Walau Tak Punya Aksara, Bahasa Banjar Kaya dengan Karya Sastra

INDONESIA kaya akan bahasa daerah, bahasa Banjar salah satunya. Produk dari kebudayaan. Ciri suku bangsa adalah bahasa. Semakin kaya kosa kata bahasa, semakin kuat eksistensi suku bangsa. Setelah bahasa, budaya melahirkan sastra, lalu melahirkan aksara.

SEKALIPUN Banjar tidak memiliki aksara, justru banyak melahirkan sastra. Apakah sastra Banjar itu? Bagaimana melestarikan bahasa dan sastra Banjar? Kenapa penting dilestarikan?

Mengutip pendapat pakar bahasa dan sastra Banjar, almarhum Prof Dr Djantera Kawi justru bahasa Banjar adalah bahasa yang berdiri sendiri, ia justru memengaruhi bahasa Melayu.

Guru besar bahasa dan sastra FKIP Universitas Lambung Mangkurat (ULM) ini yang wafat pada 30 September 2012 ini  juga mengemukakan argumennya bahwa bukan bahasa Melayu memengaruhi bahasa Banjar, malah yang terjadi sebaliknya. Ini karena sejam zaman dahulu kala, orang Banjar madam, atau merantau ke tanah Melayu.  Diaspora ‘Urang’ Banjar ini membawa budaya dan bahasa, sehingga bahasa Banjar, menjadi bahasa Melayu di Tanah Melayu.

Argumen ini dikemukakan  budayawan sekaligus seniman Banjar YS Agus Suseno, mengawali paparannya bertajuk Melestarikan Bahasa dan Sastra Banjar dalam Catatan Palindangan Noorhalis, Kamis (21/2/2019).

BACA :  ‘Menggugat’ Kiprah Pangeran Antasari di Kecamuk Perang Banjar

Menurut YS Agus Suseno, sekalipun tidak sampai melahirkan aksara, tapi bahasa Banjar memiliki keragaman yang cukup kaya. Bukan saja terbagi dalam dua bagian besar seperti Banjar Hulu dan Banjar Kuala, namun dialek atau logat, juga sangat beragam. Ini sesuai dengan daerah tempatannya masing-masing. Termasuk, dalam soal kosa kata.

“Keragaman kosa kata yang sering bersifat tamsil, menunjukkan bahwa bahasa Banjar tidak bermakna tunggal, namun mengikuti awalan, akhiran ataupun konteks kata per kata ketika diucapkan,” papar Agus.

Budayawan yang tampil ‘nyentrik’ ini berujar soal sastra, justru bahasa Banjar sangat kaya dan melahirkan karya sastra. Dia menyebut sejak dulu, ketika aksara yang digunakan masih aksara Arab, maka sastra yang berbahasa Banjar tadi ditulis menggunakan aksara Arab.

“Contohnya, Syair Siti  Zubaidah misalnya, ditulis dengan huruf Arab, menggunakan bahasa Banjar. Karena tidak memiliki aksara, maka sastra Banjar, berbentuk lisan,” cetus Agus.

Ia mencontohkan seperti madihin, balamut, bapandung, paribahasa, bakisah, dan lain sebagainya merupakan produk sastra lisan yang sampai sekarang hidup di tengah masyarakat Banjar.

BACA :  Diantar Adat Minang, Sultan Banjar Beri Sambutan di Penobatan Raja Minangkabau

Menurut Agus, bila melihat dari produk sastra tersebut, maka dari sisi budaya, justru Banjar sangat kaya. Utamanya, menggambarkan kuatnya kebudayaan di tengah masyarakat, dan itulah kemajuan Banjar.

Sebagai bukti, Agus mengatakan bisa dilihat pengaruhnya pada daerah-daerah lain di luar Kalimantan Selatan, bahasa Banjar juga dipakai di Kalimantan Tengah, Timur, Utara dan bahkan di luar Kalimantan, seperti di Jambi, Riau, bahkan beberapat tempat di Malaysia.

“Ini menandakan bahasa Banjar termasuk dalam lingua franca atau bahasa pengantar,  bahasa pergaulan sehari-hari di tempat dimana terdapat penutur bahasa yang berbeda-beda,” ungkap Agus.

Untuk itu, penulis naskah teater ini mengatakan makapelestarian bahasa dan satra Banjar sangat penting, Lantas, Noorhalis Majid selaku pemandu dialog, lalu menanyakan soal bagaimana upaya pelestariannya?.

Kata Agus, pelestariannya merupakan tanggungjawab bersama. Kita sebagai masyarakat harus terus menggunakan bahasa. Karena bahasa adalah alat komunikasi.

“Bila alat tidak digunakan, maka akan tumpul, bahkan hilang. Banyak bahasa yang sudah hilang. Kosa kata Banjar, juga banyak yang hilang,” ucap Agus.

Budayawan Banjar ini juga mengutip pernyataan Prof Dr Abdul Djebar, guru besar dan pakar sastra FKIP ULM bahwa bahasa Banjar Kuala, berpotensi menghilangkan bahasa Banjar. Ini karena setiap waktu dia mengadopsi bahasa lainnya yang sangat banyak, sehingga perlahan-lahan, kata demi kata, tergantikan oleh kosa kata baru yang didapatkan dari adaptasi bahasa lain yang hidup di tengah bahasa Banjar.

“Makanya, Prof Djebar mengajukan pertanyaan, bahasa Banjar kuala itu apakah bahasa Banjar yang didialekkan dengan bahasa Indonesia, ataukan bahasa Indonesia yang didalekkan dalam bahasa Banjar? Kedua hal tersebut sama kuatnya, karena percampuran antara bahasa Banjar dan bahasa Indonesia sudah sedemikian kaya,” papar Agus.

BACA LAGI : Jadi Bandar, Umur Pasar Terapung Muara Kuin Setua Kesultanan Banjar

Ia menegaskan bila merujuk pada istitusi, maka yang pertanggungjawaban tentu saja pemerintah daerah.  Hal ini berkelindan apakah ada program atau upaya melestarikan bahasa dan satra Banjar?

Namun, di mata Agus, selama ini justru tidak melihat adanya upaya yang sistematis, sehingga pelestarian lebih bersifat alami. Dia berharap ada upaya serius, karena bahasa sangat penting menjaga kelestarian budaya.

“Bahasa mengandung banyak hal dari kebudayaan suatu bangsa. Melalui bahasa, identitas suatu masyarakat dikenalkan. Melalui bahasa, ekspansi bidang lainnya bisa dilakukan,” kata Agus lagi.

Beberapa pendengar sangat tertarik dengan tema Palidangan kali ini, telepon pendengar untuk berpartisipasi cukup banyak. Penelepon, Hj Ratih berpendapat, bahwa kita harus bangga dengan bahasa yang kita miliki.

Menurut dia, untuk dapat melestarikan, diawali oleh rasa bangga, sehingga tanpa rasa malu kita terus menggunakannya. Tapi kalau ada rasa malu, maka bahasa itu akan hilang. Kita bangga,  karena bahasa banjar hidup dan berkembang di luar Banjar.

“Orang Tambilahan misalnya, sehari-hari berbahasa Banjar, bahkan sangat Banjar dari sisi pilihan kata dan dialek,” kata Ratih.

Sementara itu, Kai Sifa di Bati-Bati, menanyakan soal tingkatan dalam bahasa Banjar. Kenapa ada kata unda, aku, ulun, atau ikam, nyawa, pian, apakah ini menunjukkan tingkatan dalam bahasa, sebagaimana bahasa lainnya, sering kali bahasa memiliki tingkatan.

Ratu di Kelayan, mengaku suka menggunakan bahasa Banjar. Namun sering kali juga menjadi tertawaan, karena dianggap totok (medok), ada keengganan menggunakannya. Padahal tujuannya untuk mengenalkan dan mempertahankan kemurnian bahasa Banjar.

Abah Inul di Alalak menanyakan, kenapa dialek Banjar orang Kuin dengan orang Alalak berbeda? Orang Sungai Mia dengan Sungai Mesa berbeda, disebabkan oleh apa?

Agus Suseno pun menjelaskan bahwa perbedaan dialek hal yang wajar, karena dipengaruhi oleh tempat, kultur, latar pekerjaan dan sebagainya. Orang pinggir sungai dengan yang tinggal di darat, dialeknya berbeda.

BACA LAGI :  Nikah Sirri atau ‘Kawin Badadiaman’ dalam Kultur Masyarakat Banjar

“Walau berbeda, semua mengerti maknanya. Soal tingkatan bahasa, sebenarnya Banjar itu egaliter. Tidak ada tingkatan. Yang ada hanya plihan kata. Pilihan kata “aku”, atau “ulun”, lebih kepada siapa yang menjadi lawan bicara. Kata ”ulun” digunakan untuk menghormati lawan bicara. Prinsipnya tidak ada kasta dalam bahasa Banjar, dia egaliter,” ucapnya.

Bagi Agus sendiri, soal kesungkanan dalam menggunakan bahasa Banjar, maka harus ditanamkan kepada diri kita, bahwa bahasa Banjar adalah bahasa pergaulan, yang dapat diterima semua orang, karena dia mudah dipelajari.

“Mari kita bangga dengan bahasa Banjar. Dia harus menjadi tuan di tanah Banjar. Dengan demikian, kebudayaan Banjar akan tetap lestari,” ujar Agus menyudahi paparannya.(jejakrekam)

Penulis Didi GS
Editor Didi G Sanusi
Anda mungkin juga berminat
Loading...
Kata mereka tentang jejakrekam.comhttps://www.youtube.com/watch?v=JMpxvqUGSc4&t=28s