Kembali ke Sungai (3-Habis)

Oleh : Subhan Syarief

KE DEPAN Pemerintah Kota (Pemkot) Banjarmasin sangat perlu membuat roadmap (peta berjalan) bagaimana mengoptimalkan peran sungai berikut air yang ditampungnya. Hal ini patut dilakukan agar menjadi sebuah sumber daya yang dapat membantu masyarakat kota dalam pemenuhan akan kebutuhan terhadap air.

MASYARAKAT kota sebaiknya disiapkan untuk tidak lagi banyak tergantung dengan air produksi PDAM Bandarmasih. Minimal untuk keperluan cuci dan mandi bisa mengunakan air sungai atau air dari area tampungan di kawasan lingkungan permukiman dan rumahnya.

Riset ataupun inovasi alat pengolahan air limbah atau air lingkungan (air sungai/air area resapan) untuk skala rumah tangga atau maksimal permukiman menjadi skala prioritas yang harus dikembangkan. Ini untuk mengurangi ketergantungan terhadap air olahan PDAM.

Hal ini tentu juga akan lebih efisien dibanding kan semuanya tergantung pada air pabrik air leding milik Pemkot Banjarmasin itu. Makanya,  semua harusnya menjadi kewajiban pemerintah kota dalam melakukan studi, riset dan pengembangan hal tersebut.

BACA :  Kembali ke Sungai (1)

Pengalaman menarik akibat dari insiden macetnya distribusi air PDAM Bandarmasih ini tentu patut dicatat. Hal pentingnya adalah ternyata sungai atau air sungai bisa menjadi pilihan murah bagi warga yang kepepet dalam mengatasi persoalan air.

Jadi, pada dasarnya bila bisa melihat lebih mendalam bahkan tepatnya menarik hikmah di balik kondisi tersebut, maka dasarnya Kota Banjarmasin punya sebuah potensi besar yang harusnya dibangkitkan ke permukaan.

Potensi kepemilikan terhadap air asli kandungan alam yang bila dikelola dengan baik akan membantu banyak untuk pemenuhan kebutuhan air bagi warga kota. Air yang bila dikelola, dijaga kebersihan dan kualitasnya, maka akan membuat pengeluaran masyarakat kota lebih efisien ekonomis.

BACA :  Kembali ke Sungai (2)

Sisi lain, terkait hal wadah air alamiah seperti sungai, embung dan area resapan air di Kota Banjarmasin tidak terlalu mendapat perhatian penting untuk dipertahankan eksistensinya. Hanya sungai yang banyak terkait dengan perwajahan kota yang sibuk dibenahi, dipoles dan dipercantik.

Parahnya, wadah air seperti sungai ini hanya dipercantik dan dikelola dengan didukung dana luar biasa hanyalah dari sisi aspek fisik saja. Itu pun hanya menyentuh area bantaran sungai dan infrastrukstur penunjang wisata sungai.

Bukan dari sisi eksistensi utama sungai sebagai wadah penampung air dan juga air yang ditampungnya. Tentu ini sebuah langkah yang jauh dari harapan produktif. Bahkan, dasarnya kontraproduktif dan mubazir.

Air adalah aspek yang paling penting dari sungai ataupun wadah penampung alam lainnya. Mereka adalah rumahnya dan air adalah penghuninya bersama habitat hewan dan berbagai tanaman.

Jadi mestinya sungai dan air menjadi keunggulan kompetitif Kota Banjarmasim menyongsong era baru. Era di mana ketergantungan terhadap pangan akan semakin menguat. Bahkan dikatakan bangsa atau negara yang menguasai pangan akan menjadi negara kuat. Untuk mencapai hal ketahanan pangan inilah, maka air adalah salah satu yang menjadi unsur utama dalam menunjang keberhasilan swasembada pangan. Ikon kota 1000 sungai yang sudah kadung melekat maknanya adalah kota ini daratannya diliputi oleh air.

BACA LAGI : Kembalikan Jati Diri Kota, Alwi Sahlan Pesan Ibnu Sina Selamatkan Sungai

Air adalah anugrah Tuhan yang tidak bernilai. Tanpa air tidak mungkin ada kehidupan. Dan dari hal ini yang patut direnungkan adalah bahwa konon asal muasal kehidupan atau alam semesta ini berawal dengan diciptakannya air. Sehingga sangat selayaknya keberadaan air berikut kemurnian wajib untuk dijaga. Dan berbagai ahli yang telah melakukan riset ilmiah menyatakan bahwa ke depan air akan menjadi barang mahal dan bahkan bisa saja menjadi langka.

Dus, Kota Banjarmasin perlu memelihara dan mengoptimalkan keberlangsungan air agar bisa menjadi kekekuatan utama dalam menghadapi era ke depan tersebut. Minimal untuk memenuhi kebutuhan masyarakat yang tinggal di kota Banjarmasin.

Dalam hal ini kecerdasan dan kejelian para penguasa Kota Banjarmasin dalam melihat masa depan sangat diperlukan, sehingga tata kelola air diajadikan bagian penting dalam penyusunan roadmap kota ini ke depan. Jadi, pada hakikatnya, sudah saat tepat bagi kota ini untuk kembali habibatnya, kembali ke sungai.(jejakrekam)

Penulis adalah Ketua LKPJ Provinsi Kalsel

Arsitek Ikatan Arsitek Indonesia (IAI) Kalsel

Anda mungkin juga berminat
Loading...
Kata mereka tentang jejakrekam.comhttps://www.youtube.com/watch?v=JMpxvqUGSc4&t=28s