Kain 500 Meter Dipajang, BSF 2019 Angkat Marwah Sasirangan

ADA yang berbeda dalam even tahunan gelaran Pemkot Banjarmasin dalam mengangkat derajat kain khas Banjar, sasirangan. Untuk tahun ketiga Banjarmasin Sasirangan Festival (BSF) 2019 yang dipusatkan di kawasan Siring Tendean, sudah disiapkan berbagai kejutan.

KEPALA Dinas Koperasi, UMKM dan Tenaga Kota Banjarmasin, Priyo Eko Wusono memastikan dalam ekspo memamerkan berbagai produk kain khas Banjar itu akan disiapkan 500 meter kain yang sudah disiram oleh para pelajar dari 20 SMP di Rumah Sasirangan, Jalan Piere Tendean.

“Nantinya, kain panjang ini dalam gelaran BSF 2019 akan diarak dari jalan dan sungai yang ditempatkan sejumlah klotok,” ucap Priyo Eko Wusono dalam jumpa pers persiapan BSF 2019 kepada awak media di Balai Kota, Selasa (5/3/2019).

BACA :  Dihadiri Desainer Nasional dan Cakra Khan, BSF 2019 Dijamin Lebih Meriah

Untuk memberi kejutan dan memeriahkan BSF kali ini, diakui Priyo, banyak peserta yang ingin berpartisipasi dan berkontribusi dalam ekspo.

Namun, menurut dia, dengan keterbatasan lahan dan tempat, Pemkot Banjarmasin hanya memberikan fasilitas 50 pengrajin untuk binaan Disperindag dan 25 UMKM untuk pengrajin pemula. “Saya kurang mengetahui berapa yang bisa tertampung. Ini mengingat kita bekerjasama dengan EO yang memfasilitasi peserta dari luar daerah dan di dalamnya,” katanya.

BACA JUGA :  BSF 2018 Digelar, Pengrajin Sasirangan Diminta Lebih Kreatif

Menurut Priyo, untuk wakil pengrajian dari kabupaten dan kota yang ada di Kalsel sebanyak 13 peserta. Semua mendaftar ke panitia dan digratiskan, ini ditambah 7 slot diberikan untuk luar Kalsel.

“Saat ini, pengrajin sasirangan di Banjarmasin cukup berkembang. Namun sulit untuk membuat sasirangan yang berkualitas, mengingat di satu sisi harga dari pembeli menginginkan hemat kantong,” bebernya.

BACA LAGI :  Mengembalikan Pewarna Alami Sasirangan Demi Mempertahankan Tradisi

Dengan posisi dilematis itu, Priyo menyebut akhirnya ada anggapan kain sasirangan kurang memberi prospek, padahal di sisi lain pembeli ingin mahal, dari pengrajin atau penjahit jelas ingin untung.

“Sisi dilematis ini jadi kendala. Namun, di daerah tertentu justru kain sasirangan berkembang dan menjadi produk andalan dan mendatangkan nilai ekonomis tinggi,” imbuhnya.(jejakrekam)

Penulis Arpawi
Editor Didi GS