Gang 315 dan Gang Tentram Dibidik Jadi Kampung Inklusi Edukasi Internasional

PEMKOT Banjarmasin tengah giat menciptakan contoh kampung inklusi. Dua contoh kampung yang menerapkan kesetaraan hak dan kewajiban, utamanya ramah kepada para penyandang disabilitas itu terletak di Gang 315 Kelurahan Kuin Selatan dan Gang Tentram RT 10, Kelurahan Kelayan Barat. Dua kampung ini ditarget jadi destinasi wisata edukasi internasional.

HAL ini diungkapkan Kepala Sub Bidang Sosial Budaya Bidang Politik Pemerintahan Barenglitbangda Kota Banjarmasin Ibnu Sabil kepada jejakrekam.com, saat workshop inisiasi kampung inklusi Kelurahan Kelayan Barat di Aula Kelurahan Kelayan Barat, Jalan KS Tubun, Kamis (21/2/2019).

Ibnu Sabil optismistis Pemkot Banjarmasin bisa menciptakan kampung iklusi yang terintegrasi sebagai destinasi wisata edukasi. “Untuk pengerjanannya, nanti melibatkan Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kota Banjarmasin,” ucapnya.

Menurut dia, dua contoh kampung yang ditata bisa menggambarkan kondisi kampung inklusi yang memiliki nilai jual berupa kehidupan masyarakat yang berjalan harmonis dan ramah bagi semua warga.

BACA :  Penuh tantangan, Pemkot Banjarmasin Siap Bangun Kampung Inklusi

“Salah satu syarat menjadi tempat wisata adalah ada sesuatu yang indah. Indah itu bukan berarti hanya fisik. Tapi indah juga bisa dilihat dari perilaku masyarakat dan sebagainya. Inilah yang akan menjadi selling point atau nilai jual. Sebab ada sesuatu yang berbeda dari kebiasaan.  Kami harap kampung inklusi ini jadi ikon wisata yang bersifat edukatif,” papar Ibnu Sabil.

Menurut dia, pihaknya telah membidik sasaran wisatawan yang diharapkan dapat berkunjung ke dua kampung itu. Pertama dari masyarakat Banjarmasin terlebih dahulu sebagai wisatawan terdekat. Selanjutnya dari masyarakat Kalimantan Selatan.

“Wisatawan domestik yang datang selain untuk melihat kampung-kampung lain seperti Kampung Sasirangan, Kampung Ketupat, Kampung Tanggui,  juga bisa melihat kampung inklusi ini,” ucap Ibnu Sabil.

BACA JUGA :  Ingin Menyeluruh, Pemkot Banjarmasin Bangun Kampung Inklusi

Ia mengungkapkan selain dari kalangan domestik, salah satu ikon wisata edukasi di Banjarmasin ini nantinya akan menarik para turis internasional atau non domestik untuk berkunjung ke lokasi percontohan ini.

Menurut Ibnu Sabil, konsep wisata edukasi berbasis inklusi masih tergolong baru di Banjarmasin, bahkan di Indonesia. Lalu bagaimana strategi Pemkot Banjarmasin untuk mempromosikannya?

Ibnu Sabil membeberkan beberapa rencana promosinya dengan menonjolkan aspek penerimaan soal masyarakat dan lingkungan fisik yang ramah. Masih menurut dia, segmen penerimaan sosial akan dimulai dari sekolah-sekolah, dengan menginternalisasikan nilai-nilai saling menghargai, sehingga siswa bisa memahami dan menerima kelompok disabilitas.

“Ketika ada anak sekolah datang ke lokasi ini, kita bisa mengajarkan kepada mereka untuk partisipasi dan melatih kepekaan mereka. Jadi, tidak lagi ada bullying atau perundungan, mereka belajar untuk menerima keberadaan penyandang disabilitas,” ucapnya.

Kedua, kata Ibnu Sabil, segmen lingkungan fisik berupa sarana dan prasarana yang akses seperti penunjuk jalan bagi penyandang netra, ramp untuk pengguna kursi roda dan sebagainya.

“Di situ nanti juga ada akses-akses informasi. Bisa dibayangkan akan luar biasa karena bisa jadi media informasi bagi para pengunjung sekaligus teredukasi bagaimana sebuah kampung inklusi itu ramah bagi semua orang, khususnya penyandang disabilitas,” ucapnya.

BACA LAGI :  PPUA Penca Kalsel Tagih KPU Sediakan TPS Ramah Disabilitas

Untuk diketahui ada enam poin yang wajib dipenuhi sebuah kampung inklusi yakni lingkungan bangunan yang aksesibel, lingkungan sosial yang positif, keterjangkauan layanan, ketersediaan secara data, kualitas, dan partisipasi penuh makna setiap warga.

Dalam membangun kampung inklusi ini, penyandang disabilitas menjadi sebuah ukuran. Meski begitu bukan berarti kampung ini khusus untuk disabilitas. Namun, jika disabilitas sebagai kelompok paling rentan bisa mengakses suatu bangunan atau wilayah, maka kelompok rentan lain seperti lansia, anak-anak dan ibu hamil juga akan mudah mengaksesnya.(jejakrekam)

Penulis Siti Nurdianti
Editor Didi GS
Subscribe to our newsletter
Sign up here to get the latest news and updates delivered directly to your inbox.
You can unsubscribe at any time