Memori dari Benang Lawai dan Kain Pipintan

Oleh : Mansyur ‘Sammy’

Foto : Dok Mansyur

DEMI menjaga eksistensi kain tradisional Banjar, kain sasirangan, Pemerintah Kota (Pemkot) Banjarmasin menggelar Banjarmasin Sasirangan Festival (BSF) 2019. Event tahunan ini dipusatkan di Siring Menara Pandang, Banjarmasin, 6-10 Maret 2019. Perhelatan ketiga ini pun bertema Sasirangan to The World menjadi kalender even nasional guna mentahbiskan kain asal Banjarmasin makin mendunia.

LALU sejak Urang Banjar mengenal kain? Sebenarnya masyarakat Banjar ketika itu dikenal dengan sebutan Orang Negara Dipa, pekerjaan menenun atau memintal kain sudah ada sejak zaman Kerajaan Negara Dipa di Amuntai sekitar abad ke-16 Masehi.

Hal ini tertulis dalam naskah Tutur Candi. Mengutip pendapat Saperi Kadir, dari naskah tersebut dijelaskan bahwa pekerjaan menenun dilakukan masyarakat Banjar memenuhi keperluan sehari-hari sebagai bahan pakaian.

Dalam perkembangannya, keberadaan kain makin eksis karena didukung adanya perkebunan kapas. Seperti dalam laporan Pemerintah Hindia Belanda tahun 1862, dituliskan bahwa pada kurun waktu tersebut di wilayah Onderafdeeling Amoentai, beberapa jenis kapas dibudidayakan. Memang output atau hasil tidak ditargetkan. Tidak dalam skala yang sangat besar, akan tetapi bisa memenuhi keperluan kain di Borneo.

BACA :  Langgundi, Tenun Sarigading di Bawah Bayang Sasirangan

Hal ini dibenarkan Lesley Potter, yang menulis berdasarkan sebuah laporan sejak awal tahun 1840-an menyebutkan di wilayah Banua Lima, dari penduduk 10 ribu orang jumlahnya memiliki kerajinan lain mencakup menenun pakaian dari katun yang ditanam secara lokal dan diberi warna dengan nila (di Amuntai), pembuatan tembikar, khususnya periuk air besar, kerajinan emas dan pembuatan tikar.

Sebagai perbandingan, pada katalog hasil pemasaran komoditas lokal dari Amuntai yang dirilis Pemerintah Hindia Belanda, terdapat sebuah sarung belau (blaauwe) yang terbuat dari kapas asli amoenthaij (Amuntai). Bisanya dipakai para istri dari kalangan masyarakat, harganya berkisar 2 gulden (f) sampai 2.20 gulden Belanda di pasaran.

Berikutnya, pesanan sepotong kain dari kapas asli, juga diproduksi di wilayah Amuntai. Busana ini dipakai oleh masyarakat dari kelas yang lebih rendah. Potongan kain ini terjual dengan harga 2 gulden. Kemudian sebuah sarung yang ditenun di Amuntai, benangnya dari Jawa dan sekitarnya, terjual seharga f 5 sampai 5-6 gulden Belanda.

BACA JUGA :  Kain Sasirangan yang Sakral Perlu Menembus Pasar Internasional

Pesanan lainnya pun berupa gingham yang juga diproduksi di wilayah Amoenthaij (Amuntai), dimana benangnya dipasok di tempat lain terjual seharga mulai f 4,50 hingga 5 gulden.

Ada pula, sepotong kain dari kapas yang diproduksi di Amoenthaij (Amuntai), berupa kain merah kotak-kotak terang, bergaris merah terjual sebanyak 115-120 lembar. Untuk itu, Pemerintah Hindia Belanda pun mendukung budidaya kapas pribumi. Terdapat mesin pemintal kapas (kapas molen) untuk memisahkan biji kapas yang juga dibeli K. W. Tiedtke di Afdeeling Amoenthaij pada tahun 1862.

BACA LAGI : Kusdini Nurdiati Nilai Visual dan Kreasi Sasirangan Sudah Bagus

Tenun tradisional di daerah Banjar (Kalimantan Selatan) mencapai puncak perkembangannya pada abad ke-19 Masehi, yaitu ketika daerah ini mengirim dan menjual benang lawai ke daerah Pulau Jawa. Lawai adalah bahan baku untuk menenun kain atau bahan baku tenun.

Hingga pada permulaan abad ke-20, keadaan kain tenun di Kalimantan Selatan khususnya dan Indonesia pada umumnya mengalami kemunduran karena terdesak oleh kain tenun dari Negeri Belanda yang produksinya sudah menggunakan mesin untuk alat menenun. Termasuk, bahan tenunnya, kain-kain berupa tekstil.

Sejak itu, para pengrajin tenun tradisional Banjar di daerah Kalimantan Selatan mulai meninggalkan pekerjaan menenun. Umumnya mereka beralih ke kerajinan tangan lainnya, seperti mengayam purun, rotan dan membuat tanggui dan kajang dari pucuk atau daun nipah. Ada pula mencelup kain dan membatik atau dalam istilah Bahasa Banjar, membuat kain sarigading.

BACA LAGI :  Hidupkan Kain Sarigading, Pelajar di Amuntai Dilatih Sasirangan Pewarna Alam

Pada awal abad ke-20, mengutip pendapat Nurmasnah, urang Banjar di Kalimantan Selatan hanya merupakan konsumen kain-kain tersebut. Untuk jenis tekstil seperti tersebut di atas, penduduk di kawasan Kalimantan Selatan memakai tekstil dari Negeri Belanda dan daerah-daerah di Pulau Jawa.

Kain tapih bahalai atau kain panjang menggunakan buatan pengrajin dari Jawa dan kain tapih atau sarung untuk pria, menggunakan sarung buatan pengrajin dari Samarinda dan Mandar.

Setelah beberapa lama, tenun asli Banjar dari kawasan Kalimantan Selatan tidak diproduksi lagi. Kemudian, ada penduduk asli dalam hal ini urang Banjar yang merindukan pakaian atau kain yang pernah diproduksi atau dipakai oleh nenek moyangnya. Hal ini menimbulkan kepercayaan bersifat magis terhadap kain-kain asli Banjar tersebut bagi yang mempercayainya.

Contohnya adalah kain sarigading. Umumnya, kegiatan menenun kain sarigading sudah diwarisi sejak turun temurun dari generasi ke generasi. Kegiatan tenun menenun kain ini sudah diwarisi sejak zaman Kerajaan Negara Dipa abad 16 Masehi, meski sempat mundur kala Kolonial Belanda memperkenalkan produk kain tekstil.

Kemudian perkembangannya, tahun 1942-1945 pada masa pendudukan Jepang, masyarakat Banjar dilarang menggunakan kain tekstil sehingga mendorong masyarakat menenun kain sendiri secara sembunyi-sembunyi. Apabila tidak membuat kain tenun sendiri, warga kala itu terpaksa menggunakan bahan seadanya menutupi tubuh mereka.

Sejak masa fasisme Jepang, kain tenun tradisional sarigading mulai difungsikan sebagian masyarakat yang mempercayainya untuk keperluan magis yakni untuk pengobatan. Seperti kain tenun tradisional sarigading dari Sungai Tabukan, Alabio mulai diproduksi kembali untuk keperluan tersebut.

BACA LAGI :  Dirikan Banyak Pabrik, Banjarmasin Dibagi Jepang dalam 19 Kampung

Bukan untuk kegunaan praktis seperti pakaian biasa atau pakaian sehari hari, tetapi untuk pengobatan. Karenanya, biasanya yang menenun kain pipintan atau papintan ini merupakan orang-orang tertentu saja. Ini karena orang tersebut harus mempunyai pengetahuan khusus mengenai tatakrama menenunnya sebagai barang yang berfungsi magis ini.

Demikian juga dalam perkembangannya, kain sarigading mulai dikenal hingga Kota Banjarmasin. Kepercayaan urang Banjar di Kota Banjarmasin, tentang kain sarigading adalah untuk difungsikan sebagai sarana pengobatan yang bersifat magis terhadap penyakit-penyakit tertentu.

Hal ini dilakukan dengan membuatkan atau memesan kain yang pernah dipakai oleh nenek moyang dahulu di Desa Sungai Tabukan, Kecamatan Sungai Tabukan, Kabupaten Hulu Sungai Utara.

Contohnya seperti kain sarigading laki, sarigading bini, pungling, wadi waringin, ramak sahang, katutut, karacuk dan sebagainya. Nama kain tenun tersebut diberikan berdasarkan corak hiasan atau ornamennya yang dibuat berdasarkan hasil menenun benang dirian atau lungsi yang berwarna-warni dengan benang pakan yang juga berwarna-warni.

Corak-corak khusus tersebut, namanya diberikan secara khusus untuk keperluan khusus pula yang bersifat magis tadi atau untuk penyakit-penyakit tertentu.

BACA LAGI :  Mengembalikan Pewarna Alami Sasirangan Demi Mempertahankan Tradisi

Kain tenun tersebut sering juga disebut oleh masyarakat dengan istilah kain pipintan atau kain papintan, maksudnya ialah kain yang berdasarkan permintaan secara khusus mengenai coraknya yang sesuai dengan kehendak dukun (orang pintar) yang mengobati penyakit tertentu yang diderita seseorang.

Khusus di daerah Kalimantan Selatan umumnya, wilayah yang penduduknya masih membuat atau menenun kain yang bercorak tradisional tersebut dipergunakan sebagai kain pipintan atau kain papintan dengan motif seperti kain sarigading laki, sarigading bini, pungling, katutut, anakan, wadi waringin, ramak sahang, jarum-jarum, karacuk, amasan, tauman, kaladi air dan sebagainya.

Kain sarigading ini juga dipesan di daerah Sungai Tabukan, Kecamatan Sungai Tabukan, Kabupaten Hulu Sungai Utara. Selain daerah ini tidak ada pengrajin khusus yang menenun kain-kain tersebut.(jejakrekam)

Penulis adalah Penasihat Komunitas Historia Indonesia Chapter Kalsel

Ketua Lembaga Kajian Sejarah, Sosial dan Budaya (SKS2B) Kalimantan

Dosen Prodi Pendidikan Sejarah FKIP ULM Banjarmasin

 

Anda mungkin juga berminat
Loading...
Kata mereka tentang jejakrekam.comhttps://www.youtube.com/watch?v=JMpxvqUGSc4&t=28s