Pelatih Timnas Indra Sjafri Minta Kebijakan Naturalisasi Pemain Dihapus

BANYAK bibit pemain timnas Indonesia lahir dari didikan sang coach, Indra Sjafri. Dedikasinya dalam dunia sepakbola nasional tak diragukan lagi. Pelatih kelahiran Lubuk Nyiur, Batang Kapas, Pesisir Selatan, Sumatera Barat ini sering mendapat kepercayaan dari PSSI untuk mengarsiteki tim nasional.

PELATIH yang kini membidani Bali United ini pernah menganani Timnas U-12, U-17 dan U-19, hingga akhirnya membawa timnas U-22 menjuara Piala AFF 2019 di Kamboja.

“Ya, berkat doa seluruh masyarakat Indonesia, saya sudah berhasil membawa timnas U-19 menjuara Piala AFF dua kali. Pertama, pada 2013 di era Evan Dimas Darmono dan kedua tahun ini AFF U-22 di Kamboja,” ucap Indra Sjafri kepada awak media, usai acara penyambutan dan penyerahan bonus bagi dua pemain Barito Putera tergabung dalam tim asuhannya di Mahligai Pancasila, Banjarmasin, Kamis (27/3/2019).

BACA :  Harumkan Indonesia, Dua Pemain Barito Putera Dikasih Bonus Rp 100 Juta

Dia menceritakan untuk melatih timnas U-19, hanya diberi waktu enam minggu, selanjutnya harus menyeleksi dan membentuk skuad selama tiga minggu.

Menurut Indra Sjafri, dengan minimnya waktu persiapan secara akal sehat mungkin tidak akan bisa menjadi juara. Namun, kata dia, dengan motivasi dan menggali kemampuan yang ada serta berserah diri kepada Tuhan, akhirnya membuahkan hasil.

“Latihan bola dan mempelajari teori sepakbola itu gampang. Yang sulit itu adalah membentuk karakter dan mental. Itu yang selalu tanamkan kepada anak didik saya di tim,” ucap eks pemain PSP Padang era 80-an ini.

Indra Sjafri menyebut yang harus dihunjamkan kepada para pemain adalah keiklhasan dan betul-betul berjuang untuk bagnsa dan negara. “Jangan memikirkan materi, dan para pemain harus dekat dengan Tuhan. Sebab, kalau sudah dekat dengan Tuhan, tidak ada yang tidak mungkin,” kata Indra Sjafri penuh nada filosofi.

BACA JUGA :  Perkuat Lini Pertahanan, Barito Putera Rekrut Yoo Jae Hoon

Pria Minang ini pun mengaku miris dengan kebijakan di Indonesia yang lebih memilih merekrut pemain asing yang dinatularisasikan. Padahal, menurut Indra Sjafri, potensi pemain Indonesia sangat besar, karena jumlah penduduknya besar serta beragam etnis dan bangsa di dalamnya.

“Secara psikologis, dampak hadirnya pemain naturalisasi itu sangat berpengaruh terhadap para pemain lokal. Biarlah Filipina dan Timor Leste melakukan itu, karena penduduknya sedikit, beda dengan Indonesia,” cetusnya.

Indra Sjafri berpendapat lebih baik kebijakan naturalisasi pemain asing itu segera dihapuskan, kini Indonesia harus percaya dengan potensi yang ada.

“Masya, dengan jumlah penduduk Indonesia yang ratusan juta ini untuk mencari puluhan orang yang dicetak menjadi pemain andal tak bisa. Sebagai pelatih kita harus ikhlas dan memikirkan macam-macam,” pungkasnya.(jejakrekam)

 

Penulis Asyikin
Editor Didi GS