyah dan kemudian Tsanawiyah di Madrasah Sulam ‘Ulum di Desa Sungai Gampa (1957-1961).  Beliau diasuh para guru yang alim-alim, terutama Tuan Guru H Muhammad Marzuki Musthafa, hingga berhasil meneruskan sekolah ke tingkat selanjutnya.

BACA JUGA : Sungai Tuan, Karya Besar Tuan Syekh Muhammad Arsyad

Kemudian, beliau belajar di Madrasah Aliyah Pondok Pesantren Darussalam Martapura,  masuk tahun 1962, lulus tahun 1970. Pada masa itu, pondok pesantren ini di bawah asuhan Guru Tuha, nama populer dari Tuan Guru H Abdul Qadir Hasan dan Tuan Guru H Anang Sya’rani Arif (muhaddits Kalimantan).

Atas dorongan orangtua dan para guru agama, beliau melanjutkan menimba ilmu ke Kota Bangil, Pasuruan, Jawa Timur, pada Pondok Pesantren Datuk Kelampayaan selama tiga tahun (1970-1973), yang diasuh oleh Tuan Guru H Syarwani Abdan (Guru Bangil).

Kemudian, atas pengarahan dan dorongan serta doa restu sang guru, beliau melanjutkan pendidikan ke luar negeri, Arab Saudi, dan kemudian bermukim di sana. Beliau berada di Timur Tengah selama lebih kurang 12 tahun.

Selama di Makkah Al-Mukarramah, beliau sempat menimba ilmu dari tokoh-tokoh Islam dunia, ulama-ulama dan guru-guru besar Al-Haramain (Makkah dan Madinah). Antara lain,  Syekh Sayyid Muhammad Amin Kutbi, Syekh Muhadditsul Al-Haramain Hasan bin Muhammad Al-Masysyath (mufti Makkah Al-Mukarramah), Syekh Al-’Allamah Muhammad Yasin bin ‘Isa Al Fadani Al-Makki (Direktur Madrasah Ad-Diniyah Darul ‘Ulum Makkah Al-Mukarramah), Syekh Muhammad Nursayf Rahimahullah, Al-Habib Al-’Alim Al-Allamah Abdul Qadir bin Ahmad As-Seggaf (wali quthb, Jeddah), Syekh Al-’Arif billah Al-Habib Abu Bakar bin Abdullah Al-Habsyi, Syekh Muhadits Al-Haramain Al-Habib Muhammad bin Alwi Al-Maliki Al-Hasani, Syekh Isma’il bin Zein Al-Yamani Al-Makki, Al-Habib Al-Muhaddits Syu’aib Abu Madyan, Syekh Al-Faqih Al-’Allamah Zakariyya bin Abdullah Billa, Syekh Al-Muhaddits Umar Hamdan At-Tunisi.

BACA JUGA : Mengenal Metode Instinbath yang Digunakan Syekh Muhammad Arsyad Al-Banjari

Sedang di Kota Madinah Al-Munawarrah, beliau sempat belajar dan memperdalam ilmu kepada Syekh Al-Hafizh Zakariyya Kandahlawi Al-Madani, Syekh Al- ‘Arif billah Muhammad Fahmi Al-Madani, dan Syekh Sayyid Muhammad Al-Muntasir Al-Kattani (Mufassir).

Walau cukup lama di Makkah dan Madinah, rupanya dahaga ilmu beliau belum terpuaskan. Maka berangkatlah beliau ke Syria untuk belajar serta mengambil ijazah ilmu-ilmu tafsir dan ilmu-ilmu hadits kepada para ulama di sana. Antara lain, Al-Hafizh Al-’Alim Allamah Al-Muhaddits Sayyid Muhammad Badaruddin Al-Husaini Ad-Dimasyqi, Syekh Al-Allamah Al-Arif billah Izzuddin Al-Ghaznawi, Syekh Al-Allamah Al-Mufassir Muhammad Asy-Syami, Syekh Al-’Alim Al-’Allamah Muhammad An-Nabhani (pengasuh Madrasah Diniyah An-Nahdlatul Ulum Al-Halabi), Syekh Al-’Alim Al-Allamah Rasyid Rasyad Ad-Dimasyqi.

Dari Syria, beliau menuju Irak dan memperdalam ilmu lagi dengan beberapa ulama besar. Antara lain Al-’Allamah Al-Muhaddits Abdul Hay An-Naisyabur, Al-Allamah Mahmud bin Ahmad Al-Baghdadi, Syekh Al-Arif Billah Muhammad Bisa Ahmad As-Sayid Ar-Rifa’i, Syekh Al-’Allamah Al-Quthb Al-Ghauts Al-Akbar Muhammad Al-Fasi, Sayyid Ahmad bin Muhammad Mahyuddin Al-Husaini.

Setelah menuntut ilmu di Irak, beliau melanjutkan pengembaraan beliau ke Negeri Piramida, Mesir, yang cukup terkenal sebagai gudangnya ilmu dan ulama. Di sana, beliau memperdalam ilmu kepada para ulama negeri itu, seperti Syekh Al-Imam Al-’Arif billah Sayyid Muhammad bin Shaleh Al-Ja’fari (imam mufti Al-Azhar Syarif, Mesir), Syekh Al-Alim Al-Allamah Hasanain Muhammad Makhluf (mufti Mesir), Syekh Prof Dr Al-Imam Abdul Halim Mahmud (rektor Al-Azhar University, Mesir), Al-’Alim Al-Allamah Syekh Muhammad Sulaiman bin Muhammad An-Namiri At-Thanthawi (Rektor University Jami’ah Muhammiyah Asy-Syafa Thantha).

BACA LAGI : Muhammad Chalid, Sosok Hebat di Balik Sang Guru Politik NU, KH Idham Chalid

Kemudian beliau ke Maroko, berguru antara lain kepada Al-Hafizh Al-Muhaddits Sayyid Ahmad bin Shiddiq Al-Ghumari, Al’Alim Al-Allamah Syekh Abdul Aziz Shiddiq Al-Ghumari, Syekh Al-’Allamah Asy-Syarif Muhammad bin Abbas Al-Fasi Al-Hasani. Lalu, beliau hijrah ke Yaman untuk memperdalam ilmu antara lain kepada Syekh Al-Allamah Al-Faqih Yahya Al-Ahdal, Al-Arif billah Sayyid Abu Madyan, Syekh Al-’Allamah Al-Faqih Abdullah Al-Lahiji, Al-Allamah Syekh Al-Muhaddits Al-Yamani Ahmad bin Yahya bin Abdul Wasyi.

Beliau juga pernah mengambil ijazah dari dua ulama besar negeri Sudan, yaitu Syekh Ibrahim Ar-Rasyidi As-Sudani dan Syekh Al-’Allamah Ahmad Jabarti.

BACA LAGI : Wahdatul Wujud, Ajaran Nur Muhammad dan Sufisme Banjar

Pada tahun 1986, beliau kembali ke tanah air, dan langsung menuju kampung halaman di Sungai Gampa Marabahan, Barito Kuala, Kalimantan Selatan. Atas inisiatif keluarga, beliau kemudian membeli rumah di Martapura, yaitu di Jalan Pesayangan Gang Kurnia RT I No. 1. Beberapa saat beliau menempati rumah yang baru dibeli, sambil merasakan nikmatnya barakah berkumpul dengan guru-guru dan ulama-ulama di Martapura, seperti Tuan Guru H Samman Mulia, Tuan Guru H Muhammad Zaini Ghani, Tuan Guru H Husin Dahlan, Tuan Guru HM Ramli Radhi, Tuan Guru H Badaruddin, Tuan Guru HM Royani dan lain-lain.

Namun Allah berkehendak lain, guru beliau memerintahkan agar beliau berhijrah ke daerah Kaltim atau tepatnya di Balikpapan untuk mendirikan pesantren di sana dan atas perintah dari Tuan Guru Bangil juga, nama pesantren itu diberi nama, Pondok Pesantren Syekh Muhammad Arsyad Al-Banjaru, mengambil berkah nama datu beliau. Dan, di Kaltim pun beliau bertemu dengan teman seperjuangan beliau yaitu Tuan Guru H Muhammad Shafwan (Guru Handil), Handil 6 Muara Jawa, yang sangat mengharapkan supaya beliau bisa mengajar di Balikpapan, Kalimantan Timur.

Kemudian beliau pindah dan menetap di Balikpapan untuk seterusnya menetap di sana. Pada pertengahan tahun 1987, mulailah dibangun Pondok Pesantren Syekh Muhammad Arsyad Al-Banjari.

BACA LAGI : Manaqib Syekh Muhammad Zaini bin Abdul Ghani Al Banjary

Saat itu, sudah ada tanah seluas 30 ha, yang dahulunya merupakan hutan semak belukar dan terletak di Km 19,5 Jalan Raya Balikpapan-Samarinda. Kemudian dibuka dan di atasnya didirikan lembaga pendidikan Islam yang nama lengkapnya adalah Pondok Pesantren Syekh Muhammad Arsyad Al-Banjary.

Pembangunan Pondok Pesantren Syekh Muhammad Arsyad Al-Banjari dimulai pada tahun 1987. Perataan tanah dimulai pada 1990 dibantu oleh Den Zipur Kodam/VI Tanjung Pura. Pada tanggal 13 Maret 1993, diresmikan pondok pesantren ini.

Kini di pondok pesantren ini sudah tersedia Masjid, Gedung Ma’had Aly, Penginapan Santri, Perumahan para ustadz, selain rumah untuk pengasuh pondok pesantren. Di samping itu juga perpustakaan, puskesmas, kantin, dan lapangan olahraga.

Beliau memulai proses pendidikan di pesantren ini awalnya hanya dengan 45 santri. Waktu itu, beliau masih sendirian belum dengan ustadz yang lain. Kini, jumlah santri di Pondok Pesantren Syech Muhammad Arsyad Al-Banjari ada sekitar lebih 470 putra dan 159 putri. Santri putri memang masih sedikit, karena pondok pesantren putri baru didirikan tahun 2004.(jejakrekam)

Penulis Ahmad Husaini
Editor Didi GS