Tujuh Rusa Totol Sumbangan Istana Bogor bagi Kalsel

ISTANA Bogor membagikan rusa totolnya ke daerah lain karena kelebihan kapasitas. Dinas Kehutanan Kalsel, dijatah tujuh rusa totol oleh Istana Bogor.  “Tadinya cuma lima ekor. Tapi setelah dilobi lagi, disetujui tujuh ekor,” kata Kepala Dishut Kalsel Hanif Faisol Nurofiq pada penyerahan rusa totol di Pulau Rusa, Waduk Riam Kanan, Kecamatan Aranio, Kabupaten Banjar.

TUJUH rusa itu, bebernya, dua ekor berkelamin jantan, sisanya betina. “Karena tidak bisa lewat udara, pemindahan rusa dari Istana Bogor menggunakan kapal laut. Dari Bogor dibawa ke Surabaya, lalu ke Kalsel,” ucapnya.

Diungkapkan Hanif, saat ini rusa-rusa sedang dikandangkan untuk membiasakan hidup di lingkungan baru. Dua minggu ke depan, rusa akan dilepasliarkan di Pulau Rusa. Untuk makan rusa, Dishut Kalsel secara khusus mendatangkan ubi.

“Keberadaan rusa totol ini diharapkan menambah khasanah kepariwisataan kita, dan diharapkan berkembang cepat, sehingga menambah pesona kawasan Tahura Sultan Adam,” ucapnya.

BACA : Kini, Koleksi Fauna Tahura Sultan Adam Terus Bertambah

Sekdaprov Kalsel Abdul Haris Makkie menambahkan, selama ini belum pernah ada rusa yang didatangkan dari Istana Bogor ke Kalsel. Dengan mengadopsi rusa totol menjadi kesempatan berharga bagi Kalsel untuk memperkuat kepariwisataan.

Ia menyebut, ke depan sumber daya alam mineral yang tak terbarukan akan habis,  karena itu Kalsel sudah sepatutnya mencari sumber penerimaan lainnya.
“Salah satunya seperti apa yang dilakukan dishut saat ini, menanamkan, menancapkan, dan membangun konsep objek wisata yang bisa dikembangkan ke depan. Jangan lagu berpikir tentang sektoral saja,  tapi harus mencoba berpikir bagaimana semua dinas bisa mengalobarasikan dengan sektor pariwisata,” ujar Haris.

Haris menegaskan, apa yang dirintis saat ini bukan untuk kepentingan sesaat,  kepentingan politik atau kepentingan pemerintah semata, tapi untuk kelestarian alam dan kepentingan masyarakat.
“Harus kita buktikan apa dilakukan memberi manfaat untuk masyarakat, terurama masyarakat sekitar, ” katanya.(jejakrekam)

Penulis Sayyidil Ahmada
Editor Andi Oktaviani