Tangis Cahaya Pecah, Penghuni Kolong Jembatan Antasari Tak Menyangka Digusur

TANGISAN Cahaya pun pecah. Gadis mungil ini menangis ketika gubuk yang ditempati bersama orangtuanya dirobohkan puluhan petugas Satpol PP Banjarmasin, Kamis (14/3/2019) siang.

CAHAYA tak menyangka jika tempat tinggalnya di samping Jembatan Antasari ini digusur petugas. Dia pun menangis keras, histeris hingga beberapa petugas Satpol PP Banjarmasin pun berusaha menenangkannya. Raut wajahnya tampak ketakutan.

“Kenapa dirusak rumah saya. Kenapa dirusak rumah saya?” teriak Cahaya, kepada petugas Satpol PP Banjarmasin yang mengerubungi dirinya bersama penghuni lainnya.

Ketika ditanya awak media yang mengikuti operasi penertiban hunian para penghuni kolong Jembatan Antasari ini, Cahaya mengaku orangtuanya punya rumah di kawasan Teluk Kelayan, Banjarmasin Selatan.

Lain lagi dengah seorang perempuan yang bermukim di bantaran Sungai Martapura, terus berteriak dan memaki petugas Satpol PP Banjarmasin. Penyebabnya, uang yang tersimpan di gubuknya raib entah kemana.“Kalian yang untung, sedangkan kami jadi bala,” ucapnya, sembari berteriak dan menangis.

BACA :  Sempat Berontak, Hunian Kolong Jembatan Antasari Digusur Satpol PP Banjarmasin

Dalam penertiban gubuk yang dihuni sedikitnya delapan kepala keluarga (KK), yang awalnya berada di kolong Jembatan Antasari, usai digusur dan mendiri pemukiman dari terpal, Satpol PP Banjarmasin tetap berusaha dengan dialog, sebelum langkah tegas diambil.

Ada penghuni yang rela ikut ke Rumah Singgah Baiman dan dibina Dinas Sosial Banjarmasin. Sebagian lagi, memilih memberontak dan enggan pindah ke lokasi yang dinilai jauh dari tempat mereka mencari rezeki. Kebingungan pun sangat terasa. Ketika Satpol PP Banjarmasin membongkar tenda, serta barang-barang milik para penghuni kolong jembatan ini.

“Seharusnya, Satpol PP ini kasih tahu kami kalau ingin membongkar. Kenapa langsung membongkar?” protes Noorjanah. Dia memprotes karena semua bajunya dibawa petugas ke Rumah Singgah Baiman, Jalan Gubernur Soebarjo, Lingkar Selatan.

BACA JUGA :  Usai Dipagar, Bangun Gubuk, Dua Penghuni Kolong Jembatan Jatuh Sakit

Berbeda dengan rekannya yang memilih melawan, Noorjanah justru ketiban rezeki. Dirinya mengaku dapat uang Rp 350 ribu dari Dinas Sosial Provinsi Kalsel untuk menyewa rumah, termasuk masuk sekolah buta huruf serta modal usaha. “Nanti, uang ini untuk bikin warung. Ya, jualan kopi atau teh,” ucap Noorjanah.

Sebagai buruh angkut kelapa di dermaga kecil dekat gubuknya, Noorjanah pun mengaku sempat dilarang Dinas Sosial Kalsel, karena akan segera dibantu untuk pindah ke tempat yang lebih layak dibanding tinggal di kolong jembatan.(jejakrekam)

 

Penulis Arpawi
Editor Didi GS