Wajibkan Menulis Sehari Tiga Lembar, Suara Khas Asywadie Syukur Masih Mengakar

Foto : Berbagai Sumber

SUARANYA begitu khas dan masih terekam di memori para pendengar Radio RRI Nusantara III Banjarmasin era 1980 dan 1990-an. Terlebih lagi, saat menjelang bedug Maghrib dan Imsyak, saat Ramadhan nan suci tiba. Ya, ulama yang dikenal ahli fiqih asal UIN (dulu IAIN) Antasari, Prof H Asywadie Syukur, banyak memberi pencerahan bagi umat dalam bidang hukum Islam dan masalah kehidupan sehari-hari.

KETIKA Guru Besar dan Ahli Fiqih Islam ini menghembuskan nafas terakhir pada 27 Maret 2010 silam, dalam usia 71 tahun, usai terbaring beberapa hari di RSUD Ulin Banjarmasin.  Kepergiannya pun ditangisi banyak orang. Namanya begitu melekat di sanubari umat muslim Kalsel, hingga sang fuqaha ini dimakamkan di Alkah Mahabbah Gunung Ronggeng, Martapura.

Lahir  pada 8 Agustus 1939 di Desa Benua Hulu, Kecamatan Lahei, Kabupaten Barito Utara, Provinsi Kalimantan Tengah, Asywadie Syukur justru dikenal sebagai ulama terkemuka di Kalimantan Selatan.

BACA :  Datu Kandang Haji, Pengasas Pendidikan Islam Tertua Tanah Banjar

Kedua orangtua Asywadie merupakan etnis Bakumpai. Sebuah suku subetnis Dayak Ngaju yang dikenal melahirkan banyak ulama berpengaruh di Tanah Banjar. Berlatar belakang keluarga pedagang hasil bumi, seperti damar, rotan, dan karet, putra pasangan H Abdusjukur dan Iyah, awalnya berasal dari Marabahan (ibukota Kabupaten Barito Kuala), hingga hijrah di pelosok daerah aliran Sungai Barito.

Sejarawan Islam asal UIN Antasari Banjarmasin, Humaidy menuturkan dari rekam jejak pendidikan Asywadie Syukur berasal dari pedalaman Barito. Tamat di SDN Benua Hulu pada 1953, melanjutkan pendidikan ke SMI Hidayatullah, Martapura pada 1957. Berkat kecerdasannya, Asywadie Syukur pun mendapat beasiswa ke Universitas Al Azhar, Kairo mendalami ilmu hukum Islam di Fakulta Syariah dan Hukum di salah satu perguruan tinggi Islam tertua di dunia itu.

“Sosok Asywadie Syukur sewaktu jadi mahasiswa dikenal cerdas. Makanya, selain mendalami ilmu hukum Islam, juga kuliah di jurusan ushul fiqih di kampus yang sama di Universitas Al Azhar, Kairo hingga lulus pada 1976,” tutur Humaidy kepada jejakrekam.com, Jumat (8/3/2019).

BACA JUGA :  Wahdatul Wujud, Ajaran Nur Muhammad dan Sufisme Banjar

Menurut peneliti senior Lembaga Kajian Keislaman dan Kemasyarakatan (LK3) Banjarmasin ini, teman seangkatan Asywadie Syukur saat menimba ilmu di Mesir juga menjadi ulama terkemuka di Kalsel, antara lain KH Mukri Gawit, KH Rusdi Taufik, KH Mukri Sa’ad, KH Saleh Abdurrahim dan KH Laily Mansur Lc MA, serta KH Hamdan Khalid.

Humaidy pun menyebut Asywadie Syukur pun satu zaman saat menimba ilmu di Universitas Al Azhar dengan tokoh-tokoh nasional seperti KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur), KH Mustafa Bisri (Gus Mus), dan Prof Dr Qurasih Shihab dan Prof Dr Alwi Shihab.

Dari catatan Humaidy, ada beberapa guru yang melekat dalam kenangan Asywadie Syukur seperti saat di SRN, dikenal guru yang berjasa Frans Nahan dan Pantung. Sedangkan di SMIH Martapura, guru-gurunya adalah KH H Nashrun Taher, dan KH Nawawi Ma’ruf.

“Dari Tuan Guru H Nashrun Taher, Asywadie Syukur belajar qiraat sab’ah sebagai bekal menimba ilmu ke Mesir,” tutur Humaidy.

Sedangkan dari jalur sanad keilmuan fiqih dan ushul fiqih, Humaidy menyebut sangat jelas dan turut menimba akademisnya dalam hukum Islam saat berada di Mesir. Guru-guru Prof Asywadie Syukur seperti  Syekh Madani (ilmu Fiqih), Syekh Jadurab (ilmu Ushul Fiqih), Syekh Abdurrahman Qisyqi (ilmu Qawa’idul Fiqhiyah), Syekh Mahluf (ilmu Filsafat) dan Syekh Abu Zahra (ilmu Fiqih Siyasah).

“Prof Asywadie Syukur pernah mengikuti Graduate Course di IAIN Sunan Kalijaga, Yogyakarta selama tiga bulan sejak 15 Juli sampai 15 Oktober 1971. Dari sini, pendalaman ilmu fiqih juga didapat dari Prof Dr HM Hasbi Ash-Shiddiqi, ilmu tarikh (sejarah Islam) dari Prof Dr Mukhtar Yahya dan hukum pidana dari Prof Dr Mulyono,” ucap Humaidy.

BACA LAGI :  Pengamat: Aksi Kriminalitas Sering Terjadi, Masyarakat Kurang Wadah Konsultasi

Karier akademisi pun berawal saat diangkat menjad dosen di jurusan qadla Fakultas Syariah IAIN Antasari, bersama teman sejawat Yusran Asmuni dan Husnan Budiman. Hingga jenjang akademisi pun terus melejit, sampai akhirnya menjadi Dekan Fakultas Dakwah IAIN Antasari.

Ketika akademisi berlatar belakang PNS bisa merambah ke dunia politik, Asywadie Syukur pernah duduk sebagai anggota DPRD Tingkat I Provinsi Kalsel periode 1982-1987. Hingga aktif di Partai Golkar Kalsel, khususnya sebagai ketua biro kerohanian.

“Makanya, lewat jalur politik ini, Asywadie Syukur sempat menjadi anggota MPR dari unsur utusan daerah Kalsel pada 1997-2002. Nah, ketika terjadi gerakan Reformasi 1998, beliau kembali lagi ke kampus IAIN Antasari,” tutur Humaidy.

Usai menjadi Dekan Fakultas Dakwah untuk tiga periode, akhirnya Prof Asywadie Syukur terpilih menjadi Rektor IAIN Antasari Banjarmasin kelima pada periode 1997-2001.

Meski berkiprah di dunia akademisi dan politik, Asywadie Syukur dengan kedalaman ilmunya dipercaya para ulama dari berbagai organisasi Islam menjadi Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Provinsi Kalsel sejak 1995 hingga 2010, sampai akhir hayatnya.

Beragam organisasi kemasyarakatan juga diikuti seperti Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB), Dewan Masjid Indonesia (DMI), Palang Merah Indonesia (PMI), hingga Ikatan Cendikiawan Muslim Indonesia (ICMI) dan lainnya.

BACA LAGI : Ketika Bertransformasi, Tantangan Berat Menanti UIN Antasari

Dari semua itu, diakui Humaidy, nama Asywadie Syukur juga melambung ketika mengisi radio dakwah Islam berawal di Radio Republik Indonesia (RRI) Nusantara III Banjarmasin, lewat program acara Konsultasi Masalah Hidup dan Kehidupan.

“Jelas, program ini menjadi favorit di masanya sejak disiarakan pada 1984. Ini terbukti, banyak interaksi dari pendengar bukan hanya dari Kalimantan Selatan, tapi juga daerah lain yang menangkap siaran RRI Nusantara III Banjarmasin,” tutur Humaidy.

Saking akrabnya dengan panduan keislaman dari suara khas Aswyadie Syukur, pendengarnya pun tak hanya dari Indonesia juga merambah ke negara tetangga, seperti Brunei Darussalam dan Malaysia, Singapura dan Filipina. “Saat beliau sibuk, rekan sejawat beliau yang menggantikan yakni KH Husin Naparin Lc MA,” ucap Humaidy.

Menurut dosen Fakultas Tarbiyah UIN Antasari ini, saat menjadi pemandu program acara di radio nasional itu, sosok Asywadie Syukur akhirnya dikenal sebagai ulama yang mencerahkan dan memberi bimbingan bagi umat. Utamanya, hukum-hukum fiqih serta perbedaan atau khilafiyah furu’iyyah terutama perbedaan hasil itjima dan ijtihad para ulama.

“Dalam penjelasan beliau, selalu mengutamakan dalil-dalil dalam menyikapi pendapat di kalangan ulama, jadi pendengar bisa memilih pendapat mana yang lebih kuat untuk jadi pegangan dalam hukum fiqih,” tutur Humaidy.

BACA LAGI :  Pemikiran Syekh Muhammad Arsyad Al-Banjari Dikaji Secara Akademik

Karya Asywadie Syukur yang hingga kini jadi pegangan umat Islam adalah terjemahan Kitab Sabilal Muhtadin karya Syekh Muhammad Arsyad Al Banjary. Menurut Humaidy, semua karya tulis guru besar ilmu fiqih ini dihasilkan dari mesin tik kesayangannya.

“Semasa hidupnya, beliau setiap hari mewajibkan diri menulis minimal tiga lembar sehari. Tak mengherankan, jika ada 33 buah yang dihasilkan Prof Asywadie Syukur dalam hidupnya. Buku-buku itu sangat bermanfaat hingga kini,” ucap Humaidy.

Ke-33 buku itu terdiri dari 15 buku mengupas fiqih dan ushul fiqh, tujuh buku dakwah dan praktik dakwah, tiga buku membahas ilmu tasawuf, empat buku filsafat Islam, dua buku tentang agama Islam dan dua buku mengenai perbandingan mazhab.

Ada pun karya yang dikenal publik seperti terjemahan Kitab Sabilal Muhtadin karya Datu Kelampayan pada 1967, Asas-Asas Hukum Islam (1970), Pengantar Ilmu Fiqih dan Ushul Fiqih (1990), Hukum Konstitusi dalam Fiqih Islam (1990), Intisari Hukum Pewarisan dalam Fiqih Islam (1992), Intisari Hukum Wasiat dalam Fiqih Islam (1992).

BACA LAGI :  Ustadz Abdul Somad: “Ulama Kalsel Itu Turun Temurun”

Selanjutnya, Humaidy mencatat buku dalam bidang dakwah seperti Ilmu Dakwah (1970), Strategi dan Teknik Dakwah Islam (1982), Konsultasi Hidup dan Kehidupan (2002). Hingga karya dalam bidang tasawuf, yakni Ilmu Tasawuf (1980), Filsafat Tasawuf dan Aliran-Alirannya (1981).

“Tak hanya mendalami bidang ilmu fiqih dan dakwah, buku berisi filsafat ditulis Prof Asywadie Syukur seperti Filsafat Alqur’an (1969), Filsafat Islam (1969), Al-Milal wan Nihal terjemahan dari bahasa Arab, karya Syahrastani (2005). Termasuk, bidang agama Islam yakni Islamologi (1970), Pengantar Ilmu Agama Islam (1975). Terakhir, perbedaan aliran yakni Perbandingan Madzhab (1980), Ringkasan Ilmu Perbandingan Madzhab (1983),” beber Humaidy.(jejakrekam)

Penulis Didi GS
Editor Didi G Sanusi
Anda mungkin juga berminat
Loading...
Kata mereka tentang jejakrekam.comhttps://www.youtube.com/watch?v=JMpxvqUGSc4&t=28s