Diawali Orang Bugis, Tajau Kuin Pernah Menembus Pasar Seni Bali

Foto : Didi GS

SIAPA tak kenal dengan tajau Kuin. Bahkan, Pemkot Banjarmasin pun memasang papan nama Kampung Tajau Tradisional di samping Jembatan Suriansyah, dekat Masjid Sultan Suriansyah. Kampung bersejarah yang merupakan cikal bakal Banjarmasin itu seakan mengokohkan identitasnya.

KEHADIRAN tajau atau gentong, atau sebagian menyebut tempayan khas Banjar berbahan semen dan pasir putih ini sudah lama ada di Kelurahan Kuin Utara RT 5, Banjarmasin Utara. Posisinya sangat strategis, diapit Komplek Makam Bangsawan dan Ulama Banjar dan Masjid Sultan Suriansyah.

Terhitung sudah puluhan tahun, tajau menjadi mata pencaharian sebagian masyarakat Kuin Utara di Kampung Tajau. Diakui atau tidak, ternyata kerajinan tajau bukan asli dari buah karya warga Kuin Utara sendiri. Awalnya, mereka meniru seorang Bugis yang tak diingat lagi namanya, membawa kerajinan membuat tajau.

Ceritanya, saat itu, orang Bugis itu bermukim di Kuin Cerucuk, seberang Kuin Utara pada 1940-an. Orang Bugis ini mengolah tajau sembunyi-sembunyi. Tak ada yang bisa meniru apalagi belajar untuk membuat tempat air tradisional itu.

“Waktu itu, orang Bugis itu membuat tajau dalam rumah. Itu menurut cerita orang-orang dulu. Saking rahasianya, waktu itu, orang Kuin hanya bisa mengintip dan belajar sembunyi-sembunyi. Apalagi, saat itu, tajau itu ternyata laris manis dibeli warga sekitar,” kata Yasir, pengrajin tajau generasi kedua bercerita kepada jejakrekam.com, Selasa (19/2/2019).

BACA : Kompleks Makam Sultan Suriansyah di Kuin Utara Tak Pernah Sepi Peziarah

Pria yang kini berusia 54 tahun ini mengakui ada sebagian pengrajin tajau awal belajar kepada orang Bugis tersebut. Namun, ada pula yang menyebut, mereka hanya mereka-reka hingga akhirnya bisa membuat tajau sendiri. “Waktu itu, bentuk tajaunya tidak seperti sekarang. Perut tajau berbentuk bulat dan mulutnya bundar kecil, dulu malah tajau itu bentuknya lonjong,” kata Yasir.

Ia mengingat waktu itu berdasar penuturan orang-orang dulu di Kuin, tajau besar yang dihasilkan orang Bugis dengan ukuran 25 blek. Blek merupakan ukuran tradisional Banjar, jika dikonversikan satu blek itu setara 20 liter atau 10 kilogram.

Kreasi sendiri pun dilakoni generasi awal pengrajin tajau Kuin. Ketika itu, para pengrajin tajau di Kuin Utara tersebar di Gang H Pasi dan Gang Al Aman. Generasi awal pengrajin tajau Kuin seperti almarhum Idris, Rasyidi dan yang lainnya.

“Waktu itu, tajaunya masih kasar tidak sehalus sekarang. Saya sendiri dulu belajar dari generasi awal pembuat tajau Kuin. Ya, ketika semen sudah ada di Banjarmasin. Sedangkan, pasir putihnya didatangkan langsung dari Sungai Tabuk. Dibandingkan pasir sekarang dari Liang Anggang, jauh lebih berkualitas pasir dari Sungai Tabuk,” ucap Yasir.

BACA JUGA :  Banjarmasin Sudah Ada di Abad 7?

Untuk campuran semen dan pasir asal Sungai Tabuk, diakui Yasir justru lebih mudah untuk membuat tajau berkualitas. Bahkan, pasir tercampur kerikil kecil itu malah membuat tajau-tajau Kuin mengkilat dan berkilau, bak gentong penuh ‘permata’. Ketika itu, pasokan pasir asal Sungai Tabuk dibawa pedagang dengan menggunakan jukung memasuki Sungai Kuin. Hingga akhirnya, ketika jalan darat terakses, didatangkan dengan mobil pickup.

“Makanya, waktu itu, kami dapat pesanan dari Bali. Banyak tajau Kuin dikirim ke Bali, terutama tajau-tajau yang berusia tua dan telah berlumut. Pemesan seorang kolektor yang meminta tajau-tajau ‘bahari’ dikirim ke sana. Kira-kira tahun 1990-an lalu,” ucap Yasir.

Kejayaan tajau Kuin kian tahun makin memudar. Ketika saluran air leding tidak merambah pemukiman warga, Yasir mengaku sempat kewalahan memenuhi pesanan tajau. Dulu, Yasir dibantu karyawan bisa membuat tajau dalam seharinya 10 buah.

“Pemesanan pun datang dari semua kampung di Banjarmasin. Sekarang, kami tak bisa lagi membuat tajau banyak-banyak, takut tak laku. Apalagi, pemesan dari Anjir Barito Kuala, sekarang sudah memilik sumur bor. Jadi, tak lagi meminta tajau dikirim ke sana,” kata Yasir.

BACA LAGI :  24 September 1625; Hari Kemenangan Sang Sultan

Peminat tajau Kuin pun hanya datang dari warga yang bermukim di kawasan handil atau saluran air yang jauh dari akses jalan dan fasilitas air minum dari PDAM. “Sekarang ini, bukan hanya masalah modal kerja, pemasaran tajau Kuin juga kian sepi. Makanya, bikin tajau ini hanya kerja musiman,” ucap Yasir.

Dulu, di Kampung Kuin Utara atau Kampung Penajauan, ada sekitar 10 pengrajin tajau yang menggeluti usaha itu. Kini, tersisa hanya dua pengrajin. Yasir sendiri dan keponakannya, Jaimani (29 tahun). Jaimani sendiri mewarisi usaha turun temurun dari sang ayah, almarhum Abdul Muis. Sebagian pengrajin tajau Kuin beralih menjadi buruh bangunan. Yang lain, memilih berhenti membuat tempat air itu.

“Dari cerita ayah saya, pengrajin tajau di Kuin Utara ini sudah ada sebelum Indonesia merdeka. Ya, sekitar tahun 1940-an, ketika itu semen sudah ada di Banjarmasin di zaman Belanda,” ucap Jaimani.

Ketika itu, pesanan tajau datang dari banyak kampung. Menurut Jaimani, dari cerita orangtuanya, tajau Kuin itu banyak dipesan warga yang tinggal di bantaran sungai seperti Kelayan, Pekapuran, Pekauman hingga menembus ke Nagara, Hulu Sungai Selatan (HSS).

“Malah, tajau Kuin itu dijual di Pasar Lima dan Pasar Baru. Banyak tajau Kuin dibawa kapal dagang milik orang Nagara ke segenap kampung, termasuk ke wilayah Kalimantan Tengah,” kata Jaimani.

Hadirnya gentong berbahan plastik yang lebih praktis ditambah tersambungnya jaringan air leding di segenap kampung di Banjarmasin, akhirnya tajau Kuin pun dilupakan. Menurut Jaimani, sekarang para pemesan tajau Kuin datang dari kawasan yang belum tersentuh jaringan air leding seperti Tamban, Anjir, Subarjo dan lainnya di wilayah Kabupaten Barito Utara.

“Memang, tajau Kuin ini paling cocok untuk menampung air sungai. Air sungai akan lebih jernih setelah didiamkan beberapa hari. Kalau sekarang ketika rumah sudah dialiri air leding, pasti tak membutuhkan lagi tajau Kuin,” tutur Jaimani.

Agar mampu bertahan di tengah modernitas masyarakat, Jaimani pun hanya mampu membuat tajau dalam sehari 8 biji. Ukurannya pun lebih mengecil dibanding tajau-tajau era kejayaannya.

“Standarnya, ukuran 7 jerigen ukuran 20 liter atau sekitar 15 ember plastik. Sedangkan, produk lainnya pauduan, atau wadah berwudhu ukuran empat ember,” kata Jaimani.

Untuk memutar modal, ongkos pembuatan satu biji tajau Kuin itu seharga Rp 25 ribu disiasati ketika musim tanam padi telah tiba. Menurut Jaimani, pembuatan tajau itu berhenti sementara saat musim panen telah berakhir pada bulan Oktober, November, Desember dan Januari.

“Baru, bulan Februari atau bulan dua sampai bulan sembilan (September), kami buat tajau. Kalau dikerjakan sepanjang tahun, pasti tak laku dan tajau akhirnya jadi berlumut,” kata Jaimani.

Model pemasaran tajau Kuin agar tetap laku disiasati para pengrajin. Menurut Jaimani, perhitungan harus tepat seperti saat musim tanam di kawasan Anjir, Tamban, Subarjo dan lainnya didatangi langsung. Pola jemput bola dilakoni Jaimani bersama rekannya, datang langsung ke lokasi.

BACA LAGI :  Melacak Istana dan Ibunegeri Sultan Banjar di Tanah Kuin

“Kami biasanya pakai klontok ke Tamban, Anjir dan Subarjo. Alhamdulillah, tajau Kuin tetap laku, walaupun harus diutang. Kalau beli kontan harganya Rp 100 ribu per biji. Karena berutang harganya jadi naik Rp 135 ribu hingga Rp 150 ribu per biji. Bayarnya, saat mereka telah panen padi,” ucap Jaimani.

Ia tak memungkiri tajau Kuin memang tak sepraktis gentong plastik. Cukup berat memang, satu tajau Kuin rata-rata berbobot 25 hingga 30 kilogram. Umur ekonomisnya bertahan hanya lima tahun lebih.

“Alhamdulillah, ternyata tajau Kuin masih ada peminatnya. Walau tajau Kuin tak sekuat tajau dulu yang berbahan pasir dari Sungai Tabuk, toh tajau Kuin jauh lebih aman untuk menampung air sungai, dibandingkan tong plastik,” tutur Jaimani.

Apakah selama ini para pengrajin mendapat suntikan modal dan bantuan untuk memasarkan produk? Jaimani mengungkapkan pernah sekali, namun itu tak berkelanjutan. Akhirnya, Jaimani harus mengeluarkan kocek sendiri, membuat dan memasarkan sendiri produknya.

Bermodal tuangan atau bakalan dari kain belacu tebal, satu sak semen seharga Rp 53 ribu diaduk bersama pasir pendulangan Liang Anggang, bisa menghasilkan 8 biji tajau Kuin. Sebelumnya mengolah tajau, Jaimani bersama satu karyawannya, terlebih dulu memuat serbuk kayu untuk bakalan tajau. Dipadatkan hingga membentuk tajau bulat, baru dioleskan semen bercampur pasir perlahan-lahan.

“Ya, dalam setahun, paling laku seribu, minimal 500 biji. Dulu, saat kejayaan, tajau Kuin ini bisa laku 10 ribu biji dalam setahun,” katanya.

Jaimani pun menyadari saat ini tajau Kuin hanya menembus pasar pinggiran kampung, tak ada pesanan dari dalam kota Banjarmasin yang telah tersentuh aliran air leding PDAM Bandarmasih.

Seperti apa yang dirasakan sang paman, Yasir. Jaimani pun mengakui pemasaran tajau Kuin tak secerah era pengrajin awal yang membuat tajau begitu banyak dan berkualitas. Terbukti, tumpukan tajau Kuin begitu banyak berada di sebuah rumah tua di kampung bersejarah itu.

Yasir dan Jaimani adalah generasi pengrajin tajau Kuin yang tersisa. Ketika disinggsung sampai akan melakoni tajau Kuin? Baik Yasir maupun Jaimani hanya menyerahkan kepada waktu yang akan menjawabnya.

BACA LAGI :  Jadi Bandar, Umur Pasar Terapung Muara Kuin Setua Kesultanan Banjar

“Entahlah, sampai kapan kami akan mengakhiri membuat tajau Kuin. Ya, mungkin sampai orang tak lagi membeli produk kami. Tapi, soal waktu itu, kami tak tahu. Kami hanya bisa pasrah dengan keadaan ini,” pungkas Jaimani, menghela nafas panjang.

Pernah ditawari untuk membuat tajau bermotif layaknya produk gerabah, Yasir maupun Jaimani mengatakan hal itu tak bisa diterapkan di tajau Kuin, karena berbahan utama semen dan pasir. Berbeda dengan berbahan tanah liat, karena ketika dibuat semen cepat mengeras dan sulit dibentuk menjadi benda seni.

“Beda kalau dicat bermotif sasirangan, mungkin itu bisa. Tapi, buat apa, kalau tak ada yang mau beli juga?” sahut Yasir, yang sudah puluhan tahun menggeluti warisan budaya warga Kuin Utara ini.(jejakrekam)

 

Penulis Didi GS
Editor Didi G Sanusi