Dirgahayu

Melacak Jejak Diaspora India di Kota Seribu Sungai

Foto : Museum Troppen/File

MUNCULNYA hipotesis Kampung India ada di Kota Banjarmasin, mungkin bagi sebagian kalangan terlalu sulit dipercaya. Masalahnya, tidak ada lagi peninggalan berupa kampung atau komunitas India yang berdomisili secara komunal di Kota Seribu Sungai. Wajar jika banyak kalangan yang mempertanyakan,apakah kampung India atau Keling ini benar benar ada atau hanya cocoklogi yang berujung pada pembenaran fakta yang kabur dan bias.

DALAM kajian sejarah, ternyata Kampung India atau Kampung Keling pernah ada di Kota Banjarmasin. Sayangnya, hingga kini Kampung India atau lebih dikenal dengan Kampung Keling atau Kling memang tidak ada lagi. Namanya seakan-akan sudah terhapus dari catatan sejarah perkotaan di Banjarmasin era kolonial, sejak dasawarsa pertama tahun 1900 an.

A. Mani dalam bukunya Indian Communities in Southeast Asia (1993), berpendapat orang-orang India yang berdiaspora ke wilayah Hindia Belanda (sekarang Indonesia), terdiri dari dua kalangan. Berdasarkan profesinya, mereka adalah pekerja dan pedagang.

Embrio dari masuknya pekerja dan pedagang dari India mulai muncul sejak berdirinya kerajaan-kerajaan yang bercorak Hindu di Indonesia mulai dari Kerajaan Kutai hingga Kerajaan Majapahit. Hal ini terbukti dari sumber-sumber sejarah berupa yupa/prasasti yang menggunakan huruf Pallawa dan Bahasa Sansekerta dari India.

BACA :  Kiprah Pedagang Arab dan India Mengawali Denyut Pasar Malabar

Pada masa Hindu, keberadaan dari sisa peninggalan orang Keling muncul dalam catatan J. B. J Van Doren (1860). Bahkan, van Dooren menuliskan sejumlah umat Hindu, yang disebut sebagai orang Kling oleh penduduk asli, sudah ada berdomisili di sekitar wilayah Margasari.

Kolonel Von Henrici, yang mengunjungi Margasari pada pertengahan Abad 19 memberikan hipotesa lokasi lokasi tempat tinggal orang Keling. Henrici memastikan bahwa terdapat kampung yang dihuni orang Keling yang kemudian terjadi perpindahan ke tempat lain yang oleh warga setempat disebut dengan tjandi (Candi). Orang Keling tersebut adalah migran langsung dari pantai Coromandel, India.

Sembilan tahun kemudian, tepatnya tahun 1869 van Kampen menyusun kamus bertitel Aardrijkskundig en statistisch woordenboek van Nederlandsch Indie (Kamus Geografis dan Statistik Hindia Belanda), yang mengidentifikasi adanya daerah bernama Klinga di Borneo bagian selatan. Umumnya, Pemerintah Hindia Belanda menyebut Kampung India dengan Kling/Klinga dan Klingalezen untuk penyebutan orang Keling (Kling/Klinga) atau orang India.

Keberadaan orang orang India/Keling di Borneo bagian selatan ini diperkirakan pada masa Kerajaan Negara Dipa dan Kerajaan Negara Daha. Seperti JJ Ras (1968) dalam Dana Listiana (2011) menyebutkan bahwaperdagangan telah membuat Nagara Dipa menjadi lebih makmur dan berkembang.

Hal itu ditunjukkan dengan kedatangan para pedagang yang membawa komoditas dagangan seperti Cina, Melayu, Johor, Aceh, Malaka, Minangkabau, Patani, Makassar, Bugis, Sumbawa, Bali, Jawa, orang-orang dari Banten, Palembang, Jambi, dan Tuban, Madura, Belanda, Makau, dan Keling.

BACA JUGA :  Pasar Malabar Makin Menepi, Pengrajin Batu Permata Tinggal Hitungan Jari

Beberapa pedagang asing tersebut bahkan menetap dan tentunya akan membuka kontak-kontak sosial-budaya di antara mereka. Dalam perkembangannya, setelah memasuki masa Islam, catatan tentang keberadaan orang India di Banjarmasin dapat ditelusuri kembali dalam data Hindia Belanda tentang perdagangan di Banjarmasin. Tercatat pada 4 September 1635, Belanda berhasil mengadakan hubungan dengan Kesultanan Banjar di tengah meningkatnya perdagangan lada.

Hubungan ini terbuka berkat peran dari Syahbandar Kesultanan banjar, Retnadij Ratja (Ratna Diraja) alias Godja Babouw asal Gujarat, India tahun 1625. Terdapat dugaan dari Dana Listiana (2011) bahwa pengangkatan orang Gujarat bukannya tanpa sebab melainkan karena pihak Kesultanan menganggap bahwa orang Gujarat berpengalaman dalam hubungan dagang internasional.

Lengkapnya, kontrak Kesultanan Banjar dengan pemerintah Hindia Belanda bermula dari kedatangan sahbandar Kesultanan, Retnadij Ratja alias Godja Babouw ke Batavia.

Ia sengaja dikirim sebagai utusan Sultan Banjar guna menghadap Gubernur Jenderal. Hasilnya, kedua belah pihak menyepakati bahwa pada musim lada pertama di bulan September-Oktober 1625, Sultan akan menjual lada sebanyak 600 pikul kepada Belanda seharga 3000 real karena sebelumnya telah ditentukan bahwa sepikul lada dihargai lima real atau setara dengan 35 gantang Martapura.

Pada periode berikutnya, A.Mani juga berpendapat bahwa orang-orang Asia Selatan, khususnya Tamil, telah bermigrasi ke Indonesia sekurangnya sejak pendudukan Belanda atas Indonesia.

Dalam risetnya, A. Mani juga menyimpulkan orang-orang keturunan mereka inilah yang kini banyak terdapat di Indonesia. Orang India berjumlah terkecil dalam periode 1920-1930. Mereka hanya bertambah 11.000 orang. Pertumbuhan ini merupakan yang terkecil ketimbang penduduk non pribumi lainnya.

Keberadaan Kampung Keling yang penduduknya mayoritas dari India di Banjarmasin, terekam dalam sumber Dana Listiana (2011) berdasarkan data Algemeen Verslag (Laporan Umum), tahun 1850. Berdasarkan Laporan Umum Pejabat Pemerintah Hindia Belanda tersebut, diketahui bahwa pada 1850 terdapat 13 kampung di Kota Banjarmasin.

Yakni, Kampung Cina yang terdiri atas Kampung Ulu dan Kampung Ilir, Kampung Telawang (Talawang), Kampung Jawa, Kampung Sungai Baru, Kampung Antasan Besar, Kampung Panghulu, Kampung Bugis, Kampung Antasan Kecil, Kampung Kuin, Kampung Kalayan Besar, Kampung Arab, dan Kampung Keling.

Sayangnya, catatan mengenai keberadaan Kampung Keling ini hanya ada di era tahun 1850-an. Setelahnya, sangat minim sekali catatan tentang keberadaan kampung ini.Pada laporan tersebut dikemukakan bahwa penduduknya berjumlah 125 orang.

Terdapat data tambahan dalam tulisan A. Mani (1993), pada tahun 1977 orang India di Kalimantan Selatan berjumlah seratus orang. Rinciannya 56 orang laki laki dan 44 orang perempuan. Jumlah tersebut mempresentasikan jumlah orang India yang mengaku berkewarganegaraan India, bukan Indonesia.

BACA LAGI :  Jadi Bandar, Umur Pasar Terapung Muara Kuin Setua Kesultanan Banjar

Dengan demikian sangat dimungkinkan bahwa jumlah etnis India (dan keturunannya) di Kalimantan Selatan, lebih banyak dari data yang ada. Juga termasuk mereka yang sudah berpindah menjadi warga negara Indonesia di status kependudukan.

Perkembangannnya hingga era tahun 2000-an keberadaan orang India maupun keturunannya di Banjarmasin memang sangat jarang didapati. Walaupun ada, hanya warga keturunan India yang umumnya mengelola pengobatan alternatif untuk penyakit mata hingga penyakit keluhan pria. Walaupun demikian, keberadaan kampung Keling paling tidak memberi warna dan dinamika Kota Banjarmasin sebagai kota berkembang di daratan Borneo.(jejakrekam)

Penulis adalah Penasihat Komunitas Historia Indonesia Chapter Kalsel

Ketua Lembaga Kajian Sejarah, Sosial dan Budaya (SKS2B) Kalimantan

Dosen Prodi Pendidikan Sejarah FKIP ULM Banjarmasin