ACT

Muhammad Chalid, Sosok Hebat di Balik Sang Guru Politik NU, KH Idham Chalid

0 1.076

BANYAK yang tak kenal siapa di balik kehebatan sosok KH Idham Chalid, Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) periode 1956-1982. Hingga, KH Idham Chalid digelari sebagai guru politik orang-orang NU di Indonesia seperti ditulis Ahmad Muhajir dalam buku otobiografi sang pahlawan nasional dari Tanah Banjar itu.

SEJARAWAN Islam asal UIN Antasari Banjarmasin, Humaidy menyebut sosok hebat itu adalah Muhammad Chalid, sang ayah KH Idham Chalid. Muhammad Chalid merupakan sosok ulama asal Amuntai yang kemudian hijrah ke Satui, kini masuk Kabupaten Tanah Bumbu.

“Dalam tradisi yang lazim di kalangan NU, Muhammad Chalid itu disebut sebagai Mua’alim atau seorang ulama besar setara dengan julukan syekh, tuan guru, datu, surgi dan alimul allamah,” ucap Humaidy kepada jejakrekam.com, Minggu (24/2/2019).

BACA :  Istiqamah dalam Berjuang, KH Idham Chalid Teladan bagi Politisi Muslim

Mengapa layak disebut Mu’allim Muhammad Chalid? Menurut dosen Fakultas Tarbiyah UIN Antasari ini selama hidupnya, Muhammad Chalid merupakan seorang guru agama, penghulu, khatib, pedagang, tabib, pengamal tarekat, pawang buaya, pintar matematika dan ilmu bumi.

“Banyak orang tak tahu, jika Muhammad Chalid juga seorang pendekar. Kegigihannya dalam menyebarluaskan ajaran Islam, membuat banyak warga Dayak di pedalaman Kalimantan menjadi muslim,” kata Humaidy.

Sebagai jawara kuntaw, seni beli tradisional Banjar, Muhammad Chalid pun pernah berhadapan dengan penjahat. Hanya sekali tangan Chalid berkibas, musuh-musuhnya sudah terpelanting tunggang langgang.

BACA JUGA : Warga Kalsel Membaur dalam Peringatan Haul ke-7 KH Idham Chalid di Cisarua

Laiknya orang-orang Amuntai yang senang merantau, Muhammad Chalid pun pindah ke Satui, sekarang dikenal dengan sebutan Sungai Danau, Kabupaten Tanah Bumbu. Dari kampung di Satui, lahirnya Idham Chalid kecil pada 27 Agustus 1921 di era pemerintahan kolonial Belanda di Tanah Banjar.

Menurut Humaidy, sebagai sosok ulama berpengaruh, Muhammad Chalid memiliki karomah sebagai lazimnya yang diyakini warga Banjar, Kalsel adalah ketika kubur atau makamnya bercahaya terang selama enam bulan, terlebih ketika malam Jumat.

“Peristiwa ini disaksikan banyak orang dan diliput media cetak saat itu. Walau merantau di Satui, almarhum Muhammad Chalid dimakamkan di tanah leluhurnya di Desa Patarikan Amuntai, dekat MI Al-Irsyad Patarikan, satu alkah dengan Mu’allim KH Juhri Sulaiman (pimpinan kedua Pesantren Rakha Amuntai),” tutur Humaidy.

BACA LAGI :  NU yang Pemenang, NU yang Terkekang

Darah pejuang yang mengalir dalam diri Muhammad Chalid hingga KH Idham Chalid, berdasar penelusuran dari Humaidy karena memiliki garis keturunan langsung dari Pangeran Antasari. Darah kepahlawanan sang Panglima Perang Banjar ini bertemu dengan garis keulamaan dari Syekh Muhammad Arsyad Al Banjary (Datu Kalampayan).

“Dari penelusuran silsilah, Muallim Muhammad Chalid juga punya hubungan darah dengan Khatib Dayyan, seorang mubaligh yang diutus Kesultanan Demak untuk mengislamkan Sultan Suriansyah, Raja pertama Kerajaan Banjar,” ungkap Humaidy.

Magister jebolan UIN Sunan Kalijaga, Yogyakarta ini mengatakan jika ditarik ke atas, maka KH Idham Chalid lewat jalur Muallim Muhammad Chalid merupakan keturunan Sunan Gunung Jati atau Syarif Hidayatullah, berdasar catatan sejarah Khatib Dayyan yang merupakan cucu dari Sunan Gunung Jati.

BACA LAGI :  Miskin Figur Asal Kalsel, Kursi Menteri Harus Kembali Diisi Tokoh Banua

“Rupanya, almarhum KH Idham Chalid menyembunyikan garis keturunan itu dengan ketat. Ya, hanya orang tertentu yang tahu. Jejak seorang Muallim Muhammad Chalid hingga melahirkan sosok pahlawan nasional Tanah Banjar, KH Idham Chalid ini patut dicontoh bagi kita semua,” kata Humaidy, yang langsung menelusuri dokumen dan catatan sejarah dari keluarga besar KH Idham Chalid di Cipete, Jakarta Selatan.(jejakrekam)

 

Penulis Didi GS
Editor Didi G Sanusi

Tinggalkan Komentar

Alamat email anda tidak akan disiarkan.