Dirgahayu

PPP Saingi Golkar di Era Orde Baru

SEJAK pemerintahan Orde Baru dengan patronnya Soeharto melakukan penyederhanaan parpol, yang dikenal dengan fusi parpol, sejak itu kita hanya mengenal tiga kontestan pemilu yakni Partai Persatuan Pembangunan (PPP), Golongan Karya (Golkar) dan Partai Demokrasi Indonesia (PDI).

SEMULA pada Pemilu 1971 terdiri 10 parpol; NU, Parmusi, PSII, dan Perti menjadi PPP (Partai Persatuan Pembangunan).  Kemudian PNI, Parkindo, Partai Katolik, IPKI, dan Murba menjadi PDI (Partai Demokrasi Indonesia), dan Golongan Karya (Golkar).

Fusi parpol tersebut kemudian dikukuhkan dalam UU Nomor 3 tahun 1975 tentang Partai Politik dan Golongan Karya.

Jika dilihat pemilu di Kalsel sejak terjadinya fusi parpol, maka persaingan antara PPP dan Golkar sangat ketat, terutama di Pemilu 1977 dan 1982 untuk perebutan kursi DPR RI. Selisih perolehan suara (dan kursi) kedua partai ini relatif sangat tipis.

BACA :  Prahara Partai Ka’bah di Bawah Atap Rumah Besar

Di Pemilu 1977, PPP memperoleh 417.590 suara dan Golkar dengan 419.495 suara sama-sama meraih 5 kursi. Sedangkan PDI tanpa kursi dengan 8.547 suara.

Pemilu 1982, raihan suara PPP sebesar 425.685 dengan 4 kursi, Golkar meraih 637.397 suara dengan 6 kursi, dan PDI nihil tanpa kursi dengan raihan suara sebesar 11.824. PDI di Kalsel baru memperoleh 1 wakilnya ke Senayan di Pemilu 1992.

Di pemilu ini, Golkar masih unggul dengan 7 kursi, diikuti PPP dengan 2 kursi. Di Pemilu 1997 Golkar masih menunjukkan dominasinya dengan meraih 7 kursi, PPP dengan 3 kursi, dan PDI kembali tanpa kursi.

Pemilu 1999 (multipartai) menandai pemilu pertama di era reformasi, Golkar di Kalsel hanya meraih 3 kursi untuk wakilnya ke DPR RI. Diikuti PDI Perjuangan (PDI P) dan PPP masing-masing dengan 2 kursi. Sedangkan PKB, PAN, dan PBB masing-masing 1 kursi.

Di Pemilu 1999 ini, meskipun mengalami penurunan keterwakilan mereka ke Senayan, Golkar masih yang teratas di Kalsel dari sekian banyak partai yang ada. Namun, secara nasional PDI Perjuangan keluar sebagai pemenangnya dengan raihan 153 kursi, posisi kedua Golkar (120 kursi), dan ketiga PPP (58 kursi).

BACA JUGA :  Pemilu di Banjarmasin Tak Ada Juara Bertahan

Dengan melihat hasil pemilu di era Orde Baru di atas, terlihat keberadaan PPP di Kalsel cukup kuat memberikan perlawanan terhadap Golkar yang saat itu identik sebagai partai penguasa.

PDI (P) di Kalsel baru menunjukkan kekuatannya sejak Pemilu 1999. Meski di pemilu ini hanya mampu meraih 2 kursi di DPR RI, tetapi di Kota Banjarmasin keluar sebagai pemenang dengan menggondol 13 kursi, cukup jauh meninggalkan kontestan lainnya.(jejakrekam)

Penulis adalah Aktivis Jaringan Demokrasi Indonesia (JaDI) Kalsel

Mantan Komisioner KPU Barito Kuala