Demi Ulama yang Dicintainya, Riduan Rela Jalan Kaki Ratusan Kilometer dari Palangka Raya

JARAK antara Martapura, ibukota Kabupaten Banjar, Kalimantan Selatan dengan Palangka Raya, Kalimantan Tengah kurang lebih 220,7 kilometer. Jarak tempuh untuk menggunakan mobil sedikitnya membutuhkan waktu perjalanan selama 4 jam 41 menit atau kurang lebih lima jam.

NAMUN itu tak berlaku bagi Riduan Efendy (34 tahun). Demi memenuhi nazarnya bisa hadir dalam haul akbar Syekh Muhammad Zaini Abdul Ghani, atau KH Zaini Abdul Ghani yang terkenal dengan sebutan Guru Sekumpul, pemuda lajar yang tinggal di seputaran Pasar Kahayan Km 1, Kampung Mendawai, Kelurahan Palangka, Palangka Raya, ini rela jalan kaki ratusan kilometer.

Dengan bekal seadanya di dalam tas ransel, Riduan Efendy sudah berjalan sejak Jumat (1/3/2019 lalu, dimulai pukul 05.30 WIB, selepas shalat Subuh dari rumahnya. Untuk menutupi kepala, Riduan pun mengenakan kopiah haji, serta memegang tongkat.

Untuk istirahat dalam perjalanan panjangnya itu, Riduan pun memilih tidur di langgar, mushala atau masjid, agar bisa menunaikan shalat berjamaah. Sepatu sport yang dipakainya terasa panas, karena berjalan terlampau jauh.

BACA :  Dua Hari Haul Guru Sekumpul, Angkutan Barang Dilarang Melintas di Martapura

“Baru, Selasa (5/3/2019) pagi tadi, saya baru tiba di Handil Bakti, karena sejak pukul 09.30 Wita naik Jembatan Barito,” ucap Riduan Efendy, bergegas mengganti baju hem dan celana jins dengan gamis ini bercerita kepada jejakrekam.com, Selasa (5/3/2019, saat ditemui tengah shalat dan rehat sejenak di Masjid Jamhur, Handil Bakti.

Ia mengakui dalam perjalanan dua provinsi ini, setidaknya ada dua kabupaten di Kalteng dilewati, yakni Pulang Pisau dan Kapuas. Selanjutnya tiba di perbatasan Kalteng dan Kalsel di Anjir Muara, Kabupaten Barito Kuala.

“Sekarang sudah hampir sampai di Banjarmasin, karena sudah berada di perbatasan. Kebetulan saya singgah di masjid ini, karena kaki saya bengkak persis di bagian pergelangan. Tadi, sudah sempat diurut,” kata pemuda lajang ini.

BACA JUGA :  Tak Diperkenankan Galang Dana untuk Haul Guru Sekumpul

Riduan mengaku tak patah arang, walau menempuh beratus-ratus kilometer, diterpa panas dan hujan. Bahkan, saat berada di Kuala Kapuas, ibukota Kabupaten Kapuas, Riduan mengaku sudah mengecek tensi darahnya. Hasilnya, ternyata normal.

“Semoga bisa sampai ke Sekumpul, Martapura dalam keadaan selamat dan sehat, sehingga bisa berkumpul dengan jamaah pencinta Abah Guru Sekumpul,” kata pria kelahiran Pulang Pisau ini.

Bekerja sebagai mekanik di bengkel, Riduan sengaja memilih jalan kaki, tak menggunakan mobil atau motor, lazimnya para jamaah yang datang dari jauh menuju ke Sekumpul, Martapura.

Menurut dia, sudah menjadi nazar dan niat yang bulat untuk menghadiri haul Guru Sekumpul ke-14, puncaknya pada Ahad (10/3/2019) malam atau malam Senin di Mushala Ar Raudah, Sekumpul.  Walaupun, pada Sabtu (9/3/2019) malam, selepas shalat Isya juga digelar haul di kubah Guru Sekumpul, dan berlanjut pada Senin (11/3/2019) malam atau malam Selasa, untuk kalangan terbatas.

Terus berjalan, hingga akhirnya Riduan memilih jalan lama di Jalan Martapura Lama, tepatnya di Desa Pemakuan, Kecamatan Sungai Tabuk, Kabupaten Banjar.

“Saya singgah di Langgar Al-Musyarrofah, untuk shalat maghrib dan Isya. Beristirahat dan mengumpulkan tenaga, besok pagi kembali jalan,” kata Riduan Efendy, yang diikuti awak media hingga Selasa (5/3/2019) malam.

Ia menegaskan dirinya tak ingin merepotkan semua orang, demi perjalananan nazar menuju Kubah Guru Sekumpul, ulama yang dicintainya. Apatah lagi, aksinya pun viral di media sosial, hanya gara-gara jalan kaki dari Palangka Raya ke Martapura. “Sebetulnya tidak ingin viral seperti saat ini, karena apa yang dilakukan murni untuk ibadah,” ujarnya merendah.

BACA LAGI :  Jalan Kaki ke Sekumpul, Presiden Jokowi Salami Jamaah Haul Guru Sekumpul

Satu saja niat Riduan, adalah bisa mendekat dan menyaksikan langsung haul Guru Sekumpul dan langsung berhadapan dengan kubah sang ulama kharismatik Kalsel itu.

“Selama dalam perjalanan ini, saya ucapkan terima kasih kepada seluruh masyarakat, relawan emergency, pihak kepolisian baik di Kalteng dan Kalsel, semua menolong saya,” kata Riduan.

Dia pun tak menyangka begitu besar perhatian masyarakat, hingga ketika kakinya sakit, ada yang rela memijatkan demi melanjutkan perjalanan Riduan dengan niat suci, menjumpai sang ulama yang dicintai walau kini berada di pusaranya.(jejakrekam)

 

Penulis Asyikin/Balsyi
Editor Didi G Sanusi