Kota Para Pengembara, Rantau Layak Berjuluk Kota Sangga Auliya

RANTAU dalam kamus besar Indonesia berarti mengembara, berkelana dan hijrah. Yakni, melakukan perjalanan berpindah dari kampung halaman ke kampung orang lain atau dari satu negeri menuju ke negeri lain dan bermukim di sana.

MUNGKIN dulu Rantau, ibukota Kabupaten Tapin, Provinsi Kalimantan Selatan dulunya merupakan tujuan merantau bagi banyak orang baik dari kampung ke kampung. Bisa juga dari daerah ke daerah maupun dari negeri ke negeri.

Peneliti sejarah Islam dari UIN Antasari Banjarmasin, Humaidy mengakui di Rantau atau Kabupaten Tapin memang terbanyak memiliki riwayat pada datu yang berkubah atau memiliki keramat dibandingkan daerah lain di Kalsel.

“Ya, karena memang Rantau dulu merupakan wilayah yang dimukim para perantau atau pengembara dari berbagai negeri dan beragam kampung,” kata Humaidy kepada jejakrekam.com, Minggu (17/3/2019).

BACA :  Datu Kandang Haji, Pengasas Pendidikan Islam Tertua Tanah Banjar

Magister sejarah pendidikan Islam dari UIN Kalijaga, Yogyakarta ini mencontohkan seperti Datu Suban dari Hadramaut, Yaman. Kemudian, Datu Nuraya diinformasikan berasal dari Suriah atau Syiria. Sedangkan, Datu Sanggul berasal dari Palembang, Sumatera Selatan, dan Datu Gadung dari Martapura, Kabupaten Banjar.

“Sedangkan, nama Tapin sendiri diambil dari nama Datu Tapin, salah satu di antara Datu Banua Lima yang merupakan seorang Panglima Kerajaan Tanjungpuri di zaman tempo dulu,” tuturnya.

Sejarahnya, menurut Humaidy, awalnya Rantau merupakan sebuah kewedanaan dengan tiga kecamatan dan awalnya masuk wilayah Kabupaten Hulu Sungai Selatan (HSS). Berkat resolusi yang dikeluarkan Musyawarah Rakyat Rantau tahun 1958, berhasil menjadi daerah otonom tujuh tahun kemudian, tepatnya pada 30 November 1965.

“Dari sini, Kabupaten Tapin dengan ibukotanya Rantau. Inilah kekhasan Tapin atau Rantau karena memiliki makam para datu yang begitu banyak melebihi daerah lain di Kalsel,” tuturnya.

BACA JUGA : Lepas dari Bias, Hidupkan Jalan Kontroversial Datu Abulung di Atas Pentas

Tak hanya para datu yang telah masyhur di kalangan warga Kalsel, Humaidy juga menyebut adanya Datu Karipis, Datu Mayang Sari, Datu Diang Bulan, Datu Labaiduliman, Datu Amun, Datu Tamingkarsa, Datu Kabuldatu, Datu Niang Thalib, Datu Ghanun, Datu Tambal, Datu Muning, Datu Aling, Datu Bangkala dan Datu Qabul.

“Datu-datu ini bukan orang biasa, tetapi sosok ulama besar bahkan beberapa dari mereka ada yang sudah masuk maqam wali,” paparnya.

Cendikiawan Nahdlatul Ulama (NU) Kalsel ini mengutip kata wali dalam Manaqib Syekh Muhammad Samman al-Madani, adalah orang yang tidak mati, melainkan hanya pindah tempat belaka dari alam dunia ke alam yang lebih tersembunyi.

“Sungguh beruntung Rantau dan masyarakatnya dianugerahi Allah memiliki banyak wali. Hal ini merupakan aset luar biasa bagi Rantau dan masyarakatnya, bukan sekadar bisa menjadi obyek wisata religius,” ucap Humaidy.

BACA LAGI :  Wahdatul Wujud, Ajaran Nur Muhammad dan Sufisme Banjar

Dosen Fakultas Tarbiyah UIN Antasari ini berharap jika dikelola dengan baik, tetapi juga bisa menjadi identitas yang melekat pada jati diri Kota Rantau, yang kini diarahkan menjadi Kota Serambi Madinah, mendampingi Martapura yang berjuluk Kota Serambi Makkah di Kalimantan Selatan.

“Yang pasti, pantas kiranya Rantau disebut sebagai Kota Sangga Auliya yang ada di Banua,” pungkasnya.(jejakrekam)

Penulis Siti Nurdianti
Editor Didi GS
Anda mungkin juga berminat
Loading...
Kata mereka tentang jejakrekam.comhttps://www.youtube.com/watch?v=JMpxvqUGSc4&t=28s