Pembuatan Batu Bata Sungai Tabuk Berpotensi Jadi Industri Massal

KERAJINAN pembuatan batu bata di Desa Gudang Tengah, Kecamatan Sungai Tabuk, Kabupaten Banjar terus bertahan, tak tergerus zaman. Teknologi sederhana untuk pembuatan material bangunan itu telah dipertahankan dari generasi ke generasi, sehingga batu bata produksi Sungai Tabuk sampai sekarang dikenal bermutu.

PARA mahasiswa dan didampingi dosen Fakultas Teknik Uniska Muhammad Arsyad Al-Banjary (MAB) pun melakukan penelitian sekaligus penyuluhan teknologi tepat guna untuk pembuatan batu bata berkualitas.

Salah satu pembimbing yang juga dosen Fakultas Teknik Uniska MAB, Adhi Surya Said mengungkapkan dalam kegiatan penyuluhan sekaligus riset teknologi pembuatan batu bata di Sungai Tabuk, Kabupaten Banjar bisa mengenalkan kepada para mahasiswa sebuah industri berskala kecil yang mampu bertahan lama.

“Batu bata Sungai Tabuk ini sudah terkenal sejak zaman Kerajaan Banjar, zaman kolonial Belanda hingga sekarang tetap terpelihara dengan baik,” ucap Adhi Surya Said kepada jejakrekam.com, Selasa (12/3/2019).

BACA :  Daerah Unggulan Segera Diinventarisir

Kegiatan yang berlangsung pada November 2018 lalu, diungkapkan Adhi Surya Said adalah beberapa kesimpulan didapat yakni para pekerja batu bata Sungai tabuk dari tahapan pembuatan atau produksi hingga terputus pada menjual di tempat atau mengirim pesanan.

“Kami melihat masih kurang manajemen dan pengorganisasian, sehingga produksinya masih kurang. Ini ditambah lagi, pendapatan yang diperoleh para pekerja dan pemilik belum maksimal,” tutur Adhi Surya Said.

Magistek teknik jebolan Institut Teknologi Bandung (ITB) ini mengatakan pembuatan batu bata pun tidak memerlukan skill yang kompleks, tapi cukup bermodal tenaga kuat.

“Pembuatan cara tradisional dari dulu sampai sekarang tetap dipertahankan para pemilik pabrik pembuatan batu bata. Betul-betul tradisional tanpa mesin cetak atau mekanisasi,” tutur Adhi.

Hal ini terlihat dari pengumpulan bahan baku dari tanah liat bercampur pasir, dicetak kemudian dibakar dalam tungku tradisional. Padahal, menurut Adhi, jika dikelola manajemen yang baik justru industri berskala kecil ini bisa terangkat lebih modern lagi.

BACA JUGA :  Desa Pejambuan Sungai Tabuk Dikembangkan Jadi Sentral Bawang Merah

Menurut Adhi, penyuluhan sekaligus riset ini melibatkan para mahasiswa teknik sipil Uniska MAB, sehingga bisa membuka wawasan dan praktik pembuatan batu bata secara manual atau tradisional.

“Sekarang, industri batu bata ringan turut memengaruhi pembuatan batu bata berbahan tanah liat dari Sungai Tabuk. Dengan begitu, mahasiswa yang terlibat bisa terlebih aktif dalam mengembangkan usaha itu. Setidaknya, bisa dipupuk jiwa enterpreneurship atau berwirausaha,” tuturnya.

Dialog yang berlangsung dengan para pemilik dan pekerja batu bata di Sungai Tabuk cukup antusias. Menurut Adhi, sudah saatnya potensi ekonomi industri batu bata di Kalsel diangkat ke permukaan lagi, agar mampu bersaing dengan industri bata ringan yang sudah bisa menembus pasar modern.

BACA LAGI :  Ajarkan Mahasiwa Tentang Bisnis, Uniska Buka Kedai Kopi Robanio  

Adhi juga menjelaskan dari berbagai cara pengolahan batu bata Sungai Tabuk juga diamati dalam uji laboratorium, analisa saringan yang menunjukkan kadar kandungan material pada setiap tempat pengambilan bahan baku cukup berbeda.

“Untuk industri massal melalui sistem mekanisasi bisa dikembangkan di kawasan Sungai Tabuk, apalagi bahan baku cukup tersedia banyak. Ini merupakan potensi bagi Kabupaten Banjar, khususnya Kalsel untuk mengangkat derajat batu bata Sungai Tabuk,” tandasnya.(jejakrekam)

 

Penulis Siti Nurdianti
Editor Didi GS
Anda mungkin juga berminat
Loading...
Kata mereka tentang jejakrekam.comhttps://www.youtube.com/watch?v=JMpxvqUGSc4&t=28s