Jejak Syekh Muhammad Arsyad di Tanah Betawi

Foto : Koleksi Museum Tropen/Berbagai Sumber

DALAM banyak literatur, Syekh Muhammad Arsyad Al Banjary atau Datu Kalampayan pernah singgah ke Batavia yang kini Jakarta, sebelum balik ke Martapura. Ulama kenamaan Tanah Banjar ini pun pernah membetulkan arah kiblat beberapa masjid di Betawi, usai pulang belajar ilmu agama Islam dari Haramain dan Timur Tengah.

INFORMASI ini dikupas Yusuf Halidi dalam bukunya berjudul Ulama Besar Kalimantan Selatan Syekh Arsyad al-Banjari, terbitan al-Ikhsan 1968, Surabaya atau Abu Daudi dalam buku Maulana Syekh Muhammad Arsyad al-Banjari (Tuan Haji Besar), Dalam Pagar Martapura, 1996.

Ulama besar yang berpengaruh hingga kini masih terasa ini saat menginjak usia remaja dikirim studi Islam ke tanah kelahiran Rasulullah SAW, di masa Raja ke-15 Kesultanan Banjar, Sultan Tahmidullah (1700-1745). Tercatat, selama 32 tahun, Muhammad Arsyad muda menimba ilmu dengan ulama terkemuka di Timur Tengah.

Selama di Tanah Haram, Muhammad Arsyad bergabung dalam kelompok pelajar Melayu atau Jawiyyin. Berbagai ilmu di dalamnya sang Mufti Kerajaan Banjar ini seperti ilmu fiqih, tauhid, tasawuf, hadits, tafsir, ilmu falak dan lainnya. Dari pengalamannya itu, Syekh Muhammad Arsyad diyakini menuangkan karya tulisnya selama hidupnya sebanyak 17 karya. Yang paling fenomenal adalah Kitab Sabilal Muhtadin, hingga kini jadi rujukan fiqih bermazhab Syafi’i di Jazirah Melayu.

BACA : Penuhi Janji, Paman Birin Mulai Proyek Renovasi Makam Datu Kalampayan

Para peneliti sejarah pun menyakini bahwa kakek Syekh Muhammad Arsyad Al-Banjary adalah Abu Bakar yang berasal dari Hadramaut, Yaman. Kemudian,  melarikan diri ke Mindanau, Filipina Selatan, saat pertempuran berkecamuk melawan Portugis. Hal ini juga terungkap dalam riset Wan Muhn Saghir Abdullah dalam judul bukunya Sheikh Muhammad Arsyad al-Banjari, Pengarang Sabilal Muhtadin, terbitan Khazanah Fathimiyah, Kuala Lumpur, Malaysia yang menyebut putra Sayyid Abu Bakar, yakni Abdullah yang merupakan ayah Muhammad Arsyad datang ke Tanah Banjar.

Dalam pengembaraan mencari ilmu, di kalangan umat Islam di Kalimantan Selatan mengenal adanya empat serangkai, yakni Syekh Muhammad Arsyad Al-Banjary, Syekh Abdus Samad dari Palembang, Sumatera Selatan dan Syekh Abdurrahman Misri dari Betawi (Jakarta), serta Syekh Abdul Wahab Bugis dari Sulawesi Selatan.

Sejarawan Islam asal UIN Antasari Banjarmasin, Humaidy juga menyarikan hasil riset mengenai jejak dakwah Syekh Muhammad Arsyad Al Banjary yang populer dengan gelar Datu Kalampayan di Tanah Betawi.

BACA JUGA : Sungai Tuan, Karya Besar Tuan Syekh Muhammad Arsyad

Menurut Humaidy, jejak bangunan yang pernah disinggahi Datu Kalampayan adalah Masjid Jami Luar Batang dengan makam Habib Husien bin Abu Bakar Alaydrus di Pasar Ikan, Jakarta Utara, Masjid Pakojan (Masjid Jami Al Mukarromah).

“Diperkirakan waktu pulangnya Datu Kalampayan dari Haramain itu terjadi pada 1770. Saat itu, beliau singgah sebentar di kediaman teman seperguruannya yakni Syekh Abdurrahman Misri Al Batawi yang merupakan kakek dari Mufti Betawi, Habib Utsman bin Yahya,” ucap Humaidy kepada jejakrekam.com, Sabtu (23/3/2019).

Saat tiba di Batavia, Humaidy menceritakan ulama besar Tanah Banjar ini sambut suka cita oleh para alim ulama dan masyarakat Betawi, sambutan pun hangat pun dilakoni ulama besar Betawi Syekh Abdul Qohar.

Menurut Humaidy, ketika itu terjadi pergeseran arah kiblat akibat pergerakan kerak bumi dan aktivitas teknonik, hingga Datu Kalampayan yang menguasai ilmu falak (ilmu astronomi dalam Islam), membetulkan arah kiblat masjid.

“Jika mengutip pendapat Yusuf Halidi, sedikitnya ada tiga masjid yang dibetulkan arah kiblatnya oleh Datu Kalampayan, yakni Masjid Jami Kampung Sawah yang kemudian hari dinamai Masjid Jami Al-Mansyur di Kampung Sawah Lio, Masjid Luar Batang di Pasar Ikan dan Masjid Pekojan, Jakarta,” beber dosen Fakultas Tarbiyah UIN Antasari Banjarmasin.

BACA LAGI : Berawal dari Dalam Pagar, Lahir Pondok Pesantren di Tanah Banjar

Ketika itu, beber Humaidy, saat membetulkan arah kiblat, Datu Kalampayan cukup dengan menunjukkan arah ke Masjidil Haram di Makkah, dengan terlihat Ka’bah dari celah tangan baju jubahnya.

“Masyarakat Betawi pun percaya dengan apa yang ditunjukkan Datu Kalampayan. Karomah Syekh Muhammad Arsyad ini rupanya didengar Gubernur Jenderal Hindia Belanda, Petrus Albertus van Der (1761-1775), karena ketika itu kejadian itu menjadi buah bibir di Batavia,” tutur Humaidy.

Sang Gubernur Jenderal Hindia Belanda pun mengundang Datu Kalampayan bersama para ulama di Batavia, termasuk para pemuka agama lain, terutama para pendeta. Saat itu, Petrus Albertus van Der pun bertanya kepada Datu Kalampayan.

“Benarkah Tuan Syekh, bahwa arah kiblat dari Masjid Luar Batang itu salah?” tanya Gubernur Jenderal Belanda itu. Dijawab dengan tenang oleh Datu Kalampayan. “Ya, memang salah,”. Lantas disahut lagi, “Jadi, bagaimana yang betul,” desak Petrus.

BACA LAGI : Ustadz Abdul Somad: “Ulama Kalsel Itu Turun Temurun”

Menurut Humaidy, Datu Kalampan tidak hanya menunjukkan karomahnya, tetapi juga kepada Gubernur Jenderal Hindia Belanda. Saat itu, Syekh Muhammad Arsyad Al-Banjary justru mengeluarkan sebuah peta buatan sendiri, dengan jelas menunjukkan arah kiblat menurut ilmu falak atau astronomi yang dikuasainya. Sebuah telaahan ilmiah yang membuat decak kagum petinggi Belanda dan pemuka agama lainnya.

Rupanya, Gubernur Jenderal Hindia Belanda ini masih menguji. Dia langsung bertanya ke hadirin yang hadir. Sahutan serentak pun membenarkan apa yang ditunjukkan Syekh Muhammad Arsyad Al-Banjary.

“Ini adalah argumen berdasar keilmuan Datu Kalampayan yang diakui petinggi Belanda ketika itu. Sampai saat ini, tiga masjid yang dibetulkan arah kiblatnya oleh Datu Kalampayan itu masih berdiri di Jakarta,” papar Humaidy.(jejakrekam)

 

Penulis Didi GS
Editor Didi G Sanusi
Anda mungkin juga berminat
Loading...
Kata mereka tentang jejakrekam.comhttps://www.youtube.com/watch?v=JMpxvqUGSc4&t=28s